Waktu kecil dulu, saya pernah diajari atau lebih tepatnya 'dinasehati' oleh orang tua saya untuk TIDAK jadi anak yang tangannya GATEL. Gatel dalam artian bawaannya pengen megang barang / sesuatu yang bukan miliknya. Punya rasa ingin tahu boleh, tapi orang tua saya 'meredam' rasa ingin tahu ini dengan cara :
Daripada langsung megang dan membuat pemilik barang marah, kan lebih baik nanya atau permisi dulu. Boleh atau tidak kita memegang sesuatu yang merupakan miliknya. Kalau misalnya tidak boleh, ya kita harus cukup puas memandang dari jauh. Kalau dibolehkan memegang, kita harus hati-hati memegangnya. Intinya, permisi dahulu itu lebih sopan daripada langsung ngambil/memegang.
Sampai sekarang nasehat orang tua saya masih nempel sama saya. Alhamdulillah saya ga pernah punya masalah dengan orang lain karena mereka merasa terganggu dengan kegatelan tangan saya :)).
Suatu ketika beberapa teman saya main ke rumah. Salah satu diantaranya membawa seorang anak kecil (mungkin berusia 5-6 tahun). Dirumah saya, tangannya gatel hendak membuka lemari kaca tempat suami saya menyimpan koleksi action figure Supermannya. Yup, suami saya adalah seorang kolektor action figure superman. Sebagian koleksinya disimpan disebuah lemari kaca dirumah kami, sisanya disimpan dikamar tidur tamu.
Nah anaknya teman saya ini gateeeelll banget pengen memainkan salah satu Superman yang terpajang di dalam lemari kaca. Memang sebagian besar koleksi Superman milik suami saya adalah collector items yang tidak dijual di toko-toko mainan biasa. Jadi si anak pengen tahu banget kenapa banyak superman yang aneh-aneh di lemari kaca tersebut. Tangannya sudah mulai mencoba membuka lemari kaca tersebut. Begitu saya melihat, langsung saya larang. Pelan-pelan saya melarangnya, saya bilang ini bukan mainan. Lalu si anak merajuk, dia berlari ke ibunya (teman saya) dan meminta agar dibolehkan memainkan superman koleksi tersebut.
Tanpa ba-bi-bu lagi, tiba-tiba teman saya mendatangi lemari kaca tersebut, membukanya dan berusaha meraih salah satu Superman koleksi suami saya. Saya baru sadar waktu diberitahu teman yang lain, dan mendengar suara " yang itu mah.. yang itu... ". Waktu saya mendatangi lemari kaca tersebut. Saya sangat terkejut, bahwa lemari sudah terbuka, tangan teman saya sudah masuk kedalam dan berusaha meraih Superman yang diinginkan anaknya. Saya langsung menjerit seketika. Teman saya kaget, anaknya lebih kaget lagi. Saat itu saya terlibat pertengkaran dengan teman saya.
Dengan alasan " pinjam sebentar aja " dia memaksa untuk mengambil Superman dari lemari kaca. Tapi saya tetap tidak mau kasih satupun ke anaknya. Awalnya saya masih berusaha memberitahunya pelan-pelan. Kenapa ini bukan mainan tetapi berupa barang koleksi. Tetapi teman saya makin marah, dengan ketus dia bilang " Cuma mainan begini aja, nanti kalo rusak gue ganti 10 biji di toko mainan. Pelit amat sih!!!! ". Saya bilang ke dia, kalau dia bisa menemukan Superman tersebut di toko mainan silahkan dibeli buat anaknya sendiri daripada mengganggu koleksi saya. Kalau dia ga bisa menemukannya di toko mainan, saya harap dia sadar kenapa saya pelit.
Siapa yang tahu pada saat anaknya sedang memainkan Superman tersebut, tanpa dia sadari anaknya bisa merusak koleksi saya. Mungkin bukan patah, tapi kalau tergores? Bukannya nuduh, tapi siapa yang tahu kan? Kalau sudah begitu paling-paling saya cuma mendapat kata " maaf ya, ga sengaja nih rusak. Nanti, gue larang deh anak gue mainin lagi ". Saya pasti ga akan meminta uang pengganti ke dia. Tapi kenapa ga sejak awal dia melarang anaknya?
Banyak yang bilang, saya belum punya anak aja jadinya saya ga pernah ngerasain nakalnya anak-anak. Tapi disini sekali lagi, justru karena nasehat orang tua saya yang masih nempel pada saya hingga saat ini. Kelak saya akan berusaha mengajarkan anak saya seperti orang tua saya mengajarkan saya dulu.
