Monday, July 12, 2010

Twilight Saga : Eclipse

Hari Sabtu kemaren saya menonton film ini. Hmmm... bisa dibilang Eclipse ini jauh lebih seru ketimbang dua film sebelumnya. Apalagi New Moon yang saya anggap seperti nonton Bella yang dalam masa labil karena kerjaannya cuma menghayal, jerit-jerit, nangis kayak besok mau mati aja :D

Tahun lalu, saya menonton film Twilight sebelum memutuskan membaca bukunya. Gara-gara hubby bilang dia punya film baru di komputernya. " Pasti kamu suka deh ". Gak taunya Twilight. Saya nonton cerita soal si vampir tampan ini. Setelah itu? saya beli bukunya semua dan saya tuntaskan membacanya dalam waktu 2 bulan lebih sebagai teman perjalanan saya dikereta tiap hari.

Saat New Moon mulai diputar, saya ga bela-belain nonton. Kalau keburu nonton OK, kalo ga keburu gak apa-apa. Lalu Eclipse datang....

Sejak awal Eclipse mulai diputar dibioskop-bioskop Jakarta, saya mengajak hubby nonton. OK.... hubby nolak!!! Tanpa tedeng aling-aling dia langsung bilang " ENGGA MAU ". Tapi saya tetap maksa hihihi...

Tau-tau pertengahan minggu lalu dia mendadak mau. Malah dia sering minta saya ngecek di Bintaro Plaza udah main belum??? Dan kenyataannya sampe weekend kemarin Bintaro Plaza 21 belum main juga itu film Eclipse. Masih kalah pamornya sama film Pocong Keliling rupanya :))

Weekend kemaren hubby ngajak saya nonton di Pondok Indah Mall. Saya sampai terkejut-kejut ga nyangka. Ada apa dengan si hubby yaaa....
Jam 1 siang kami berangkat ke PI Mall. Lalu membeli tiket jam 16.35 karena pertunjukkan jam 14.10 udah mulai berjalan.

Saat nonton saya perhatiin si hubby banyak senyum-senyum atau cekikikan sendiri. Kalau ngeliat si Jacob yang lebih sering topless hilir mudik kesana-kemari disepanjang film. Pertikaian antara Edward dan Jacob yang makin seru. Hmmmm.....

Selesai nonton waktu kita makan, saya tanya sama hubby. Kenapa dia mau saya ajak nonton?? Jawabannya sederhana. Hubby saya kepincut nonton Eclipse karena membaca sinopsisnya di majalah Tempo. Leila S Chudori menulis sinopsis dengan sangat lucu dan menarik sehingga membuat hubby saya penasaran ingin menontonnya. Seperti apa sih dadanya Jacob yang katanya six pack seperti parutan keju?? atau apa benar kata-kata Edward kepada Bella sewaktu mereka bertemu Jacob dan Edward berkata " dia ga pakai baju? " :))
Hubby saya senyam-senyum melihat Jacob yang hilir mudik hanya dengan celana pendek saja memamerkan dada parutan kejunya bahkan hingga dipuncak gunung bersalju sekalipun. Pantesaaaaaaannn......

Jadi siapapun yang hendak memaksa pacar/suami kalian nonton Eclipse tapi ditolak. Sodorin aja majalah Tempo tersebut dan minta pasangan kalian membaca sinopsisnya, mungkin bisa bikin mereka penasaran untuk menonton film tersebut juga :D

Friday, July 2, 2010

Persaingan

Suka sadar ga sih kalau dari kecil kita udah hidup dalam persaingan?
Waktu kita baru lahir, sudah ada persaingan. " Kok bayinya kecil amat sih bayi saya beratnya normal tuh? " atau " Itu bayinya gede amat? masak baru lahir udah obesitas? pasti ibunya diabetes deh ".

Waktu kita mulai besar, urusan gigi yang terlambat tumbuh atau soal telat belajar jalan aja jadi obyek persaingan. " Kok udah umur segitu masih belum bisa jalan? anak saya cepet loooh... sekarang malah udah bisa lari ". Trus soal minum susu dibotol, soal makanan, soal tidur siang. Itu belum dalam masa sekolah loh.

