Semalam saya akhirnya menonton Harry Potter terakhir, Deadly Hollows part 2, dan berakhirlah 'petualangan' saya bersama penyihir kecil hingga ABG yang memiliki tanda didahinya tersebut selama 10 tahun ini.
Perkenalan saya dengan sosok Harry Potter dimulai diawal tahun 2000 lalu, waktu itu saya ingat adik saya sedang membaca novel Harry Potter pertama (The Sorcerer's Stone) yang ia pinjam dari temannya. Saya pun turut ikutan membaca, dan dari situ saya mengenal sosok Harry Potter, Hermione Granger serta Ronald Weasley yang juga pertama kali bertemu di gerbong kereta yang membawa mereka ke Hogwarts.
Dari situ saya makin mengenal Harry Potter dan dunia sekitarnya, tentang pertandingan Quidditch, 4 asrama (Gryffindor, Slytherin, Ravenclaw dan Hufflepuff), beberapa mata pelajaran di Hogwarts seperti kelas Ramuan, kelas Penangkal Ilmu Hitam sampai beberapa mantera yang sering di ulang-ulang di kisah Harry Potter seperti Accio, Lumos hingga mantera yang menyebabkan kematian seperti Crucio dan Avada Kedavra. Saya mengenal guru-guru di Hogwarts seperti Profesor Albus Dumbledore sang kepala sekolah yang bijak, Profesor McGonagall sang kepala asrama Gryffindor, Professor Severus Snape guru ramuan sampai Hagrid sang raksasa yang tinggal didekat sekolah Hogwarts dan selalu membantu Harry bersama dan sahabat-sahabatnya.
Selain tokoh baik, saya mengenal beberapa tokoh lain di kisah ini. Misalnya muggle (sosok penyihir tanpa darah penyihir dalam hal ini adalah Hermione Granger) atau paman Harry yang selalu jahat pada Harry (Paman Dursley) juga tokoh-tokoh lain macam Dementor, Goblin, Peri Rumah, hingga para Pelahap Maut.
Jangan lupa, setiap kisah pasti ada tokoh jahatnya dan dalam hal ini adalah Kau-Tahu-Siapa alias Lord Voldermort alias Tom Riddle yang juga merupakan salah satu mantan murid di Hogwarts yang mempelajari ilmu hitam. Dia pula yang membunuh kedua orang tua Harry Potter namun gagal membunuh Harry karena Harry dilindungi oleh mantra ibunya. Sehingga sejak buku pertama hingga buku keenam kita akan melihat setiap usaha Voldermort dalam membunuh Harry Potter. Atau teman Harry sesama murid di Hogwarts yaitu Draco Malfoy yang sejak awal mereka bertemu selalu berusaha mengganggu hingga berusaha membunuh Harry. Tetapi pada akhirnya Draco malah diselamatkan Harry sewaktu mereka terjebak kebakaran di Kamar Kebutuhan.
Saya memang bukan termasuk penggemar berat Harry Potter, tapi saya tidak pernah ketinggalan membeli atau menonton filmnya. Buku Harry Potter pertama yang saya beli justru di buku yang ke-4 (Goblet of Fire). Saya ingat waktu itu beli buku Harry Potter ke-4 berhadiah sebuah tas warna hitam.
Buku ke-5 Harry Potter (Orde of Phoenix) saya pinjam dari teman saya yang waktu itu justru baru dia beli dan saya berjanji menyelesaikan membaca selama 2 hari. Sewaktu buku ke 6 terbit (Half Blood Prince), akhirnya saya membeli buku ke 1 hingga buku ke 3 (The Sorcerer's Stone, Chamber of Secret dan Prisoner of Azkaban).
Sewaktu mulai membaca buku ke-7, saya selalu membayangkan seperti apa serunya perang di Hogwarts nanti. Terus terang, dari 3 buku terakhir Harry Potter memang sudah mulai terlihat perang sesungguhnya antara para penyihir baik dan penyihir jahat. Satu demi satu para penyihir baik berguguran seperti Alastor Moody, Sirius Black hingga Remus Lupin. Hingga puncaknya di buku terakhir, dimana ada perang terbuka antara penyihir hitam dan penyihir putih di pertahanan terakhir, yaitu Hogwarts.
Ada rasa senang sekaligus sedih dengan selesainya film terakhir ini. Karena sudah pasti saya akan berpisah dengan sosok-sosok yang sudah menemani saya selama 10 tahun terakhir ini. Saya mengenal 3 sosok utama sejak mereka masih berusia 10 tahun (ingat gak rambutnya Hermione yang keriting mekar di film pertama? tetapi semakin dewasa ia menjadi makin cantik dan rambut keriting mekarnya sudah hilang). Senangnya karena pada akhirnya mereka yang baik pasti akan menang walaupun penuh dengan pengorbanan. Hingga si kembar bersaudara dari keluarga Weasley pun terpisah karena salah satunya meninggal dalam perang di Hogwarts. Walaupun saya sempat terganggu dengan kondisi mental Harry yang sering diaduk-aduk oleh Voldermort. Dan proses pengumpulan Hocrux yang melelahkan tetapi akhirnya si penyihir hitam pun dapat dikalahkan.
19 tahun kemudian, Harry yang menikah dengan Ginny Weasley. Ron Weasley yang menikah dengan Hermione Granger bertemu kembali di peron 9 3/4 stasiun King Cross untuk mengantarkan anak-anak mereka bersekolah di Hogwarts.
Goodbye Harry Potter, Goodbye Hogwarts....
Wednesday, August 17, 2011
Tuesday, August 9, 2011
Prolaktin
Hormon ini menjadi momok saya disetiap saya melakukan program.
Sejak saya memulai program kehamilan ini tahun 2003 lalu, hormon prolaktin saya selalu betah bertengger diangka-angka tinggi.
Suatu ketika seorang dokter kandungan sampai menyuruh saya melakukan CT Scan karena beliau takut ada tumor di otak saya. Sementara prolaktin diproduksi diotak para wanita.
Hormon prolaktin ini adalah hormon yang menghasilkan air susu ibu. Jadi, dalam kasus saya dimana saya belum pernah hamil dan melahirkan. Tingginya hormon prolaktin ini membuat saya susah hamil karena menekan si prolaktin menekan fungsi indung telur (ovarium) yang akibatnya dapat memperlambat kembalinya fungsi kesuburan dan haid.
Untuk wanita yang tidak dalam kondisi hamil, nilai maksimum hormon prolaktinnya adalah 29.2. Sementara saya ??? 40!!!
Dulu tiap kali saya mengecek hormon prolaktin dan hasilnya selalu tinggi, dokter-dokter kandungan saya selalu menanyakan hal paling mendasar " apakah hidup saya penuh dengan stress? ". Awalnya saya sampai bingung. Hidup saya tidak terlalu stress. Ada stress tapi tidak tinggi, apalagi suami saya selalu mendampingi. Mungkin stress saya bukan seperti orang lain. Tapi stress yang bukan datang dari diri saya sendiri. Bagaimana dengan sekeliling saya? keluarga? teman? tetangga?
Saat saya kembali berniat memulai program ini momok terbesar saya tetap si hormon prolaktin ini. Dan lagi-lagi dokter meminta saya memeriksa hormon prolaktin ini bersama dengan hormon-hormon yang lain (LH, FSH dan Estradiol) sebagai langkah awal memulai program. Seperti biasa saya akan mulai stress, padahal saya dilarang stress oleh dokter karena salah satu pemicu hormon prolaktin yang tidak stabil adalah stress ini. Jelas bagi saya, prolaktin dan stress bukan kombinasi yang baik.