Sejak saat itu hubungan saya dengan teman saya emang rada renggang. Tapi saya sih ga peduli. Toh, kalo kebetulan saya sedang bertandang kerumahnya, saya ga seenaknya tuh 'menggeledah' rumahnya, walaupun kami sudah berteman tahunan.
Yuk kita sama-sama menghargai barang/sesuatu milik orang lain. Biar sama-sama enak. Dan kelak ga ada masalah antara satu dengan yang lain.
Monday, September 19, 2011
Saturday, September 10, 2011
Kenapa selalu beda???
Waktu saya kecil dulu kayaknya ga pernah ada masalah dengan lebaran. Pokoknya kalo kalender bilang lebaran sekian, lebaran pasti sama seperti tanggal merah di kalender. Beberapa tahun terakhir nampaknya lebaran lebih sering berbedanya daripada kalender. Biasanya sih duluan, entah kenapa tahun ini lebaran baru belakangan jatuhnya dari tanggal merah di kalender.
Saya ingat beberapa tahun lalu, H-1 Lebaran saya malah menemani mama beli kulkas baru. Saat itu ada yang udah lebaran duluan. Diperjalanan saya ngeliatin ada yang udah minum teh botol dingin. Padahal saat itu saya masih nahan haus karena puasa.
Pernah lagi entah tahun kapan. Seperti biasa H-1 lebaran saya cuci dan vacuum mobil di salon mobil. Saat itu juga ada yang udah lebaran. Saya ingat banget salah satu pelanggan salon mobil tersebut datang setelah selesai shalat Ied dan asyik memesan secangkir kopi. Sementara saya dan hubby, tetap ikut pemerintah.
Kalau lebaran udah beda begini biasanya mama atau saya saling menelpon dan bertanya " ikut lebatan yang mana?? " Ga asyik banget. Kenapa sih ga lebaran barengan?? Tapi saya dan ortu juga keluarga mertua tetap ikut pemerintah. Tapi tetap aja ga asyik menurut saya. Soalnya kalau silaturahmi, suka ada pertanyaan " ikut lebaran yang mana? kemarin atau hari ini?? ". Lucu kan??
Tahun ini hari terakhir puasa, saya janjian sama para ipar ketemuan di PIM. Sebelum pulang kita mampir di Spinelli Cafe dulu. Awalnya jam 19.30 para karyawan Spinelli bilang " maaf ya pak, bu kita udah last order. Ada yang mau dipesan lagi? ". Ga nyalahin mereka juga sih, waktu itu kita kan menyangka udah malam takbiran. Wajar kalau mereka mau cepat pulang.
Selama di Spinelli, saya dan ipar-ipar was-was nunggu hasil sidang isbat soal penetapan lebaran. Akhirnya pemerintah menetapkan, bahwa lebaran mundur 1 hari lagi. Dan besok hari yang semestinya lebaran, kita masih puasa lagi. Langsung kita pada ribet beli lauk buat sahur lagi. Twitter dan BBM langsung rame sahut-sahutan soal lebaran yang di delay. Para karyawan Spinelli Cafe yang tadinya udah beres-beres dan nutup kasir, langsung menyambut tamu lagi begitu keluar keputusan pemerintah.
Makanya waktu itu sempat ada pribahasa yang populer " karena hilal setitik, rusak opor sepanci "
Saya ingat beberapa tahun lalu, H-1 Lebaran saya malah menemani mama beli kulkas baru. Saat itu ada yang udah lebaran duluan. Diperjalanan saya ngeliatin ada yang udah minum teh botol dingin. Padahal saat itu saya masih nahan haus karena puasa.
Pernah lagi entah tahun kapan. Seperti biasa H-1 lebaran saya cuci dan vacuum mobil di salon mobil. Saat itu juga ada yang udah lebaran. Saya ingat banget salah satu pelanggan salon mobil tersebut datang setelah selesai shalat Ied dan asyik memesan secangkir kopi. Sementara saya dan hubby, tetap ikut pemerintah.
Kalau lebaran udah beda begini biasanya mama atau saya saling menelpon dan bertanya " ikut lebatan yang mana?? " Ga asyik banget. Kenapa sih ga lebaran barengan?? Tapi saya dan ortu juga keluarga mertua tetap ikut pemerintah. Tapi tetap aja ga asyik menurut saya. Soalnya kalau silaturahmi, suka ada pertanyaan " ikut lebaran yang mana? kemarin atau hari ini?? ". Lucu kan??
Tahun ini hari terakhir puasa, saya janjian sama para ipar ketemuan di PIM. Sebelum pulang kita mampir di Spinelli Cafe dulu. