Weekend kemarin saya mendapat kesempatan makan siang dengan Mr. Thanatip Upatising yang merupakan duta besar Thailand untuk Indonesia. Mr. Upatising menjabat sebagai duta besar di Indonesia sejak Maret 2010. Beliau berasal dari Phuket dan sempat mengenyam pendidikan di Australia.
Banyak hal yang saya dapat dari acara tersebut. Salah satunya adalah bagaimana Thailand sudah berniat memajukan dunia pariwisatanya sejak tahun 1980. Dan tiap tahun Thailand selalu menaikkan jumlah wisatawan yang masuk dengan cara memelihara hingga menambah fasilitas pariwisata mereka.
Saya sih ga kaget dengan cerita pak Dubes ini karena saya udah ngalamin sendiri bagaimana berwisata di Thailand. Saya kagum dengan Thailand yang benar-benar memelihara situs sejarah mereka. Kuil-kuil, istana raja semua terpelihara rapih. Mereka juga bertindak tegas dengan melarang para wisatawan mengambil foto diwilayah yang dinilai bersejarah dan sakral. Bahkan tidak segan-segan melarang para wisatawan masuk ke wilayah yang dihormati apabila para wisatawan tersebut tidak memakai pakaian yang pantas (celana pendek atau baju tanpa lengan).
Pak Dubes juga menawarkan kepada kami apabila ingin berlibur ke Thailand sambil melakukan perawatan diri. Karena Thailand sedang berusaha menarik wisatawan hingga menawarkan paket-paket kesehatan sehingga para warga Asia Tenggara yang ingin berobat tidak melulu pergi ke Singapura saja, tetapi juga bisa pergi ke Thailand karena mereka sedang mengembangkan rumah sakit-rumah sakit bertaraf internasional yang canggih.
Ibaratnya kalau mau berlibur ke Thailand selain menikmati pemandangannya misalnya ke Phuket, Phi Phi Island atau Krabi. Mau wisata kuliner, mau ke situs bersejarahnya (kuil, istana), hingga berkunjung ke Thailand dalam rangka perawatan diri hingga berobat, Thailand juga bisa dijadikan surga berbelanja.
Terus terang saya kagum dengan kehebatan Thailand, walaupun luasnya hanya 1/4 dari wilayah Indonesia dan dinilai sebagai kota no. 4 termahal di Asia Tenggara (sementara Indonesia berada di urutan ke-2 setelah Singapura). Thailand sedang berbenah diri menjadi salah satu negara yang kini sedang berkembang di wilayah Asia Tenggara.
Saya berharap, Indonesia bisa seperti Thailand dan menjadi surga bagi para wisatawan yang datang berkunjung ke sini.
Monday, July 18, 2011
Thursday, July 14, 2011
Bitchy
Semalam saat saya sedang asyik-asyik nonton Dog Whisperer di Natgeo. BB saya ternyata di ping!! ping!! seorang teman. Tetapi berhubung saya sedang terbiasa mematikan ringer BB saya (percaya deh, mematikan ringer BB baik buat kesehatan jiwa dan telinga hihihi) baru sekitar jam 21.30 saya ngecek BB saya dan melihat bahwa teman saya sudah kehabisan akal memanggil saya. Total ping!!nya hampir 20x belum lagi sahutannya dari yang cuma Tan.... lalu Taan..... dan terakhir INTAAAAAAAANNNNN.....!!!!!!!!!! huruf gede semua!!!
Intinya teman saya cuma pengen curhat soal ex sahabatnya. Kenapa ex? karena persahabatan mereka merenggang seiring dengan perjalanan waktu. Teman saya menikah sementara si sahabat memilih melajang atau mungkin belum ketemu jodohnya.
Waktu saya reply BBMnya dia, tau-tau muncul pertanyaan di layar BB saya " emang kalo cewe ga nikah-nikah sampe tua bakalan jadi bitchy ya?? " HEEEEHHH???
Terus terang saya punya banyak banget teman yang masih melajang diusia yang sudah diatas 30 bahkan ada yang lewat 40. Buat saya sih, itu bukan urusan saya. Itu urusan mereka dan Tuhan. Tapi kalau bitchy???
Teman saya yang belum menikah dan sudah lewat usia 35 - 45 ada beberapa. Tapi banyak kok yang baik, malah cenderung ngemong kalau menurut saya. Seperti mbak N yang sudah saya kenal hampir 12 tahun ini. Diusianya yang hampir 46 tahun dia belum menikah juga, alasannya belum ketemu jodoh yang pas. Tapi baiknya??? Baiiiiiiiiiiiiiiikkkk banget!! Kalau saya panggil di BBM " Kakaaaaakkkkk!!! " pasti langsung dijawab, " kenapa? lagi butuh apa? kamu ga apa2 kan? ". Kalo curhat sama dia, she's a good listener. Curhat soal ini itu, paling mantep sama dia. Apalagi kalau udah ngajakin me-time bareng. Ngopi, shopping haduh enaknya setengah mati pokoknya. Kaya ga ada gap bahwa usia kami terpaut lumayan jauh.
Trus ada juga mbak W, dia juga baik banget. Sukses dalam bekerja ternyata ada pengorbanannya. Dia sibuk mengejar karir dan baru tersentak sadar bahwa dia harus menikah diusia 39 tahun. Tapi tetap aja si mbak W ini, karirnya maju terus. Dia juga baik banget kalo kita datang berkunjung ke apartemennya. Semua ditawarin saya dia " ini ada coklat, eh kamu mau makan?? tapi aku belum masak, kita order KFC aja yaaa.... ntar sorean aku bikinin kopi ya, kemaren aku baru dapat kiriman kopi Toraja dari anak buahku di lapangan... blablablabla.... " Pokoknya kalo berkunjung ke apartemennya mbak W pasti pulang dengan perut kenyang banget!