Karena itu sebelum saya memulai program, bersama suami saya berpikir apa yang akan kita lakukan untuk meredam tingkat stress saya? Yang pertama dilakukan suami saya adalah : menjauhkan si BB dari saya. Jauuuuuhh sejauh-jauhnya. Sampai akhirnya saya dan suami menemukan cara meredam stress saya : mematikan ringer BB dan telp CDMA saya. Setelah itu hubby membuat saya hanya mengenal 1 kata saja : happy. Saya hanya menerima isi BB yang tidak membuat saya stress. Selebihnya saya hapus jauh-jauh. Terserah orang mau bilang apa. Saya males menaruh status di FB, saya malas berdiskusi berat-berat di BBM. Banyak yang bilang beberapa bulan lalu, saya jadi sosok yang egois. Terserah, saya hanya ingin tenang.
Butuh waktu beberapa bulan untuk meredam stress ini. Apalagi saat itu saya sempat menjalani masa-masa persiapan adopsi. Tapi hubby membiarkan saya melakukan semua yang saya senangi. Yang tidak boleh cuma satu : stress. Sebelum saya tenang, kita tidak akan memulai program ini. Ini alasan saya melakukan itu semua. Ada sejumlah uang yang saya bayarkan untuk program ini, dan kali ini saya tidak ingin uang saya habis sia-sia saja.
Dunia saya beberapa bulan terakhir selain kantor? rumah! Saya menghabiskan waktu saya dirumah membaca buku-nuku koleksi saya selama weekend, memasak berbagai resep baru yang saya temukan di internet. Saya jarang menginjakkan kaki saya di mall. Saya pergi ke mall hanya bila ada janji dengan seseorang. Hubby benar-benar menjaga saya supaya tidak lelah dan stress. Kata hubby, kalau saya terlalu lelah mood saya pasti ajrut-ajrutan. Hubby juga berkorban dengan memilih berada dirumah menemani saya. Apalagi kemacetan saat macet sekarang ini sudah dalam tahap tidak wajar. Selain itu yag paling penting, saya belajar menyesuaikan diri. Sehabis IUI ini saya akan habis-habisan istrirahat selama 2 minggu. Dokter sudah menyarankan untuk saya tidak pergi kemana-mana dulu. Makanya saya belajar membuat diri saya semakin betah dirumah.
Saat tiba waktunya untuk saya melangkah ke lab dan kembali memeriksa hormon-hormon ini. Langkah saya tetap saja berat. Saya sebal akan kembali mendapat tatapan dari dokter kandungan saya dan mereka akan kembali melontarkan pertanyaan " ibu stress ya? ".
Sewaktu saya menerima laporan hasil test saya, saya tidak bisa menahan rasa tidak percaya sewaktu melihat tulisan angka 10 pada hasil test prolaktin saya. Sepuluh!!!! ya benar, sepuluh!!!! Semua hal yang saya lakukan akhirnya ada hasilnya. Pengorbanan hubby pun jadi tidak sia-sia. Sampai waktu kami konsultasi ke dokter, hubby berulang kali sampai nanya " ini benar ya dok, angka prolaktinnya cuma 10? benar ya dok? udah normal ya? " Alhamdulillah....
Momok saya terhadap hormon nakal ini hilang sudah. Sekarang tinggal menjaga supaya hormon ini tetap stabil saat proses IUI berlangsung. Jadi bisa bantu saya dengan tidak membuat saya stress??? Minimal sampai dua bulan kedepan saja. Saya mohon.............
Sejak saya memulai program kehamilan ini tahun 2003 lalu, hormon prolaktin saya selalu betah bertengger diangka-angka tinggi.
Suatu ketika seorang dokter kandungan sampai menyuruh saya melakukan CT Scan karena beliau takut ada tumor di otak saya. Sementara prolaktin diproduksi diotak para wanita.
Hormon prolaktin ini adalah hormon yang menghasilkan air susu ibu. Jadi, dalam kasus saya dimana saya belum pernah hamil dan melahirkan. Tingginya hormon prolaktin ini membuat saya susah hamil karena menekan si prolaktin menekan fungsi indung telur (ovarium) yang akibatnya dapat memperlambat kembalinya fungsi kesuburan dan haid.
Untuk wanita yang tidak dalam kondisi hamil, nilai maksimum hormon prolaktinnya adalah 29.2. Sementara saya ??? 40!!!
Dulu tiap kali saya mengecek hormon prolaktin dan hasilnya selalu tinggi, dokter-dokter kandungan saya selalu menanyakan hal paling mendasar " apakah hidup saya penuh dengan stress? ". Awalnya saya sampai bingung. Hidup saya tidak terlalu stress. Ada stress tapi tidak tinggi, apalagi suami saya selalu mendampingi. Mungkin stress saya bukan seperti orang lain. Tapi stress yang bukan datang dari diri saya sendiri. Bagaimana dengan sekeliling saya? keluarga? teman? tetangga?
Saat saya kembali berniat memulai program ini momok terbesar saya tetap si hormon prolaktin ini. Dan lagi-lagi dokter meminta saya memeriksa hormon prolaktin ini bersama dengan hormon-hormon yang lain (LH, FSH dan Estradiol) sebagai langkah awal memulai program. Seperti biasa saya akan mulai stress, padahal saya dilarang stress oleh dokter karena salah satu pemicu hormon prolaktin yang tidak stabil adalah stress ini. Jelas bagi saya, prolaktin dan stress bukan kombinasi yang baik.
Karena itu sebelum saya memulai program, bersama suami saya berpikir apa yang akan kita lakukan untuk meredam tingkat stress saya? Yang pertama dilakukan suami saya adalah : menjauhkan si BB dari saya. Jauuuuuhh sejauh-jauhnya. Sampai akhirnya saya dan suami menemukan cara meredam stress saya : mematikan ringer BB dan telp CDMA saya. Setelah itu hubby membuat saya hanya mengenal 1 kata saja : happy. Saya hanya menerima isi BB yang tidak membuat saya stress. Selebihnya saya hapus jauh-jauh. Terserah orang mau bilang apa. Saya males menaruh status di FB, saya malas berdiskusi berat-berat di BBM. Banyak yang bilang beberapa bulan lalu, saya jadi sosok yang egois. Terserah, saya hanya ingin tenang.
Butuh waktu beberapa bulan untuk meredam stress ini. Apalagi saat itu saya sempat menjalani masa-masa persiapan adopsi. Tapi hubby membiarkan saya melakukan semua yang saya senangi. Yang tidak boleh cuma satu : stress. Sebelum saya tenang, kita tidak akan memulai program ini. Ini alasan saya melakukan itu semua. Ada sejumlah uang yang saya bayarkan untuk program ini, dan kali ini saya tidak ingin uang saya habis sia-sia saja.
Dunia saya beberapa bulan terakhir selain kantor? rumah! Saya menghabiskan waktu saya dirumah membaca buku-nuku koleksi saya selama weekend, memasak berbagai resep baru yang saya temukan di internet. Saya jarang menginjakkan kaki saya di mall. Saya pergi ke mall hanya bila ada janji dengan seseorang. Hubby benar-benar menjaga saya supaya tidak lelah dan stress. Kata hubby, kalau saya terlalu lelah mood saya pasti ajrut-ajrutan. Hubby juga berkorban dengan memilih berada dirumah menemani saya. Apalagi kemacetan saat macet sekarang ini sudah dalam tahap tidak wajar. Selain itu yag paling penting, saya belajar menyesuaikan diri. Sehabis IUI ini saya akan habis-habisan istrirahat selama 2 minggu. Dokter sudah menyarankan untuk saya tidak pergi kemana-mana dulu. Makanya saya belajar membuat diri saya semakin betah dirumah.
Saat tiba waktunya untuk saya melangkah ke lab dan kembali memeriksa hormon-hormon ini. Langkah saya tetap saja berat. Saya sebal akan kembali mendapat tatapan dari dokter kandungan saya dan mereka akan kembali melontarkan pertanyaan " ibu stress ya? ".