Dalam masa sekolah, persaingan menjadi lebih kejam lagi. Dari urusan pelajaran, nilai ulangan, bikin PR, nilai raport, kerapihan buku catatan atau urusan diluar urusan sekolah tersebut seperti sepatu bermerk, tas sekolah, masa liburan, uang jajan dan hal-hal lainnya. Kalau dulu persaingan hanya milik orang tua atau keluarga saja. Dimasa sekolah ini persaingan menjadi 'hak' semua orang. Sebut aja, teman, orang tua, orang tua teman bahkan guru. Semua orang boleh menjadi hakim, atau juri dalam lomba persaingan ini. Tanpa kita sadari kita pernah menjadi bagian dari persaingan itu sendiri.

Masuk dunia kerja persaingan akan lebih dahsyat lagi. Kadang-kadang malah bisa menelan korban. Menjilat, dijilat, memfitnah menjadi asesoris utama dalam persaingan ini. Korban yang jatuh beraneka ragam. Dari yang cuma diam saja sampe ada yang memutuskan keluar dari pekerjaannya akibat engga tahan berada dalam lingkungan tersebut.

Persaingan memang hal lumrah yang terjadi didunia ini. Namanya juga orang hidup pasti ada persaingan. Ada yang bilang juga kalau persaingan membuat kita fokus dalam menjalani hidup, ini buat persaingan positif yaaa.... misalnya kita fokus mau meraih juara kelas disemester ini. Pastinya kita akan belajar mati-matian untuk meraihnya. Fokus mau meraih gelar pegawai teladan, pasti kita akan kerja mati-matian untuk meraihnya.

Tapi pernah tahu ga kalau persaingan itu bisa melahirkan trauma? apalagi buat para anak yang sejak kecil sudah dibanding-bandingkan dengan anak lain? Misalnya gini :

Waktu kecil misalnya dia susah makan, disuruh makan aja sampe setengah mati nyuruhnya :
" kamu gimana sih? disuruh makan aja susah. Liat tuh si Anu pinter. Makannya gampang, makan sayurnya banyak, makanya dia jadi pinter ".

Lalu si anak ga bisa naik sepeda :
" Masak naik sepeda aja ga bisa sih? si Anu tuh udah pinter naik sepeda. Makanya kamu makan yang banyak biar pinter naik sepeda "

Trus si anak ga bisa berhitung :
" Masak kamu ga bisa menghitung perkalian 1 sampai 10 sih? tuh si Anu udah bisa sampai perkalian 12. Kamu naik sepeda aja ga bisa, apa lagi ngitung perkalian "

Terus berlanjut hingga dewasa, saat si anak cuma masuk kuliah dengan jurusan yang standar.
" Tau ga, si Anu kuliahnya udah jurusan Teknik Fisika, udah selesai S2nya. Sekarang dia lagi ngambil S3. Trus sekarang aja di udah diminta banyak perusahaan top lho. Gak kayak kamu kuliahnya begitu-begitu aja ".

Pernah ngerasa ga kalo ada yang tertekan disini? Sadar ga kalau persaingan tersebut bisa menimbulkan trauma? Saya juga baru tahu ini setelah saya membaca sebuah artikel tentang persaingan ini. Saya jadi sadar kadangkala saya melakukan itu pada keponakan saya atau siapapun mereka. Susah makan, susah minum susu, susah tidur siang, gak mau belajar, maunya main PS terus pasti saya bilang itu. Duh jadi ngerasa bersalah.

Jadi para orang tua, calon orang tua dan siapapun yang membaca ini. Berilah nasehat yang baik pada anak dan jangan sampai menimbulkan trauma pada mereka dikemudian hari :)

Thursday, July 1, 2010

Males apa emang ga bisa???

Saya sebal sama orang yang belum apa-apa udah bilang " ga bisa!! " atau begitu ditawarin kerjaan sesuatu langsung bilang " males!! ". Gemes banget rasanya.
Beberapa hari belakangan ini saya sering berhadapan dengan orang-orang macam begini.

Dasarnya saya berusaha ringan tangan membantu. Tapi kok yang dibantu malah keenakan ya? ibaratnya dikasih hati minta jantung. Ditolong abis-abisan malah memanfaatkan keadaannya.