Gak seperti mbak N yang lebih cuek ngomongin soal kenapa dia belum nikah-nikah, mbak W agak sedikit tertutup. Tapi keduanya selalu yakin bahwa Tuhan udah menyiapkan jodoh buat mereka, cuma belum nemu aja... Intinya mereka sih menjalani hidup mereka sekarang dengan gembira. Mbak N bilang " ngurusin kamu aja udah bikin aku senewen " hihihihi... soalnya saya seriiiiiiiing banget gangguin mbak N ini. Dan mbak N ini sempat nyaris pingsan berdiri waktu mendadak saya muncul ke hadapannya dan bilang " mbak, aku mau pisah sama suamiku, cariin pengacara dong!!! " waktu saya habis berantem hebat dengan suami saya :))
Sementara mbak W? dia punya keluarga yang besar.... keponakan seabrek-abrek dan menurut dia udah cukup menyibukkan dirinya.
Tapi ada juga teman saya yang bitchy... saya aja sempat kesal sama dia. Entah apa sebabnya dia selalu melihat pria yang berusaha mendekatinya dari sisi negatifnya dulu. Pernah saya ngobrol sama dia dan bertanya soal cowo yang lagi deketin dia jawabannya " huh, cowo itu brengsek dia ga tepat janji.... " cuma karena si cowo telat 1/2 jam dari jadwal apel malam minggu. Atau bertemu dengan cowo yang punya teman banyak, pasti dianggap bisa menelantarkan kelularganya dan hanya sibuk bermain dengan teman-temannya.
Sampai suatu ketika ada statementnya yang cukup mengejutkan saya " pokoknya gue ga percaya ada cowo yang baik!! semua cowo brengsek semua!! " HUAAAAAA..... saya jelas-jelas tersinggung dong, soalnya suami saya kan baik banget dengan segala kelebihan dan kekurangannya dia. Kalau suami saya brengsek, dari awal saya ga akan mau nikahin dia pastinya!!!
Balik lagi ke teman saya, si ex sahabatnya ini kalau saya tilik memang memiliki sikap yang ajaib. Suka-suka dia aja maunya. Sementara teman saya terbentur dengan tugas dan kapasitasnya sebagai seorang istri dan seorang ibu. Dengan susah payah saya berusaha menjadi teman yang baik buat dia, walaupun saya sendiri belum pernah bertemu dengan ex sahabatnya. Setelah puas curhat di BBM dan waktu hampir menunjukkan pukul 23.20 dimana besok saya masih harus bekerja, chatting kita akhiri.
Tapi diakhir chatting, teman saya sempat menulis " kok gue ngerasa dia bukan seperti sahabat gue yang dulu ya? kelakuannya sekarang lebih mirip kaya supir bis di kampung rambutan. Kasar dan seenak-enak maunya dia aja "
Intinya teman saya cuma pengen curhat soal ex sahabatnya. Kenapa ex? karena persahabatan mereka merenggang seiring dengan perjalanan waktu. Teman saya menikah sementara si sahabat memilih melajang atau mungkin belum ketemu jodohnya.
Waktu saya reply BBMnya dia, tau-tau muncul pertanyaan di layar BB saya " emang kalo cewe ga nikah-nikah sampe tua bakalan jadi bitchy ya?? " HEEEEHHH???
Terus terang saya punya banyak banget teman yang masih melajang diusia yang sudah diatas 30 bahkan ada yang lewat 40. Buat saya sih, itu bukan urusan saya. Itu urusan mereka dan Tuhan. Tapi kalau bitchy???
Teman saya yang belum menikah dan sudah lewat usia 35 - 45 ada beberapa. Tapi banyak kok yang baik, malah cenderung ngemong kalau menurut saya. Seperti mbak N yang sudah saya kenal hampir 12 tahun ini. Diusianya yang hampir 46 tahun dia belum menikah juga, alasannya belum ketemu jodoh yang pas. Tapi baiknya??? Baiiiiiiiiiiiiiiikkkk banget!! Kalau saya panggil di BBM " Kakaaaaakkkkk!!! " pasti langsung dijawab, " kenapa? lagi butuh apa? kamu ga apa2 kan? ". Kalo curhat sama dia, she's a good listener. Curhat soal ini itu, paling mantep sama dia. Apalagi kalau udah ngajakin me-time bareng. Ngopi, shopping haduh enaknya setengah mati pokoknya. Kaya ga ada gap bahwa usia kami terpaut lumayan jauh.
Trus ada juga mbak W, dia juga baik banget. Sukses dalam bekerja ternyata ada pengorbanannya. Dia sibuk mengejar karir dan baru tersentak sadar bahwa dia harus menikah diusia 39 tahun. Tapi tetap aja si mbak W ini, karirnya maju terus. Dia juga baik banget kalo kita datang berkunjung ke apartemennya. Semua ditawarin saya dia " ini ada coklat, eh kamu mau makan?? tapi aku belum masak, kita order KFC aja yaaa.... ntar sorean aku bikinin kopi ya, kemaren aku baru dapat kiriman kopi Toraja dari anak buahku di lapangan... blablablabla.... " Pokoknya kalo berkunjung ke apartemennya mbak W pasti pulang dengan perut kenyang banget!