Sewaktu saya menerima laporan hasil test saya, saya tidak bisa menahan rasa tidak percaya sewaktu melihat tulisan angka 10 pada hasil test prolaktin saya. Sepuluh!!!! ya benar, sepuluh!!!! Semua hal yang saya lakukan akhirnya ada hasilnya. Pengorbanan hubby pun jadi tidak sia-sia. Sampai waktu kami konsultasi ke dokter, hubby berulang kali sampai nanya " ini benar ya dok, angka prolaktinnya cuma 10? benar ya dok? udah normal ya? " Alhamdulillah....
Momok saya terhadap hormon nakal ini hilang sudah. Sekarang tinggal menjaga supaya hormon ini tetap stabil saat proses IUI berlangsung. Jadi bisa bantu saya dengan tidak membuat saya stress??? Minimal sampai dua bulan kedepan saja. Saya mohon.............
Kisah selama program
Selama program hamil ini saya sudah punya beberapa 'sahabat' seperjuangan. Mereka ada yang sudah 5 tahun, 8 tahun bahkan ada yang baru 2 tahun udah ikutan program. Buat saya, mereka adalah teman seperjuangan saya.
Tempat kongkow kami biasanya di kafetaria rumah sakit, tempat kami melakukan program. Awalnya hanya saya dan N. Kami saling mengenal karena kami pakai dokter yang sama untuk program. Masalah saya dan N memang tidak sama, tapi kembali lagi ke atas. N adalah teman seperjuangan saya.
Dari N saya mengenai V yang juga berasal dari dokter yang sama. Lalu dari V saya mengenal A. Setelah itu kami bertukar nomor PIN dan makin sering chat di BB untuk saling memberi kabar dan menceritakan program atau terapi apa yang akan kami lalui.
Kami berempat sudah melakukan hal-hal yang ditentukan oleh dokter untuk keberhasilan program. Mengkonsumsi berbagai macam hingga bolak-balik lab untuk mengecek berbagai macam hal-hal yang bisa kelak mengganggu program kami.
Suatu ketika saya sedang duduk di kafetaria RS Pondok Indah setelah menjalani program HSG. Dengan perut yang masih terasa sangat mulas, saya memaksakan diri duduk agar lebih cepat sembuh, walaupun pihak tadiologi RS Pondok Indah menawarkan kamar khusus untuk saya memulihkan diri. Di program HSG ini, dokter radiology mengatakan " kalau ibu merasa mulas banget berarti rahimnya sehat. Kalau tidak mulas berarti rahimnya bermasalah ". Entah saya harus gembira atau tidak. Selesai HSG saya merasa sangat mulas. Ini berarti tidak ada masalah dengan rahim saya, tapi disatu sisi, mulasnya rasanya perpaduan antara pengen buang air besar dicampur dengan pertanda menstruasi. Ampuuuuuuuuuuunnnn.........
Tiba-tiba V yang baru saja selesai periksa darah di lab menghampiri saya dan kami pun bercakap-cakap. Sejenak saya lupa dengan perut mulas saya. Dan V juga datang dengan siku tangan bagian dalam yang sudah dilapisi plester.
Kami pun terlibat obrolan yang cukup menarik. Salah satunya adalah pandangan negatif kepada kami para wanita yang belum diberikan keturunan. Entah kenapa, saya tidak pernah menganggap apa yang terjadi pada saya sebagai aib. Ini bukan mau saya, tapi memang Allah belum memberikannya kepada kami. Dan saya menjalankannya dengan happy-happy aja.
V merasa hanya suaminya yang mendukungnya sementara sisanya dia harus melakukannya sendiri. Belum lagi cemooh yang selalu mampir ditelinganya tiap kali dia memulai program baru. Padahal semua program tersebut dia lakukan tanpa sepeserpun meminta bantuan pada orang lain.
" Yang gue butuhin cuma doa loh padahal " katanya sedih sambil menyeruput segelas teh manis hangat.
Saya melarangnya bersedih dan stress memikirkan hal tersebut. Lagi-lagi bagi kami, sedih, stress bisa menganggu kestabilan hormon kami. Kalau hormon tergangggu? program akan berantakan lagi.
Buat mereka yang tidak pernah mengikuti program seperti kami. Karena Tuhan memberikan keturunan dengan mudah, atau bagi mereka yang hanya sekali program dan langsung berhasil bukan tidak mungkin memiliki sedikit cara pandang yang salah terhadap kami.
Misalnya seperti V yang sudah berjuang selama 8 tahun dan sudah bolak-balik program tapi belum berhasil. Tiap kali program selalu ada masalah didalam tubuh V. Tapi V tetap maju dan bersemangat mengikuti program baru. V dan saya butuh disemangati tapi jangan jatuhkan kami dengan kata-kata " program apa lagi sih? buang-buang uang aja. Mending berhasil ". Apa mereka lupa? dokter bukan Tuhan. Dokter hanya membantu kami mengobati atau memperbaiki yang salah. Tetapi semua balik lagi kepda kehendak Tuhan. Jadi seperti saya, V atau N yang sudah berkali-kali ikut program tapi masih belum berhasil. Kami cuma minta doa dan dukungan. Jangan membuat kami merasa bersalah, pusing atau hal-hal lain yang membuat kami jadi sedih.
Terakhir, saya hanya memberikan tips kepada V apa yang saya lakukan untuk membuat saya tenang menghadapi program ini.
1. Matikan ringer BB karena hal tersebut sangat baik untuk kesehatan jiwa dan telinga
2. Delete orang-orang yang kamu anggap mengganggu (saya mendelete sekitar 30 orang dari contact BB saya waktu mulai menjalankan program ini)
3. Abaikan isi-isi BB yang bisa mengganggu ketenangan (kalau kamu tidak bisa mendelete so contact tsb). Kan ada fitur clear chat toh?
4. Buat diri kamu tenang dan bahagia demi klancaran program ini.
Sudah hampir setahun saya melakukan hal ini. Saya membuat diri saya tenang lahir batin terlebih dahulu sebelum memulai program. Saya ingin, sewaktu saya memulai program ini saya tidak bersedih, marah, stress. Saya cuma ingin punya rasa semangat dan gambira saat melalui hari-hari program ini walaupun tahu semuanya tidak mudah. Urusan program ini berhasil atau tidak, semua saya serahkan kepada Tuhan yang diatas. Yang penting saya berusaha menjalankan program ini dengan sebaik-baiknya.
Tempat kongkow kami biasanya di kafetaria rumah sakit, tempat kami melakukan program. Awalnya hanya saya dan N. Kami saling mengenal karena kami pakai dokter yang sama untuk program. Masalah saya dan N memang tidak sama, tapi kembali lagi ke atas. N adalah teman seperjuangan saya.
Dari N saya mengenai V yang juga berasal dari dokter yang sama. Lalu dari V saya mengenal A. Setelah itu kami bertukar nomor PIN dan makin sering chat di BB untuk saling memberi kabar dan menceritakan program atau terapi apa yang akan kami lalui.
Kami berempat sudah melakukan hal-hal yang ditentukan oleh dokter untuk keberhasilan program. Mengkonsumsi berbagai macam hingga bolak-balik lab untuk mengecek berbagai macam hal-hal yang bisa kelak mengganggu program kami.
Suatu ketika saya sedang duduk di kafetaria RS Pondok Indah setelah menjalani program HSG. Dengan perut yang masih terasa sangat mulas, saya memaksakan diri duduk agar lebih cepat sembuh, walaupun pihak tadiologi RS Pondok Indah menawarkan kamar khusus untuk saya memulihkan diri. Di program HSG ini, dokter radiology mengatakan " kalau ibu merasa mulas banget berarti rahimnya sehat. Kalau tidak mulas berarti rahimnya bermasalah ". Entah saya harus gembira atau tidak. Selesai HSG saya merasa sangat mulas. Ini berarti tidak ada masalah dengan rahim saya, tapi disatu sisi, mulasnya rasanya perpaduan antara pengen buang air besar dicampur dengan pertanda menstruasi. Ampuuuuuuuuuuunnnn.........