Ga bisa sama males cuma dibatasi niat. Walopun ga bisa tapi niatnya masih mau belajar, suatu hari pasti bisa. Gak mungkin dong kita ga bisa terus, masak ga ada perubahan? Suatu hari pasti bisa, dan saya yakin itu.
Kalau males, ini udah berat banget. Saya juga udah ga mau ngapa-ngapain kalo rasa males udah menyerang semua pembuluh darah saya. Maunya tiduran aja ditempat tidur ditemani AC yang dingin dan remote TV. Mau makan aja males. Untung Tuhan masih menciptakan rasa lapar sehingga mau gak mau saya terpaksa mengangkat badan saya dari tempat tidur dan mencari makanan kedapur. Coba kalo engga? bisa-bisa saya seharian aja di tempat tidur.

Nah balik lagi kemasalah saya saat ini, saya memberikan bantuan kepada seseorang. Awalnya dia memang minta dibantu, maka saya bantu dia. Tapi kok lama-lama jadi saya yang sibuk ya? sementara dia? asyik-asyik aja ngurusin urusannya yang ga berhubungan dengan sesuatu yang kita sedang kerjakan berdua. Huh! saya jadi sebal!

Lalu pelan-pelan saya bertanya pada dia, dan mulai memberitahunya apa-apa yang sudah saya kerjakan. Maksudnya biar dia juga tahu apa yang sudah saya kerjakan dan dia jangan cuma diam saja.

Tapi jawaban yang saya terima " ah, elu aja deh. GUE GA BISA ". Lalu kembali saya memberitahunya pelan-pelan. Kalau dia ga bisa, saya akan membantunya. Membuat tulisannya, mengirim ke emailnya, sehingga tulisannya tersebut hanya tinggal dia copy-paste saja. Tapi jawaban yang saya terima dari dia, " gak mau ah, GUE MALES!! ".
AHA!! Jadi judulnya dia MALES dan bukan GAK BISA.

Memang sih, gak bisa dan males hanya dibatasi oleh sebuah garis tipis bernama niat. Sekarang pilihannya, kamu itu gak bisa atau memang malas??


Tuesday, June 22, 2010

Happy Birthday to me :)

Ga terasa kemarin tanggal 21 Juni lagi. Dua tahun ini adalah ultah saya yang paling menyenangkan karena saya merayakannya dengan teman-teman. Tahun lalu masih ada tiup lilinnya di Urban Kitchen Sency. Tahun ini tanpa kue dan lilin. Tapi saya kembali berada diantara mereka, teman-teman saya semasa kuliah dulu.

Tanggal 20 Juni saya membaca twitter dan mendapatkan berita gembira dari twitter. Lalu tanggal 21 Juni saya bertemu dengan teman lama di kereta dan dia adalah orang kedua yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya setelah hubby.

Setelah itu semuanya berjalan seru. Boss saya, teman-teman dikantor, ucapan selamat via FB, YM, BBM, Twitter berlangsung sahut-sahutan. Bisa dibilang tanggal 21 Juni kemarin Blackberry saya harus terpaksa saya silent karena bunyi terus. Tring... tring... tring...

Sorenya saya kembali bertemu dengan teman-teman ex UI di Plaza Semanggi. Ketemu Shinta yang sekarang tinggal di Bali dan sudah berubah menjadi lebih coklat kulitnya dibanding masa kuliah dulu. Analila, Joy, Ira serta Boy yang sekarang menjadi tetangga komplek saya.
Semuanya berlangsung seru hingga larut malam. Tertawa, gossip, saling mencela semua ada.

Terima kasih Tuhan untuk hari ulang tahun yang seru untuk saya :)
Terima kasih untuk teman-teman yang baik, perhatian dan seru :)
Terima kasih untuk hubby yang rela mengalah semalam agar supaya saya bergembira dengan teman-teman saya :)

Friday, June 11, 2010

Another reuni lagi....

Facebook benar-benar membantu mengikat kembali tali silaturahmi yang terputus. Karena saya reuni lagi, kali ini dengan teman-teman SMP.
Berlokasi di Planet Hollywood Jakarta, tanggal 6 Juni kemarin. Saya yang amnesia mendadak dengan teman-teman SMP berusaha mengingat-ingat kembali mereka. Hmmm....
Lumayan butuh waktu juga, maklum sudah 21 tahun yang lalu saya tinggalkan bangku SMP, wajar kalau lupa :D

Sekali lagi terima kasih Facebook, akhirnya saya bisa reuni lagi dengan teman-teman yang sempat terputus hubungannya semenjak kami lulus SMP 21 tahun yang lalu!!