Gak seperti mbak N yang lebih cuek ngomongin soal kenapa dia belum nikah-nikah, mbak W agak sedikit tertutup. Tapi keduanya selalu yakin bahwa Tuhan udah menyiapkan jodoh buat mereka, cuma belum nemu aja... Intinya mereka sih menjalani hidup mereka sekarang dengan gembira. Mbak N bilang " ngurusin kamu aja udah bikin aku senewen " hihihihi... soalnya saya seriiiiiiiing banget gangguin mbak N ini. Dan mbak N ini sempat nyaris pingsan berdiri waktu mendadak saya muncul ke hadapannya dan bilang " mbak, aku mau pisah sama suamiku, cariin pengacara dong!!! " waktu saya habis berantem hebat dengan suami saya :))
Sementara mbak W? dia punya keluarga yang besar.... keponakan seabrek-abrek dan menurut dia udah cukup menyibukkan dirinya.
Tapi ada juga teman saya yang bitchy... saya aja sempat kesal sama dia. Entah apa sebabnya dia selalu melihat pria yang berusaha mendekatinya dari sisi negatifnya dulu. Pernah saya ngobrol sama dia dan bertanya soal cowo yang lagi deketin dia jawabannya " huh, cowo itu brengsek dia ga tepat janji.... " cuma karena si cowo telat 1/2 jam dari jadwal apel malam minggu. Atau bertemu dengan cowo yang punya teman banyak, pasti dianggap bisa menelantarkan kelularganya dan hanya sibuk bermain dengan teman-temannya.
Sampai suatu ketika ada statementnya yang cukup mengejutkan saya " pokoknya gue ga percaya ada cowo yang baik!! semua cowo brengsek semua!! " HUAAAAAA..... saya jelas-jelas tersinggung dong, soalnya suami saya kan baik banget dengan segala kelebihan dan kekurangannya dia. Kalau suami saya brengsek, dari awal saya ga akan mau nikahin dia pastinya!!!
Balik lagi ke teman saya, si ex sahabatnya ini kalau saya tilik memang memiliki sikap yang ajaib. Suka-suka dia aja maunya. Sementara teman saya terbentur dengan tugas dan kapasitasnya sebagai seorang istri dan seorang ibu. Dengan susah payah saya berusaha menjadi teman yang baik buat dia, walaupun saya sendiri belum pernah bertemu dengan ex sahabatnya. Setelah puas curhat di BBM dan waktu hampir menunjukkan pukul 23.20 dimana besok saya masih harus bekerja, chatting kita akhiri.
Tapi diakhir chatting, teman saya sempat menulis " kok gue ngerasa dia bukan seperti sahabat gue yang dulu ya? kelakuannya sekarang lebih mirip kaya supir bis di kampung rambutan. Kasar dan seenak-enak maunya dia aja "
Wednesday, July 13, 2011
Kemana harus mengadu???
Tiap pagi rutinitas saya sebelum berangkat ke kantor adalah nonton TV sambil sarapan. Saya addict banget sama TV dan bersyukur hidup dimasa sekarang dengan channel TV yang beraneka ragam. Tetapi sebagai 'pelengkap' saya nonton berita lokal di TV selain nonton serial-serial favorit saya macam NCIS, White Collar, CSI atau reality show macam Dog Whisperer, Kimora : Life in a Fabe Lane (iya bener saya nonton ini juga kok!!!) hingga channel memasak macam Farah Quinn sampai Nigella Lawson, Masterchef Australia atau acara Traveller yang diputar di Discovery Adventure.
Judulnya berita lokal hanya sebagai pelengkap acara tontonan saya saja :D
Nah ceritanya saya biasain dong nonton berita pagi sambil sarapan trus diskusi meja makan sama hubby.
Tapi akhir-akhir ini berita di TV lokal bikin kepala saya semakin pusing. Ribut-ribut partailah, Nazaruddin yang kaburlah (tapi bisa BBM-an dan SMS-an sama teman-temannya), korupsi disana-sini.... Haduuuh para wakil rakyat yang terhormat yang bertahta di Senayan sana justru saling tuding temannya masing-masing terkait dengan masalah ini-itu.
Maaf kalau saya salah, saya memang buta hukum dan politik. Tapi bukannya waktu saya ikut Pemilu kemarin, kita memilih wakil rakyat yang baik? memilih orang-orang yang seharusnya bisa kita percaya hati nuraninya membela kita sebagai rakyat???
Betapa 'panas'nya kursi-kursi di gedung perwakilan rakyat di Senayan sana sehingga bisa merubah hati seseorang yang sewaktu masa kampanye dulu (sepertinya) baik menjadi seorang yang seperti tidak punya hati.
Kalau sudah seperti ini? kemana kita harus mengadu ya??? Jadi ingat nasibnya Prita Mulyasari yang katanya seudah batal tau-tau dinyatakan bersalah kembali *nunduk*
Judulnya berita lokal hanya sebagai pelengkap acara tontonan saya saja :D
Nah ceritanya saya biasain dong nonton berita pagi sambil sarapan trus diskusi meja makan sama hubby.
Tapi akhir-akhir ini berita di TV lokal bikin kepala saya semakin pusing. Ribut-ribut partailah, Nazaruddin yang kaburlah (tapi bisa BBM-an dan SMS-an sama teman-temannya), korupsi disana-sini.... Haduuuh para wakil rakyat yang terhormat yang bertahta di Senayan sana justru saling tuding temannya masing-masing terkait dengan masalah ini-itu.