Tiba-tiba V yang baru saja selesai periksa darah di lab menghampiri saya dan kami pun bercakap-cakap. Sejenak saya lupa dengan perut mulas saya. Dan V juga datang dengan siku tangan bagian dalam yang sudah dilapisi plester.
Kami pun terlibat obrolan yang cukup menarik. Salah satunya adalah pandangan negatif kepada kami para wanita yang belum diberikan keturunan. Entah kenapa, saya tidak pernah menganggap apa yang terjadi pada saya sebagai aib. Ini bukan mau saya, tapi memang Allah belum memberikannya kepada kami. Dan saya menjalankannya dengan happy-happy aja.
V merasa hanya suaminya yang mendukungnya sementara sisanya dia harus melakukannya sendiri. Belum lagi cemooh yang selalu mampir ditelinganya tiap kali dia memulai program baru. Padahal semua program tersebut dia lakukan tanpa sepeserpun meminta bantuan pada orang lain.
" Yang gue butuhin cuma doa loh padahal " katanya sedih sambil menyeruput segelas teh manis hangat.
Saya melarangnya bersedih dan stress memikirkan hal tersebut. Lagi-lagi bagi kami, sedih, stress bisa menganggu kestabilan hormon kami. Kalau hormon tergangggu? program akan berantakan lagi.
Buat mereka yang tidak pernah mengikuti program seperti kami. Karena Tuhan memberikan keturunan dengan mudah, atau bagi mereka yang hanya sekali program dan langsung berhasil bukan tidak mungkin memiliki sedikit cara pandang yang salah terhadap kami.
Misalnya seperti V yang sudah berjuang selama 8 tahun dan sudah bolak-balik program tapi belum berhasil. Tiap kali program selalu ada masalah didalam tubuh V. Tapi V tetap maju dan bersemangat mengikuti program baru. V dan saya butuh disemangati tapi jangan jatuhkan kami dengan kata-kata " program apa lagi sih? buang-buang uang aja. Mending berhasil ". Apa mereka lupa? dokter bukan Tuhan. Dokter hanya membantu kami mengobati atau memperbaiki yang salah. Tetapi semua balik lagi kepda kehendak Tuhan. Jadi seperti saya, V atau N yang sudah berkali-kali ikut program tapi masih belum berhasil. Kami cuma minta doa dan dukungan. Jangan membuat kami merasa bersalah, pusing atau hal-hal lain yang membuat kami jadi sedih.
Terakhir, saya hanya memberikan tips kepada V apa yang saya lakukan untuk membuat saya tenang menghadapi program ini.
1. Matikan ringer BB karena hal tersebut sangat baik untuk kesehatan jiwa dan telinga
2. Delete orang-orang yang kamu anggap mengganggu (saya mendelete sekitar 30 orang dari contact BB saya waktu mulai menjalankan program ini)
3. Abaikan isi-isi BB yang bisa mengganggu ketenangan (kalau kamu tidak bisa mendelete so contact tsb). Kan ada fitur clear chat toh?
4. Buat diri kamu tenang dan bahagia demi klancaran program ini.
Sudah hampir setahun saya melakukan hal ini. Saya membuat diri saya tenang lahir batin terlebih dahulu sebelum memulai program. Saya ingin, sewaktu saya memulai program ini saya tidak bersedih, marah, stress. Saya cuma ingin punya rasa semangat dan gambira saat melalui hari-hari program ini walaupun tahu semuanya tidak mudah. Urusan program ini berhasil atau tidak, semua saya serahkan kepada Tuhan yang diatas. Yang penting saya berusaha menjalankan program ini dengan sebaik-baiknya.
Friday, July 29, 2011
Toy Story
Kapan terakhir kamu menangis?
Kalau saya tadi malem waktu nonton Toy Story 3 yang diputar ulang di Star Movies. Padahal saya nonton hanya kebagian setengah jam terakhir aja karena ada urusan dulu sepulang kantor.
Sebagai orang yang terkenal cengeng, air mata saya mulai keluar sewaktu para boneka milik Andy saling berpegangan tangan saat mereka sadar akan jatuh kedalam tempat peleburan besi. Tapi akhirnya mereka diselamatnya oleh boneka 3 aliens dari planet Pizza.
Lalu saya sedih lagi sewaktu semua boneka tersebut pulang kerumah Andy dan mereka memisahkan diri kedalam kardus yang berbeda. Hanya Woody yang dibawa Andy karena ia akan pergi kuliah ditempat baru masuk kedalam kardus bertuliskan College. Sisanya masuk kedalam kardus bertuliskan Attic, yang artinya mereka akan disimpan didalam loteng. Ucapan perpisahan dan Buzz Lightyear kepada Woody " you'll know where to find me " katanya sebelum masuk kedalam kardus bertuliskan Attic tersebut.
Ternyata kardus yang bertuliskan Attic disumbangkan Andy kepada Bonnie, seorang anak perempuan penyayang boneka. Satu demi satu boneka tersebut dimainkan Andy didepan Bonnie.
" Ini Jessie, si koboy perempuan, dia tidak pernah jauh-jauh dari kuda kesayangannya Bullseye "
" Ini Rex, si dinosaurus paling kejam.... "
" Ini Mr dan Mrs Potato Head, mereka tidak bisa dipisahkan karena mereka saling mencintai "
" Ini Slinky si anjing yang baik "
" Ini Hamm, si babi licik, tapi dia akan membantu menyimpan uangmu "
" Ini tiga aliens aneh dari Planet Pizza "
" Ini Buzz Lightyear, polisi ruang angkasa. Dia akan melindungimu dari kejahatan si Zorg. Lihat dia punya senjara sinar laser "
Lalu Bonnie melongok kedalam kotak dan berteriak " hey cowboy.... " sambil menunjuk Woody yang tergeletak didasar kotak. Awalnya Andy berat menyerahkan Woody kepada Bonnie " he's my best friend " kata Andy sambil memeluk Woody. Akhirnya Woody pun diserahkan Andy kepada Bonnie sambil berpesan " tolong jaga mainan tersebut dengan baik ". Okeee.... air mata saya mengucur lagi dengan deras.
Saya ingat menonton Toy Story ini sewaktu tokoh Andy masih kecil. Di Toy Story 1 sewaktu perkenalan Woody dengan Buzz atau di Toy Story 2 sewaktu masuk tokoh Jessie si koboy perempuan. Jadi saya, si anak cengeng ini ngerti banget beratnya Andy kehilangan Woody dan mainan-mainannya yang lain.
Tapi dari film itu saya belajar, bahwa berpisah dengan sesuatu yang kita sayangin bukan berarti selesai. Tuhan selalu punya rencana indah dibalik semuanya. Andy masuk kuliah sementara mainan-mainan Andy punya banyak teman baru dan tidak hanya teronggok diatas loteng saja.
Jadi untuk sebuah perpisahan yang akan saya alami hari ini, saya jadi ga begitu sedih. Belajar dari film Toy Story yang saya tonton tadi malam. Saya tahu, suatu hari nanti Tuhan akan memberikan saya sebuah hal baru yang lebih baik dari perpisahan saya hari ini.
Kalau saya tadi malem waktu nonton Toy Story 3 yang diputar ulang di Star Movies. Padahal saya nonton hanya kebagian setengah jam terakhir aja karena ada urusan dulu sepulang kantor.
Sebagai orang yang terkenal cengeng, air mata saya mulai keluar sewaktu para boneka milik Andy saling berpegangan tangan saat mereka sadar akan jatuh kedalam tempat peleburan besi. Tapi akhirnya mereka diselamatnya oleh boneka 3 aliens dari planet Pizza.