Friday, June 4, 2010

sebuah cerita

Saya suka bercerita dan mendengarkan cerita. Waktu saya bertemu dengan teman saya si Antisocial di Citos hari Jumat minggu lalu, saya mendapat sebuah cerita dari dia. A simple nice story. Tentang arti sebuah kata maaf dan memaafkan.
Dia tahu, saya sering beraaaattt memaafkan seseorang. Tapi ceritanya dia benar-benar menggugah saya. Intinya, apapun yang terjadi kita harus bisa memaafkan seseorang sebesar apapun salahnya. Memaafkan secara tulus dari dalam hati. Karena selalu ada rahasia tersembunyi dari Tuhan dibalik maaf tulus kita pada seseorang.

Teman saya memiliki dendam pada seseorang. Bertahun-tahun dendam tersebut bersemayam dihatinya. Berat baginya memaafkan orang tersebut. Berat banget.
Lalu dia mulai melakukan banyak hal dalam hidupnya. Bekerja dan bekerja. Menyenangkan hatinya dan keluarganya. Lalu dia lupa pada dendamnya.

" Kerja keras membuat gue lupa pada dendam gue "
" Lu udah memaafkan dia? "
" Udah "
" Tulus? "
" Tulus banget "

Dia memaafkan dengan tulus delapan tahun setelah masalah tersebut terjadi. Butuh waktu, yang penting maafnya tulus. Empat belas tahun setelah masalah tersebut berlalu ada yang mengingatkannya lagi. Tapi dia bilang, dia sudah memaafkannya. Tulus dari lubuk hati yang paling dalam. Lalu ia mendapat berkah yang besar yang tidak dia sangka-sangka. " Mungkin Tuhan tahu, gue udah memaafkannya dan Tuhan memberi gue berkah ini ".

Hanya dengan sepotong maaf yang selalu sulit saya dan (mungkin kita semua) ucapkan...
Saya jadi mengingat-ingat, kapan saya tulus memaafkan seseorang ya?

Thursday, June 3, 2010

Antisocial

Salah seorang teman perempuan saya mengaku dirinya Anti Social. Memang orangnya rada aneh. Facebooknya dibatasi hanya orang-orang yang menurutnya dekat dengannya saja. Mau teman jaman SD, SMP hingga kuliah yang dulu pernah bersekolah bersamanya belum tentu diapprovenya kalau meng-addnya sebagai teman. Lucunya, saya malah akrab banget dengan dia dan menurut saya, dia orang yang hangat dan jauh dari istilah Anti Social yang selalu dia labelkan ke dirinya sendiri.

Kami bertemu dan makan dimsum di Citos. Lalu seperti jaman dulu semasa kuliah, semua cerita mengalir dari mulut kami berdua. " Kita ini bagai Yin dan Yang, makanya cocok banget " demikian salah satu kata-katanya. Entah kenapa saya tidak merasa dia antisocial tapi saya merasa dia justru sebaliknya. Apa karena saya sedemikian akrab dengannya??

Berbagai cerita mengalir dari mulut kami berdua. Saya akui, saya si extrovert dan dia si introvert membuat kami sangat cocok satu dengan yang lain. Berbagai keanehan yang saya rasakan dengan sifat antisocialnya hilang saat kami bertemu, menikmati dimsum dan saling bercerita hingga tertawa. Seperti masa dulu, saat kami masih duduk dibangku kuliah.

" You're not antisocial, you are a nice person "
" Gue antisosial, elu juga tau "
" Iya, tapi gue ga ngerasain loh. Bener deh "

Lalu kembali kami saling bercerita, tertawa dan mengulang memori indah saat kuliah dulu. Sayang semua dibatasi waktu.

" Next time kita ketemuannya harus lebih lama ya. Janji ya!! "
" OK "
" BTW, gimana ya, si XX ga sengaja gue approve di FB gue. Pengen gue delete deh "
" Loh dia kan temen kita juga "
" Tapi kan gue ga DEKAT sama dia, dan gue ngerasa dia ga sedeket gue seperti dengan elu. Delete aja ya? "
" Terserah deh "

Sampe ketemu bulan Juli nanti ya....