Maaf kalau saya salah, saya memang buta hukum dan politik. Tapi bukannya waktu saya ikut Pemilu kemarin, kita memilih wakil rakyat yang baik? memilih orang-orang yang seharusnya bisa kita percaya hati nuraninya membela kita sebagai rakyat???
Betapa 'panas'nya kursi-kursi di gedung perwakilan rakyat di Senayan sana sehingga bisa merubah hati seseorang yang sewaktu masa kampanye dulu (sepertinya) baik menjadi seorang yang seperti tidak punya hati.
Kalau sudah seperti ini? kemana kita harus mengadu ya??? Jadi ingat nasibnya Prita Mulyasari yang katanya seudah batal tau-tau dinyatakan bersalah kembali *nunduk*
Friday, June 17, 2011
Farmville
Kapan ya waktu itu pas saya lagi enak-enak panen Farmville saya mikir gini " gila ya, ini mainan belum bikin saya bosen loh. Padahal udah ampir 2 tahun saya mainin ". Saya inget pertama kali saya berkenalan dengan Farmville waktu bulan puasa 2009 sebagai mainan dikala istirahat makan siang. Sampai sekarang udah ampir 2 tahun saya mainin. Pernah bosan beberapa bulan, trus balik mainan lagi.
Makin tinggi peringkat saya malah makin susah berentinya. Pengen tahu, di peringkat berapa ya saya bisa nyelesein semua tanaman saya. Yang main Farmville pasti tau kalo ada "mastery' dari tiap tumbuhan yang kita tanam. Kalau saya sendiri udah banyak tanaman yang udah mastered. Makanya makin penasaran aja. Kapan sih abisnya??? soalnya sering banget mendadak ada tanaman baru muncul. Gemes deh.
Terus terang selain curhat ke Allah, Farmville juga bikin saya tenang. Kalau udah main Farmville saya bisa tenang berjam-jam ngurusin 'ladang' saya. Makanya suami saya ga pernah marah kalau saya main Farmville. Katanya daripada saya rewel, mendingan sanaaaahhh.... main Farmville!!!! Hihihihi....
Disaat sekarang ini, banyak masalah datang dan pergi. Farmville membantu saya menenangkan jiwa. Jadi kalau udah puas-puasin curhat ke Allah sampe nangis-nangis. Trus abis itu main Farmville, dijamin deh. Yang tadi abis nangis sesungukan, sampe bengek saya kumat lagi. Langsung deh ceria lagi. Trus mikir, hmmm..... nanem apa lagi yaaaa??? Kadangkala mikirnya sampe, hmmm.... besok saya ga kemana-mana jadi bisa deh nanem yang 10 atau yang 12 jam trus ntar dipanen jam segini..... Hihihihi
Terus terang dari kecil dulu saya ga punya hobby yang spesifik. Hobby saya angin-anginan semua. Lagi pengen menggambar, saya menggambar. Lagi pengen baca buku, saya baca buku. Tapi nanti beberapa bulan hobbynya hilang sama sekali. Cuma main Farmville aja yang masih bertahan. Entah sampe kapan.
Jadinya sekarang saya bisa bilang, main Farmville bukan cuma sekedar hobby aja kali tapi buat saya pribadi, bisa jadi sarana menenangkan jiwa. Soalnya saya bukan tipikal yang kalo punya masalah trus kabur nyari kesenangan diluar. Buat saya, notebook hubby dan modem internet yang bisa dicolokin kapan aja udah cukup bisa buat saya tenang kok.
Makin tinggi peringkat saya malah makin susah berentinya. Pengen tahu, di peringkat berapa ya saya bisa nyelesein semua tanaman saya. Yang main Farmville pasti tau kalo ada "mastery' dari tiap tumbuhan yang kita tanam. Kalau saya sendiri udah banyak tanaman yang udah mastered. Makanya makin penasaran aja. Kapan sih abisnya??? soalnya sering banget mendadak ada tanaman baru muncul. Gemes deh.
Terus terang selain curhat ke Allah, Farmville juga bikin saya tenang. Kalau udah main Farmville saya bisa tenang berjam-jam ngurusin 'ladang' saya. Makanya suami saya ga pernah marah kalau saya main Farmville. Katanya daripada saya rewel, mendingan sanaaaahhh.... main Farmville!!!! Hihihihi....
Disaat sekarang ini, banyak masalah datang dan pergi. Farmville membantu saya menenangkan jiwa. Jadi kalau udah puas-puasin curhat ke Allah sampe nangis-nangis. Trus abis itu main Farmville, dijamin deh. Yang tadi abis nangis sesungukan, sampe bengek saya kumat lagi. Langsung deh ceria lagi. Trus mikir, hmmm..... nanem apa lagi yaaaa??? Kadangkala mikirnya sampe, hmmm.... besok saya ga kemana-mana jadi bisa deh nanem yang 10 atau yang 12 jam trus ntar dipanen jam segini..... Hihihihi
Terus terang dari kecil dulu saya ga punya hobby yang spesifik. Hobby saya angin-anginan semua. Lagi pengen menggambar, saya menggambar. Lagi pengen baca buku, saya baca buku. Tapi nanti beberapa bulan hobbynya hilang sama sekali. Cuma main Farmville aja yang masih bertahan. Entah sampe kapan.
Jadinya sekarang saya bisa bilang, main Farmville bukan cuma sekedar hobby aja kali tapi buat saya pribadi, bisa jadi sarana menenangkan jiwa. Soalnya saya bukan tipikal yang kalo punya masalah trus kabur nyari kesenangan diluar. Buat saya, notebook hubby dan modem internet yang bisa dicolokin kapan aja udah cukup bisa buat saya tenang kok.