Lalu saya sedih lagi sewaktu semua boneka tersebut pulang kerumah Andy dan mereka memisahkan diri kedalam kardus yang berbeda. Hanya Woody yang dibawa Andy karena ia akan pergi kuliah ditempat baru masuk kedalam kardus bertuliskan College. Sisanya masuk kedalam kardus bertuliskan Attic, yang artinya mereka akan disimpan didalam loteng. Ucapan perpisahan dan Buzz Lightyear kepada Woody " you'll know where to find me " katanya sebelum masuk kedalam kardus bertuliskan Attic tersebut.
Ternyata kardus yang bertuliskan Attic disumbangkan Andy kepada Bonnie, seorang anak perempuan penyayang boneka. Satu demi satu boneka tersebut dimainkan Andy didepan Bonnie.
" Ini Jessie, si koboy perempuan, dia tidak pernah jauh-jauh dari kuda kesayangannya Bullseye "
" Ini Rex, si dinosaurus paling kejam.... "
" Ini Mr dan Mrs Potato Head, mereka tidak bisa dipisahkan karena mereka saling mencintai "
" Ini Slinky si anjing yang baik "
" Ini Hamm, si babi licik, tapi dia akan membantu menyimpan uangmu "
" Ini tiga aliens aneh dari Planet Pizza "
" Ini Buzz Lightyear, polisi ruang angkasa. Dia akan melindungimu dari kejahatan si Zorg. Lihat dia punya senjara sinar laser "
Lalu Bonnie melongok kedalam kotak dan berteriak " hey cowboy.... " sambil menunjuk Woody yang tergeletak didasar kotak. Awalnya Andy berat menyerahkan Woody kepada Bonnie " he's my best friend " kata Andy sambil memeluk Woody. Akhirnya Woody pun diserahkan Andy kepada Bonnie sambil berpesan " tolong jaga mainan tersebut dengan baik ". Okeee.... air mata saya mengucur lagi dengan deras.
Saya ingat menonton Toy Story ini sewaktu tokoh Andy masih kecil. Di Toy Story 1 sewaktu perkenalan Woody dengan Buzz atau di Toy Story 2 sewaktu masuk tokoh Jessie si koboy perempuan. Jadi saya, si anak cengeng ini ngerti banget beratnya Andy kehilangan Woody dan mainan-mainannya yang lain.
Tapi dari film itu saya belajar, bahwa berpisah dengan sesuatu yang kita sayangin bukan berarti selesai. Tuhan selalu punya rencana indah dibalik semuanya. Andy masuk kuliah sementara mainan-mainan Andy punya banyak teman baru dan tidak hanya teronggok diatas loteng saja.
Jadi untuk sebuah perpisahan yang akan saya alami hari ini, saya jadi ga begitu sedih. Belajar dari film Toy Story yang saya tonton tadi malam. Saya tahu, suatu hari nanti Tuhan akan memberikan saya sebuah hal baru yang lebih baik dari perpisahan saya hari ini.
Thursday, July 28, 2011
Film
Jujur aja saya sama hubby ga addict-addict amat nonton bioskop. Bisa nonton syukuuuurrr.... ga nonton juga ga apa-apa. Saya dan hubby ga termasuk golongan yang ngebela-belain antri nonton bioskop demi sebuah film. Pasti inget deh waktu jamannya 2012 lagi booming. Antri sana-sini sampe ada yang kehabisan karcis. Ga pernah tuh saya nonton Premier. Pokoknya nonton titik!!! dimana aja, kapan aja.... ga peduli juga mau 3D atau bisokop biasa. Pokoknya nonton!!
Apalagi hubby.... wong mau makan di GM tapi pake acara ngantri aja malesnya setengah mati. " Pokoknya yaaa... selama di PI Mall ini masih banyak restaurant, ga mau aku ngantri-ngantri gitu.... " hihihihihi...
Balik lagi ke film.
Waktu kita pacaran emang kita banyak ngabisin waktu di bioskop. Kita pernah kena dramanya Pearl Harbor dimana kita kesana-kesini kehabisan tiket. Lucunya makin mendekati ke nikah, eh hubby malah makin sering malam mingguan dirumah ortu saya. Ritualnya?? tidur!!!! Yup, jam 9 sampe jam 11 malem pasti dia tidur diruang tamu. Sementara saya?? nepok-nepokin nyamuk yang nemplok di badannya hubby :))
Waktu itu ceritanya kita mau berhemat buat biaya nikah, jadinya acara malam mingguan pindah dirumah aja.
Semenjak nikah juga gitu. Saya dan hubby males untuk bela-belain nonton jauh-jauh. Waktu baru nikah dan masih tinggal dirumah mertua, memang saya nonton lebih banyak di PIM (waktu itu PIM masih ada 1) karena posisi rumah mertua yang ga begitu jauh dari PI Mall. Trus waktu punya rumah, nontonnya malah pindah ke Bintaro Plaza.
Secara level emang nonton di BinPlaz ini kaya turun level. Dari film-filmnya, penontonnya. Tapi sudahlaaahh... toh yang penting filmnya bener. Biasanya kalo mau nonton saya udah janjian sama hubby, " ntar hari Jumat nonton yuk di BP yang jam 7 atau jam 8 malem, film ini ". Nah saya atau hubby dulu-duluan beli tiketnya. Siapa yang sampe duluan di BinPlaz dia yang beli tiket. Sebelum nonton kita makan dulu biasanya.
Ada kejadian lucu di BinPlaz. Waktu itu ceritanya Transformer 2 udah main di beberapa bioskop ditengah kota. Sementara di BinPlaz masih beredar film-film hantu lokal. Nah seperti biasa saya bilang " ntar kalo transformer udah main di BP, nonton yuk ". Hubby mau.
Tunggu punya tunggu, tiap ke BinPlaz saya selalu sempatkan mampir ke bioskopnya. Eh kok Transformer 2 belum ada juga yaaa??? di bagian Coming Soon-nya juga ga ada. Akhirnya sampe Transformer 2 habis masa putarnya, ternyata film itu ga pernah mampir ke BinPlaz. Dan seperti biasa, yang beredar di BinPlaz film hantu-hantu lokal lagi.
Semenjak kejadian itu, tiap kali ada film bagus kita 'berjuang' untuk nonton minimal ke PI Mall. Ga mau kecolongan lagi. Tapi lucunya kita malah milih nonton pas filmnya udah nyaris habis masa tayangnya di bioskop. Lagi-lagi.... karena saya dan hubby ga mau repot-repot ngantri panjang.
Waktu film box office ga masuk ke Indonesia, kita ga begitu terganggu-terganggu amat. Sebel sih kalo liat traillernya di TV misalnya kaya Green Lantern, Transformer 3. Tapi ga nyesek-nyesek amat juga. Sampe saya pernah ngebatin dalam hati " ga apa-apa deh ga nonton di bioskop. Sabar aja nunggu setahun, ntar juga diputer di HBO ". Hihihihihi....
Di twitter sering ada yang sounding, bahwa film box office mau masuk Indonesia lagi. Tapi begitu hari H-nya lewat begitu aja. Tiba-tiba pas saya lagi asyik-asyik ngopi sama seorang teman di Starbucks BinPlaz, hubby jalan-jalan di BP dan mampir ke bisokopnya. Begitu balik lagi ke Starbucks dengan sumringah dia bilang " tau gak, Harry Potter: The Deadly Hollows 2 sama Transformer 3 mau tayang di Bintaro Plaza ".
Nonton film sering jadi sarana saya ngelepasin sumpek. Sumpek sama kerjaan kantor, sumpek sama kondisi sehari-hari yang monoton gitu-gitu aja. Makanya waktu hubby bilang bahwa Transformer 3 dan Harry Potter mau ditayangin di BinPlaz sepertinya saya perlu bilang " Alhamdulillah.... akhirnyaaaa......... "
Saya ingat beberapa minggu lalu pulang kantor hari Jumat, saya pusing dan saya ngajak hubby nonton apa aja yang ditayangan di BinPlaz " pokoknya nonton, apa aja deeeh ". Hubby tersenyum dan bilang gini " yuk, mau nonton apa? Kuntilanak Penasaran atau mau nonton Arwah Mandi Goyang Pinggul? " Saya yang ga percaya langsung menarik tangan hubby ke dalam bioskop, ujungnya saya makin pusing. Ini bioskop atau rumah dukun sih? Kok isinya, Arwah, Jenglot, Kuntilanak......????
Apalagi hubby.... wong mau makan di GM tapi pake acara ngantri aja malesnya setengah mati. " Pokoknya yaaa... selama di PI Mall ini masih banyak restaurant, ga mau aku ngantri-ngantri gitu.... " hihihihihi...
Balik lagi ke film.
Waktu kita pacaran emang kita banyak ngabisin waktu di bioskop. Kita pernah kena dramanya Pearl Harbor dimana kita kesana-kesini kehabisan tiket. Lucunya makin mendekati ke nikah, eh hubby malah makin sering malam mingguan dirumah ortu saya. Ritualnya?? tidur!!!! Yup, jam 9 sampe jam 11 malem pasti dia tidur diruang tamu. Sementara saya?? nepok-nepokin nyamuk yang nemplok di badannya hubby :))
Waktu itu ceritanya kita mau berhemat buat biaya nikah, jadinya acara malam mingguan pindah dirumah aja.
Semenjak nikah juga gitu. Saya dan hubby males untuk bela-belain nonton jauh-jauh. Waktu baru nikah dan masih tinggal dirumah mertua, memang saya nonton lebih banyak di PIM (waktu itu PIM masih ada 1) karena posisi rumah mertua yang ga begitu jauh dari PI Mall. Trus waktu punya rumah, nontonnya malah pindah ke Bintaro Plaza.
Secara level emang nonton di BinPlaz ini kaya turun level. Dari film-filmnya, penontonnya. Tapi sudahlaaahh... toh yang penting filmnya bener. Biasanya kalo mau nonton saya udah janjian sama hubby, " ntar hari Jumat nonton yuk di BP yang jam 7 atau jam 8 malem, film ini ". Nah saya atau hubby dulu-duluan beli tiketnya. Siapa yang sampe duluan di BinPlaz dia yang beli tiket. Sebelum nonton kita makan dulu biasanya.
Ada kejadian lucu di BinPlaz. Waktu itu ceritanya Transformer 2 udah main di beberapa bioskop ditengah kota. Sementara di BinPlaz masih beredar film-film hantu lokal. Nah seperti biasa saya bilang " ntar kalo transformer udah main di BP, nonton yuk ". Hubby mau.
Tunggu punya tunggu, tiap ke BinPlaz saya selalu sempatkan mampir ke bioskopnya. Eh kok Transformer 2 belum ada juga yaaa??? di bagian Coming Soon-nya juga ga ada. Akhirnya sampe Transformer 2 habis masa putarnya, ternyata film itu ga pernah mampir ke BinPlaz. Dan seperti biasa, yang beredar di BinPlaz film hantu-hantu lokal lagi.
Semenjak kejadian itu, tiap kali ada film bagus kita 'berjuang' untuk nonton minimal ke PI Mall. Ga mau kecolongan lagi. Tapi lucunya kita malah milih nonton pas filmnya udah nyaris habis masa tayangnya di bioskop. Lagi-lagi.... karena saya dan hubby ga mau repot-repot ngantri panjang.
Waktu film box office ga masuk ke Indonesia, kita ga begitu terganggu-terganggu amat. Sebel sih kalo liat traillernya di TV misalnya kaya Green Lantern, Transformer 3. Tapi ga nyesek-nyesek amat juga. Sampe saya pernah ngebatin dalam hati " ga apa-apa deh ga nonton di bioskop. Sabar aja nunggu setahun, ntar juga diputer di HBO ". Hihihihihi....
Di twitter sering ada yang sounding, bahwa film box office mau masuk Indonesia lagi. Tapi begitu hari H-nya lewat begitu aja. Tiba-tiba pas saya lagi asyik-asyik ngopi sama seorang teman di Starbucks BinPlaz, hubby jalan-jalan di BP dan mampir ke bisokopnya. Begitu balik lagi ke Starbucks dengan sumringah dia bilang " tau gak, Harry Potter: The Deadly Hollows 2 sama Transformer 3 mau tayang di Bintaro Plaza ".
Nonton film sering jadi sarana saya ngelepasin sumpek. Sumpek sama kerjaan kantor, sumpek sama kondisi sehari-hari yang monoton gitu-gitu aja. Makanya waktu hubby bilang bahwa Transformer 3 dan Harry Potter mau ditayangin di BinPlaz sepertinya saya perlu bilang " Alhamdulillah.... akhirnyaaaa......... "
Saya ingat beberapa minggu lalu pulang kantor hari Jumat, saya pusing dan saya ngajak hubby nonton apa aja yang ditayangan di BinPlaz " pokoknya nonton, apa aja deeeh ". Hubby tersenyum dan bilang gini " yuk, mau nonton apa? Kuntilanak Penasaran atau mau nonton Arwah Mandi Goyang Pinggul? " Saya yang ga percaya langsung menarik tangan hubby ke dalam bioskop, ujungnya saya makin pusing. Ini bioskop atau rumah dukun sih? Kok isinya, Arwah, Jenglot, Kuntilanak......????
Monday, July 25, 2011
Program #2
Ada yang nanya kenapa saya butuh waktu 3 tahun buat semangat lagi??? Simple :
1) Saya harus nabung dulu
2) Saya harus nyiapin mental
Obrolan terakhir saya dengan seorang teman yang kebetulan dikasih kemudahan oleh Tuhan buat ngedapetin anak berakhir dengan kata-kata " baru tau gue ternyata segitu beratnya ya program hamil itu ". Yup! berbahagialah kalian yang diberi kemudahahan.
Kenapa nabung?
Mereka yang udah sukses hamil pasti tau banget ada serangkaian test yang harus dijalani oleh para ibu hamil. Sementara kita?? Sama malah cenderung lebih rumit. Weekend kemarin teman saya menanyakan mengapa siku bagian dalam kedua tangan saya memar-memar. Itu karena hari Rabu minggu lalu saya melakukan pengambilan darah tiga kali dalam waktu kurang dari 1 jam. Tiap 15 menit sekali saya dipanggil untuk diambil darahnya 1.5 ampul (karena banyaknya test yang harus saya lalui, 1 ampul dirasa ga cukup. Sehingga tiap kali pengambilan dilakukan pengambilan 1.5 ampul). Saya ingat waktu tangan kiri-kanan saya sudah diplester dan kemudian saya dipanggil lagi untuk pengambilan darah ke-3, saya sampe bilang ke mba Fridya " terserah mbak deh mau ditusuk dimana lagi saya " hihihihi...
Nah untuk cek lab ini itu cukup menguras dompet biayanya. Makanya saya pernah ngetwit di twitter kalo saya paling takut bawa lembar permohonan pemeriksaan lab dimana dokter kandungan saya memberikan banyak contrengan apa saja yang harus saya test. Karena begitu si mbak kasir di lab selesai menghitung, akan keluar angka... " jadi total semuanyaaaa...... engingeng... ". Untungnya tiap kali urusan ini hubby ga pernah menunjukkan ekspresi kaget, stress, sebal. Pasti jawaban yang saya terima dari hubby " gak apa-apa, kan untuk si kecil " *hugs hubby erat-erat*
Selesai disitu?? Belum. Saya pernah melalui taraf hydroturbasi. Kali ini saya harus melalui X-Ray rahim dimana si dokter mau mengecek saluran falopi saya. Setelah itu mulai deh bolak-balik untuk cek sel telur, nyuntik obat pemecah folikel hingga ke program inseminasinya sendiri. Biayanya? ga usah saya cerita. Tapi saya masih beruntung karena lebih banyak lagi teman-teman seperjuangan saya yang udah berobat dan mengeluarkan uang puluhan hingga ratusan juta demi kehadiran buah hati. Jadi intinya saya bisa mengucap mengucap Alhamdulillah....
Kenapa mental?
Buat kami yang melalui program ini kadang-kadang sering mempersiapkan mental sebelum masuk kedalam ruang dokter. Seperti cerita teman seperjuangan saya, bahwa obat-obatan hormon yang dia konsumsi malah memicu timbulnya kista. Sementara saya? Saya ingat sewaktu saya punya masalah prolactin dulu, saya pernah disangka punya tumor otak. Gimana perasaan saya dulu? Stress minta ampun. Padahal saya justru sedang disuruh mengurangi stress demi kelancaran program. Saya ingat waktu dokter bilang " waktu gadis dulu mensnya teratur ga? " Jujur aja saya ga pernah merhatiin karena saya mikir saya ga pernah melakukan perbuatan yang aneh-aneh. Jadi saya ga pernah memperhatikan siklus menstruasi saya.
Belum lagi kalau kita bawa hasil lab kita ke dokter. Sama seperti menunggu total harga yang diberikan oleh bagian kasir di lab. Menunggu dokter membacakan hasil lab butuh kekuatan mental besar. Apalagi kalau kita terima jawaban " ooohh..... ininya bermasalaaah.... ". Syukur kalo hasil lab yang dibaca dokter bagus semua.
Sering banget saya baca blog mereka yang sedang program hamil justru down setelah keluar dari dokter kandungan. Ada yang kaget karena ternyata ditemukan miom/kista dirahimnya, ada yang bermasalah hormon, ada yang masalah di suaminya, ada yang bermasalah karena punya virus yang membahayakan janin di badannya. Saya juga pernah menjadi bagian dari mereka. Makanya saya bilang, saya perlu menyiapkan mental dulu sebelum memulai program lagi.
Karena mental ini adalah satu hal yang teramat penting didalam program. Kalau mentalnya down, hormon bermasalah, artinya semua program akan jadi sia-sia. Belum lagi kalo timbul malesnya, timbul capeknya... Rasanya udah berat banget kaki melangkah ke dokter. Makanya saya mesti siapin mental saya benar-benar.
Jadi buat tadi yang nanya via BBM, semoga jawaban saya ini bisa memperjelas ya... Sekarang yang harus saya lakukan hanya menenangkan hati dan pikiran saya. Menjauhi stress dan banyak berdoa semua program saya lancar.
1) Saya harus nabung dulu
2) Saya harus nyiapin mental
Obrolan terakhir saya dengan seorang teman yang kebetulan dikasih kemudahan oleh Tuhan buat ngedapetin anak berakhir dengan kata-kata " baru tau gue ternyata segitu beratnya ya program hamil itu ". Yup! berbahagialah kalian yang diberi kemudahahan.
Kenapa nabung?
Mereka yang udah sukses hamil pasti tau banget ada serangkaian test yang harus dijalani oleh para ibu hamil. Sementara kita?? Sama malah cenderung lebih rumit. Weekend kemarin teman saya menanyakan mengapa siku bagian dalam kedua tangan saya memar-memar. Itu karena hari Rabu minggu lalu saya melakukan pengambilan darah tiga kali dalam waktu kurang dari 1 jam. Tiap 15 menit sekali saya dipanggil untuk diambil darahnya 1.5 ampul (karena banyaknya test yang harus saya lalui, 1 ampul dirasa ga cukup. Sehingga tiap kali pengambilan dilakukan pengambilan 1.5 ampul). Saya ingat waktu tangan kiri-kanan saya sudah diplester dan kemudian saya dipanggil lagi untuk pengambilan darah ke-3, saya sampe bilang ke mba Fridya " terserah mbak deh mau ditusuk dimana lagi saya " hihihihi...
Nah untuk cek lab ini itu cukup menguras dompet biayanya. Makanya saya pernah ngetwit di twitter kalo saya paling takut bawa lembar permohonan pemeriksaan lab dimana dokter kandungan saya memberikan banyak contrengan apa saja yang harus saya test. Karena begitu si mbak kasir di lab selesai menghitung, akan keluar angka... " jadi total semuanyaaaa...... engingeng... ". Untungnya tiap kali urusan ini hubby ga pernah menunjukkan ekspresi kaget, stress, sebal. Pasti jawaban yang saya terima dari hubby " gak apa-apa, kan untuk si kecil " *hugs hubby erat-erat*
Selesai disitu?? Belum. Saya pernah melalui taraf hydroturbasi. Kali ini saya harus melalui X-Ray rahim dimana si dokter mau mengecek saluran falopi saya. Setelah itu mulai deh bolak-balik untuk cek sel telur, nyuntik obat pemecah folikel hingga ke program inseminasinya sendiri. Biayanya? ga usah saya cerita. Tapi saya masih beruntung karena lebih banyak lagi teman-teman seperjuangan saya yang udah berobat dan mengeluarkan uang puluhan hingga ratusan juta demi kehadiran buah hati. Jadi intinya saya bisa mengucap mengucap Alhamdulillah....
Kenapa mental?
Buat kami yang melalui program ini kadang-kadang sering mempersiapkan mental sebelum masuk kedalam ruang dokter. Seperti cerita teman seperjuangan saya, bahwa obat-obatan hormon yang dia konsumsi malah memicu timbulnya kista. Sementara saya? Saya ingat sewaktu saya punya masalah prolactin dulu, saya pernah disangka punya tumor otak. Gimana perasaan saya dulu? Stress minta ampun. Padahal saya justru sedang disuruh mengurangi stress demi kelancaran program. Saya ingat waktu dokter bilang " waktu gadis dulu mensnya teratur ga? " Jujur aja saya ga pernah merhatiin karena saya mikir saya ga pernah melakukan perbuatan yang aneh-aneh. Jadi saya ga pernah memperhatikan siklus menstruasi saya.
Belum lagi kalau kita bawa hasil lab kita ke dokter. Sama seperti menunggu total harga yang diberikan oleh bagian kasir di lab. Menunggu dokter membacakan hasil lab butuh kekuatan mental besar. Apalagi kalau kita terima jawaban " ooohh..... ininya bermasalaaah.... ". Syukur kalo hasil lab yang dibaca dokter bagus semua.
Sering banget saya baca blog mereka yang sedang program hamil justru down setelah keluar dari dokter kandungan. Ada yang kaget karena ternyata ditemukan miom/kista dirahimnya, ada yang bermasalah hormon, ada yang masalah di suaminya, ada yang bermasalah karena punya virus yang membahayakan janin di badannya. Saya juga pernah menjadi bagian dari mereka. Makanya saya bilang, saya perlu menyiapkan mental dulu sebelum memulai program lagi.
Karena mental ini adalah satu hal yang teramat penting didalam program. Kalau mentalnya down, hormon bermasalah, artinya semua program akan jadi sia-sia. Belum lagi kalo timbul malesnya, timbul capeknya... Rasanya udah berat banget kaki melangkah ke dokter. Makanya saya mesti siapin mental saya benar-benar.
Jadi buat tadi yang nanya via BBM, semoga jawaban saya ini bisa memperjelas ya... Sekarang yang harus saya lakukan hanya menenangkan hati dan pikiran saya. Menjauhi stress dan banyak berdoa semua program saya lancar.
Program lagi
Setelah sempet maleeeeesss banget berprogram-program kehamilan dan memilih pasrah. Mendadak saya tersentak semangat lagi. Banyak banget yang saya lalui sampai akhirnya semangat lagi.
Ada bu ustazah yang 'ngebuka' mata dan hati saya dengan ceramahnya. Ada para saudara dan sahabat yang ga pernah bosen kasih semangat. Hingga satu dan lain hal lainnya.
Awalnya saya yang udah putus semangat hendak memilih jalur adopsi. Udah semangat BBM-an sama beberapa orang yang udah melalui phase adopsi ini dengan sukses. Udah ngobrol langsung sama beberapa orang dan semuanya kasih sinyal positif. Tapi satu dan lain hal mengubah rencana saya.