Monday, May 23, 2011
Niatnya mau berbuat baik
Minggu lalu dokter menyuruh saya istirahat beberapa hari dirumah karena sakit saya tidak kunjung sembuh. Begitu hubby pergi ngantor, saya sarapan roti, minum obat dan balik tidur lagi. Tapi hari itu ada gangguan yang menganggu istirahat saya.
Awalnya begini :
Sejak beberapa minggu lalu ada seorang wanita setengah baya yang (maaf) agak terganggu jiwanya mondar mandir disekitar rumah kami. Awalnya saya pikir dia seorang pemulung, lalu hubby bertanya padanya " mau apa bu? ". Dia bilang mau duit. Dan hubby memberikan uang sekedarnya padanya.
Beberapa hari kemudian dia kembali lagi kerumah, melongok-longok kedalam rumah (saat itu kami baru pulang kantor) dan pintu garasi dalam keadaan terbuka lebar. Begitu ditanya hubby, kembali dia jawab " mau duit ". Dan hubby kembali memberikan uang sekedarnya.
Ketiga kalinya, hubby sedang cuci piring didapur. Tau-tau ada mengetuk-ngetuk pintu samping kami yang memang dekat dengan pintu dapur (rumah kami posisinya dihoek). Ternyata si ibu itu lagi yang kembali meminta uang. Disini hubby udah mulai ngerasa " kayanya salah deh aku kasih-kasih dia uang melulu ".
Sewaktu saya sakit, saya tidak pernah ikut keluar mengantar hubby pergi ke kantor. Hubby tau saya sedang sakit. Jadi pintu dia kunci dari luar sementara saya tinggal mencantolkan kunci rumah milik saya sendiri (kami masih-masing pegang kunci sendiri). Sewaktu saya selesai sarapan, minum obat dan hendak kembali tidur lagi. Saya mendengar bunyi kresek-kresek disamping rumah. Sambil sempoyongan saya bangun dan berjalan kearah dapur lalu mengintip dari jendela dapur. Ada yang mengetuk-ngetuk pintu samping sambil mengucapkan " Assalamualaikum ". Suaranya mirip banget dengan suara mbok pecel langganan saya. Tapi saya mikir, ngapain juga mbok pecel datang kerumah secara saya selalu beli pecelnya hanya saat weekend saja. Sesaat ketukan di pintu samping hilang, tapi ada ketukan dipagar depan. Ternyata si ibu itu lagi. Tangannya berusaha menggapai-gapai grendel pagar. Alhamdulillah pagar terkunci rapat.
Lalu dia bolak-balik kepintu samping dan pagar depan sambil mengetuk-ngetuk. Saya memilih tidak mau keluar rumah dan membuat dia menganggap rumah kami kosong. Kepala saya pusing karena obat flu yang diberikan dokter sudah menunjukkan reaksinya supaya saya tidur.
Lalu dia mulai menarik kardus penutup grendel pintu samping, saya mengintip dari jendela dapur tangannya menggapai-gapai grendel samping dan Alhamdulillah terkunci rapat. Lalu dia mulai mengintip-ngintip kebagian dalam rumah saya (untungnya dari pintu samping pandangannya hanya ke pintu dapur saja). Saya mulai stress.
Saya harus mempertahankan rumah saya. Saya tidak mau dia masuk kedalam rumah saya. Saya mencari-cari tongkat kayu yang biasa disimpan hubby untuk mengambil barang-barang yang letaknya agak tinggi dirumah. Sewaktu tangannya mulai mendorong-dorong fibrelass pintu samping saya sempat mikir untuk menyiramnya dari teras atas. Pintu samping saya memang terbuat dari besi yang kuat, tapi fibreglassnya tidak. Saya pikir, saya harus mempersenjatai diri saya untuk kemungkinan yang akan terjadi.
Saya mulai stress lalu saya menelpon hubby ke kantor. Hubby yang sedang meeting ikutan stress mendengar cerita saya. Tapi hubby melarang saya memukul, menyiram atau melakukan tindakan yang membuat ibu ini marah karena akan berakibat masalah makin panjang.
Akhirnya hubby menelpon tetangga kami, Alhamdulillah saya dikelilingi oleh tetangga yang baik. Seorang bapak-bapak keluar dari rumah dan mengusir si ibu. Untuk sementara dia pergi. Tapi tidak sampai disitu. Sampai sore, si ibu ini mampir 4 kali kerumah saya dan lagi-lagi selalu diusir oleh para tetangga kami.
Hubby mengakui kesalahannya karena sering memberi uang kepada si ibu. Tetangga kami menyarankan jangan memberikan uang lagi kepadanya dan berusaha bersikap tega. Weekend kemarin si ibu datang lagi kerumah kami dan hubby memintanya pergi atau pulang kerumahnya.
Hmmm.... niat mau berbuat baik adaaaaa aja masalahnya :((
Awalnya begini :
Sejak beberapa minggu lalu ada seorang wanita setengah baya yang (maaf) agak terganggu jiwanya mondar mandir disekitar rumah kami. Awalnya saya pikir dia seorang pemulung, lalu hubby bertanya padanya " mau apa bu? ". Dia bilang mau duit. Dan hubby memberikan uang sekedarnya padanya.
Beberapa hari kemudian dia kembali lagi kerumah, melongok-longok kedalam rumah (saat itu kami baru pulang kantor) dan pintu garasi dalam keadaan terbuka lebar. Begitu ditanya hubby, kembali dia jawab " mau duit ". Dan hubby kembali memberikan uang sekedarnya.
Ketiga kalinya, hubby sedang cuci piring didapur. Tau-tau ada mengetuk-ngetuk pintu samping kami yang memang dekat dengan pintu dapur (rumah kami posisinya dihoek). Ternyata si ibu itu lagi yang kembali meminta uang. Disini hubby udah mulai ngerasa " kayanya salah deh aku kasih-kasih dia uang melulu ".
Sewaktu saya sakit, saya tidak pernah ikut keluar mengantar hubby pergi ke kantor. Hubby tau saya sedang sakit. Jadi pintu dia kunci dari luar sementara saya tinggal mencantolkan kunci rumah milik saya sendiri (kami masih-masing pegang kunci sendiri). Sewaktu saya selesai sarapan, minum obat dan hendak kembali tidur lagi. Saya mendengar bunyi kresek-kresek disamping rumah. Sambil sempoyongan saya bangun dan berjalan kearah dapur lalu mengintip dari jendela dapur. Ada yang mengetuk-ngetuk pintu samping sambil mengucapkan " Assalamualaikum ". Suaranya mirip banget dengan suara mbok pecel langganan saya. Tapi saya mikir, ngapain juga mbok pecel datang kerumah secara saya selalu beli pecelnya hanya saat weekend saja. Sesaat ketukan di pintu samping hilang, tapi ada ketukan dipagar depan. Ternyata si ibu itu lagi. Tangannya berusaha menggapai-gapai grendel pagar. Alhamdulillah pagar terkunci rapat.
Lalu dia bolak-balik kepintu samping dan pagar depan sambil mengetuk-ngetuk. Saya memilih tidak mau keluar rumah dan membuat dia menganggap rumah kami kosong. Kepala saya pusing karena obat flu yang diberikan dokter sudah menunjukkan reaksinya supaya saya tidur.
Lalu dia mulai menarik kardus penutup grendel pintu samping, saya mengintip dari jendela dapur tangannya menggapai-gapai grendel samping dan Alhamdulillah terkunci rapat. Lalu dia mulai mengintip-ngintip kebagian dalam rumah saya (untungnya dari pintu samping pandangannya hanya ke pintu dapur saja). Saya mulai stress.
Saya harus mempertahankan rumah saya. Saya tidak mau dia masuk kedalam rumah saya. Saya mencari-cari tongkat kayu yang biasa disimpan hubby untuk mengambil barang-barang yang letaknya agak tinggi dirumah. Sewaktu tangannya mulai mendorong-dorong fibrelass pintu samping saya sempat mikir untuk menyiramnya dari teras atas. Pintu samping saya memang terbuat dari besi yang kuat, tapi fibreglassnya tidak. Saya pikir, saya harus mempersenjatai diri saya untuk kemungkinan yang akan terjadi.
Saya mulai stress lalu saya menelpon hubby ke kantor. Hubby yang sedang meeting ikutan stress mendengar cerita saya. Tapi hubby melarang saya memukul, menyiram atau melakukan tindakan yang membuat ibu ini marah karena akan berakibat masalah makin panjang.
Akhirnya hubby menelpon tetangga kami, Alhamdulillah saya dikelilingi oleh tetangga yang baik. Seorang bapak-bapak keluar dari rumah dan mengusir si ibu. Untuk sementara dia pergi. Tapi tidak sampai disitu. Sampai sore, si ibu ini mampir 4 kali kerumah saya dan lagi-lagi selalu diusir oleh para tetangga kami.
Hubby mengakui kesalahannya karena sering memberi uang kepada si ibu. Tetangga kami menyarankan jangan memberikan uang lagi kepadanya dan berusaha bersikap tega. Weekend kemarin si ibu datang lagi kerumah kami dan hubby memintanya pergi atau pulang kerumahnya.
Hmmm.... niat mau berbuat baik adaaaaa aja masalahnya :((
Sakit
Saya lagi dikasih cobaan oleh Allah dengan cobaan sakit. Senewen banget deh sama sakit kali ini, makin hari kok makin parah dan bukannya makin sembuh. Begitu ada yang sembuh, eh nongol lagi masalah yang lain.
Setelah pilek, demam, batuk reda. Giliran suara saya yang hilang. Udah 2 dokter saya datangi untuk mencari kemana suara saya ini. Dokter terakhir malah bilang kalo saya untuk sementara jangan banyak ngomong dulu, kalau bisa pake bahasa isyarat aja biar pita suaranya ga makin sakit. Ternyata kali ini yang jadi masalah adalah pita suara saya :((
Selama saya sakit, hubby yang ngerawat (lagian siapa lagi?? secara kita cuma berdua doang dirumah). Saya paling senang kalo kita mau makan di meja makan, hubby udah nyiapin semuanya. dari makanan, air putihnya sampe teh panasnya. Tissue pun juga ditaruh didepan muka saya. Trs sambil makan kita biasanya ngobrol aja berdua.
Biasanya obrolannya cuma seputar ada apa sih? kantor, teman dan lainnya. Sementara saya lebih sering istirahat dirumah selama sakit. Jadi cerita saya hanya sekitar film, acara TV yang saya tonton atau gosip artis. Apalagi coba??
Makanya weekend kemaren walopun kepala masih pusing nyut-nyutan, saya tetap pengen diajak jalan-jalan. Hubby nurutin walopun pake embel-embel " kalo kamu pusing, langsung pulang!! ". Tujuan perjalanan kita ke Ace Hardware di sektor 9 Bintaro karena hubby mesti beli gembok, cable ties dan printilan lainnya. Saya?? ga beli apa-apa. Wong jalan sebentar langsung pusing kok. Yang penting udah keluar rumah walopun cuma 1 jam aja. Alhamdulillaaahh......
Setelah pilek, demam, batuk reda. Giliran suara saya yang hilang. Udah 2 dokter saya datangi untuk mencari kemana suara saya ini. Dokter terakhir malah bilang kalo saya untuk sementara jangan banyak ngomong dulu, kalau bisa pake bahasa isyarat aja biar pita suaranya ga makin sakit. Ternyata kali ini yang jadi masalah adalah pita suara saya :((
Selama saya sakit, hubby yang ngerawat (lagian siapa lagi?? secara kita cuma berdua doang dirumah). Saya paling senang kalo kita mau makan di meja makan, hubby udah nyiapin semuanya. dari makanan, air putihnya sampe teh panasnya. Tissue pun juga ditaruh didepan muka saya. Trs sambil makan kita biasanya ngobrol aja berdua.
Biasanya obrolannya cuma seputar ada apa sih? kantor, teman dan lainnya. Sementara saya lebih sering istirahat dirumah selama sakit. Jadi cerita saya hanya sekitar film, acara TV yang saya tonton atau gosip artis. Apalagi coba??
Makanya weekend kemaren walopun kepala masih pusing nyut-nyutan, saya tetap pengen diajak jalan-jalan. Hubby nurutin walopun pake embel-embel " kalo kamu pusing, langsung pulang!! ". Tujuan perjalanan kita ke Ace Hardware di sektor 9 Bintaro karena hubby mesti beli gembok, cable ties dan printilan lainnya. Saya?? ga beli apa-apa. Wong jalan sebentar langsung pusing kok. Yang penting udah keluar rumah walopun cuma 1 jam aja. Alhamdulillaaahh......
Friday, May 20, 2011
Sekarang ini saya lagi bertapa :))
Ceritanya saya lagi bertapa nih, bertapa dan berdoa.
Entah kenapa saya lagi ngebet banget punya anak. Setelah mengetahui seorang sepupu saya akhirnya memilih mengadopsi seorang bayi lelaki dan seorang teman saya juga memilih mengadopsi seorang bayi setelah 12 tahun menikah.
Beberapa minggu yang lalu di perjalanan pulang kantor di toll jorr saya ngomongin soal adopsi ini sama hubby. Saya ceritain soal sepupu saya dan saya ceritain soal teman saya yang memilih jalur adopsi. Trus hubby denger dan kita ngebahas serius banget deh. Mungkin ini jalan yang dikasih Tuhan buat saya, saya terima dengan iklas. Sebenernya ada awalnya siiiihh......... beberapa bulan yang lalu, ipar saya menawarkan seseorang (masih ada hubungan saudara juga dengan dia) yang lagi hamil masuk bulan ke-3. Saya sama hubby mesti mikir-mikir banget. Soalnya adopsi kan ga kaya beli baju/sepatu yang bisa dituker. Adopsi ga kaya beli tas yang kalo kita ngerasa ga cocok trus bisa dionggokin disudut lemari.
Beberapa hari setelahnya saya 'belajar' ilmu adopsi dari sepupu saya. Selama ini banyak banget yang saya salah dari ilmu adopsi dan setelah BBM-an sama sepupu saya, mata saya jadi makin terbuka mengenai adopsi ini.
Truuss.... saya ikutan ribet deh waktu seorang sahabat mau bikin ultah anaknya yang ke-2. Awalnya cuma ngobrol di BBM doang, ujung2nya dia malah ngajak saya ngopi bareng dan kita ngebahas berdua soal ultah anaknya ini. Lucunya, semua saran yang saya tawarin ke dia, diterima semua looohh. Soalnya jujur aja, saya sering baca blog-blog tentang ulang tahun anak ini. Saya pengen cari-cari gambaran, ntar kalo (Insya Allah) saya punya anak, pengen dipestain kayak gimana. Lucunya lagi, saya udah mengalokasikan dana buat acara ini loooh.... jadi kalo ntar punya anak, pesta ultah pertamanya udah ada dananya deh. Malah temen saya bilang " duh kalo ini anak elu, gue udah tau banget deh kalo elu pasti ribet banget nyiapinnya, dan lu pasti akan cerewet banget sampe ke detil-detilnya "
Waktu saya sakit kemaren, saya sempet nonton film Up yang diputar di Disney Channel. Beberapa kali nonton film ini, saya tetap aja nangis nonton adegan-adegan awalnya waktu Carl dan Ellie akhirnya kehilangan buah hati mereka, trus mengalokasikan dana buat liburan tapi dana tersebut terkuras sedikit demi sedikit sampai akhirnya Ellie meninggal duluan. Saya ngeliat cintanya Carl daleeeeeeemmmm banget buat Ellie.
Saya juga pengen suami saya punya cinta dan sayang yang dalem kepada saya seperti cintanya Carl kepada Ellie. Makanya pas ngebahas soal adopsi ini kemaren, kita ngomong serius dan cukup hati-hati ngebahasnya. Apalagi kita sempat beberapa kali ngebahas tapi berujung jadi sebel atau kesal. Atau pas saya udah ngebet pengen adopsi, hubby malah bilang " gak mau!! " Kan saya ga mau maksa dia. Sehingga saya cuma bisa berdoa aja. Kalau jalan ini yang emang saya harus saya tempuh, saya minta dilancarkan, dimudahkan semua urusannya. Dan saya minta doa kepada Allah agar kalo emang tetap harus adopsi, saya diberi kekuatan, kesabaran dll, dll. Karena seperti penjelasan diatas. Adopsi bukan bayi yang lahir dari rahim saya yang kedatangannya ditunggu 9 bulan. Adopsi bukan seperti membeli baju yang kalo kita ga suka lagi bisa dituker atau dionggokin disudut lemari.
Satu persatu doa saya mulai dijawab Allah, suami ga keras hati lagi dan mulai ngeliat kalo saya udah capeeee banget sama pengobatan ini-itu. Suami tau kalo saya sampe rusak badan akibat pengobatan tsb (saya naik 15 kg hanya dalam waktu 1 tahun ajah!!!)
Makanya sekarang saya lagi bertapa, berdoa, supaya semua urusan saya dilancarkan oleh Allah. Saya bisa dapat keturunan entah itu lahir dari rahim saya ataupun lewat jalur adopsi.
Entah kenapa saya lagi ngebet banget punya anak. Setelah mengetahui seorang sepupu saya akhirnya memilih mengadopsi seorang bayi lelaki dan seorang teman saya juga memilih mengadopsi seorang bayi setelah 12 tahun menikah.
Beberapa minggu yang lalu di perjalanan pulang kantor di toll jorr saya ngomongin soal adopsi ini sama hubby. Saya ceritain soal sepupu saya dan saya ceritain soal teman saya yang memilih jalur adopsi. Trus hubby denger dan kita ngebahas serius banget deh. Mungkin ini jalan yang dikasih Tuhan buat saya, saya terima dengan iklas. Sebenernya ada awalnya siiiihh......... beberapa bulan yang lalu, ipar saya menawarkan seseorang (masih ada hubungan saudara juga dengan dia) yang lagi hamil masuk bulan ke-3. Saya sama hubby mesti mikir-mikir banget. Soalnya adopsi kan ga kaya beli baju/sepatu yang bisa dituker. Adopsi ga kaya beli tas yang kalo kita ngerasa ga cocok trus bisa dionggokin disudut lemari.
Beberapa hari setelahnya saya 'belajar' ilmu adopsi dari sepupu saya. Selama ini banyak banget yang saya salah dari ilmu adopsi dan setelah BBM-an sama sepupu saya, mata saya jadi makin terbuka mengenai adopsi ini.
Truuss.... saya ikutan ribet deh waktu seorang sahabat mau bikin ultah anaknya yang ke-2. Awalnya cuma ngobrol di BBM doang, ujung2nya dia malah ngajak saya ngopi bareng dan kita ngebahas berdua soal ultah anaknya ini. Lucunya, semua saran yang saya tawarin ke dia, diterima semua looohh. Soalnya jujur aja, saya sering baca blog-blog tentang ulang tahun anak ini. Saya pengen cari-cari gambaran, ntar kalo (Insya Allah) saya punya anak, pengen dipestain kayak gimana. Lucunya lagi, saya udah mengalokasikan dana buat acara ini loooh.... jadi kalo ntar punya anak, pesta ultah pertamanya udah ada dananya deh. Malah temen saya bilang " duh kalo ini anak elu, gue udah tau banget deh kalo elu pasti ribet banget nyiapinnya, dan lu pasti akan cerewet banget sampe ke detil-detilnya "
Waktu saya sakit kemaren, saya sempet nonton film Up yang diputar di Disney Channel. Beberapa kali nonton film ini, saya tetap aja nangis nonton adegan-adegan awalnya waktu Carl dan Ellie akhirnya kehilangan buah hati mereka, trus mengalokasikan dana buat liburan tapi dana tersebut terkuras sedikit demi sedikit sampai akhirnya Ellie meninggal duluan. Saya ngeliat cintanya Carl daleeeeeeemmmm banget buat Ellie.
Saya juga pengen suami saya punya cinta dan sayang yang dalem kepada saya seperti cintanya Carl kepada Ellie. Makanya pas ngebahas soal adopsi ini kemaren, kita ngomong serius dan cukup hati-hati ngebahasnya. Apalagi kita sempat beberapa kali ngebahas tapi berujung jadi sebel atau kesal. Atau pas saya udah ngebet pengen adopsi, hubby malah bilang " gak mau!! " Kan saya ga mau maksa dia. Sehingga saya cuma bisa berdoa aja. Kalau jalan ini yang emang saya harus saya tempuh, saya minta dilancarkan, dimudahkan semua urusannya. Dan saya minta doa kepada Allah agar kalo emang tetap harus adopsi, saya diberi kekuatan, kesabaran dll, dll. Karena seperti penjelasan diatas. Adopsi bukan bayi yang lahir dari rahim saya yang kedatangannya ditunggu 9 bulan. Adopsi bukan seperti membeli baju yang kalo kita ga suka lagi bisa dituker atau dionggokin disudut lemari.
Satu persatu doa saya mulai dijawab Allah, suami ga keras hati lagi dan mulai ngeliat kalo saya udah capeeee banget sama pengobatan ini-itu. Suami tau kalo saya sampe rusak badan akibat pengobatan tsb (saya naik 15 kg hanya dalam waktu 1 tahun ajah!!!)
Makanya sekarang saya lagi bertapa, berdoa, supaya semua urusan saya dilancarkan oleh Allah. Saya bisa dapat keturunan entah itu lahir dari rahim saya ataupun lewat jalur adopsi.
Subscribe to:
Posts (Atom)