Singkat kata, sejak pertengahan April kemaren saya udah mulai kasak-kusuk pengen program lagi. Tapi belum tahu kemana dan apa yang mesti saya lakukan. Secara yaaa.... yang namanya program ini capeeekk banget dan butuh semangat 120%. Ini karena saya udah puas berkali-kali ikutan program hamil.
Trus entah kenapa suatu ketika hubby ngobrol sama sahabatnya dan si sahabat cerita kalo ada seorang staffnya dia sukses program. Saya yang tadinya males-malesan karena udah yakin mau adopsi aja jadi kepengen lagi. Walopun udah bakalan tau apa aja yang harus saya hadapi. Hubby pun makin rajin BBM-an sama staff sahabatnya (walopun awalnya agak ribet minta pin BBnya dia). Tapi begitu dapat, orangnya baik banget dan ga pelit untuk bagi-bagi cerita soal programnya.
Dokter yang bantu dia pun enak lagi, bisa praktek di RSPI atau di Premier Bintaro. Semuanya deket rumah. Akhirnya dengan mengucap bismillah, saya mulai program lagi awal Juni kemaren dan kali ini lebih serius dari program-program saya sebelumnya. Bukannya program sebelumnya asal-asalan ya.... tapi waktu itu saya masih lebih santai... Kalo dulu tingkat seriusnya 100%, kali ini saya maju dengan tingkat keseriusan 200%.
Singkat cerita, saya berkunjung ke dokter spesialis fertilitas ini. Tanpa persiapan apa-apa. Biasanya saya paling rajin bikin catatan menstruasi, tapi kali ini enggak sama sekali. Waktu datang ke dokter bulan Juni saya aja lupa, bukan Juni itu saya sudah haid apa belum. Hihihihi.... sampe dokternya bingung. Lucunya lagi si dokter mendadak galak waktu baru aja kita masuk ruang periksa, tapi saya langsung minta di inseminasi ya dooookkk....
Untungnya saya ga pernah lupa phase-phase apa aja yang udah saya lewati. Saya bisa menceritakannya dengan detil walopun itu terjadi hampir 3 tahun yang lalu (program terakhir saya sebelum akhirnya stop 3 tahun ini). Setelah saya ceritain semua, akhirnya kita masuk ke langkah selanjutnya cek rahim. Alhamdulillah rahim saya bersih dan tidak ditemukan kista/miom walaupun saya pernah keguguran. Setelah itu saya masuk ke langkah selanjutnya alias cek lab.
Cek darah ini benar-benar bikin saya bolak-balik Prodia Bintaro berkali-kali. Karena ada test yang bisa diambil kapan saja tapi ada yang harus dilakukan saat menstruasi. Belum lagi saya harus puasa dahulu. Gara-gara bolak balik lab ini (saya pake Prodia Bintaro) saya sampe jadi mayornya di Foursquare...hihihi dan saya sampe dikenal sama salah satu tenaga medisnya (Ibu Fridya) yang udah berkali-kali juga nusuk tangan saya buat ambil darah. Ibu Fridya ini juga ga pelit bagi-bagi cerita soal program hamil karena banyak pasangan yang lagi program hamil juga melakukan cek ke Prodia.
Minggu ini saya kembali akan balik ke RSPI lagi untuk X-Ray rahim. Insya Allah hasilnya juga sebaik test lab saya kemaren. Alhamdulillah saya bersih dari virus Torch, hormon Prolactin saya sudah normal dan gula darah juga normal.
Saya berharap semua program bisa saya lalui tetap dengan semangat 200% dan Insya Allah bisa sukses diakhir program nanti. Amiiiiiiiiiinnn *doa yang kenceng*
Ada bu ustazah yang 'ngebuka' mata dan hati saya dengan ceramahnya. Ada para saudara dan sahabat yang ga pernah bosen kasih semangat. Hingga satu dan lain hal lainnya.
Awalnya saya yang udah putus semangat hendak memilih jalur adopsi. Udah semangat BBM-an sama beberapa orang yang udah melalui phase adopsi ini dengan sukses. Udah ngobrol langsung sama beberapa orang dan semuanya kasih sinyal positif. Tapi satu dan lain hal mengubah rencana saya.
Singkat kata, sejak pertengahan April kemaren saya udah mulai kasak-kusuk pengen program lagi. Tapi belum tahu kemana dan apa yang mesti saya lakukan. Secara yaaa.... yang namanya program ini capeeekk banget dan butuh semangat 120%. Ini karena saya udah puas berkali-kali ikutan program hamil.
Trus entah kenapa suatu ketika hubby ngobrol sama sahabatnya dan si sahabat cerita kalo ada seorang staffnya dia sukses program. Saya yang tadinya males-malesan karena udah yakin mau adopsi aja jadi kepengen lagi. Walopun udah bakalan tau apa aja yang harus saya hadapi. Hubby pun makin rajin BBM-an sama staff sahabatnya (walopun awalnya agak ribet minta pin BBnya dia). Tapi begitu dapat, orangnya baik banget dan ga pelit untuk bagi-bagi cerita soal programnya.
Dokter yang bantu dia pun enak lagi, bisa praktek di RSPI atau di Premier Bintaro. Semuanya deket rumah. Akhirnya dengan mengucap bismillah, saya mulai program lagi awal Juni kemaren dan kali ini lebih serius dari program-program saya sebelumnya. Bukannya program sebelumnya asal-asalan ya.... tapi waktu itu saya masih lebih santai... Kalo dulu tingkat seriusnya 100%, kali ini saya maju dengan tingkat keseriusan 200%.
Singkat cerita, saya berkunjung ke dokter spesialis fertilitas ini. Tanpa persiapan apa-apa. Biasanya saya paling rajin bikin catatan menstruasi, tapi kali ini enggak sama sekali. Waktu datang ke dokter bulan Juni saya aja lupa, bukan Juni itu saya sudah haid apa belum. Hihihihi.... sampe dokternya bingung. Lucunya lagi si dokter mendadak galak waktu baru aja kita masuk ruang periksa, tapi saya langsung minta di inseminasi ya dooookkk....
Untungnya saya ga pernah lupa phase-phase apa aja yang udah saya lewati. Saya bisa menceritakannya dengan detil walopun itu terjadi hampir 3 tahun yang lalu (program terakhir saya sebelum akhirnya stop 3 tahun ini). Setelah saya ceritain semua, akhirnya kita masuk ke langkah selanjutnya cek rahim. Alhamdulillah rahim saya bersih dan tidak ditemukan kista/miom walaupun saya pernah keguguran. Setelah itu saya masuk ke langkah selanjutnya alias cek lab.
Cek darah ini benar-benar bikin saya bolak-balik Prodia Bintaro berkali-kali. Karena ada test yang bisa diambil kapan saja tapi ada yang harus dilakukan saat menstruasi. Belum lagi saya harus puasa dahulu. Gara-gara bolak balik lab ini (saya pake Prodia Bintaro) saya sampe jadi mayornya di Foursquare...hihihi dan saya sampe dikenal sama salah satu tenaga medisnya (Ibu Fridya) yang udah berkali-kali juga nusuk tangan saya buat ambil darah. Ibu Fridya ini juga ga pelit bagi-bagi cerita soal program hamil karena banyak pasangan yang lagi program hamil juga melakukan cek ke Prodia.
Minggu ini saya kembali akan balik ke RSPI lagi untuk X-Ray rahim. Insya Allah hasilnya juga sebaik test lab saya kemaren. Alhamdulillah saya bersih dari virus Torch, hormon Prolactin saya sudah normal dan gula darah juga normal.
Saya berharap semua program bisa saya lalui tetap dengan semangat 200% dan Insya Allah bisa sukses diakhir program nanti. Amiiiiiiiiiinnn *doa yang kenceng*
Subscribe to:
Posts (Atom)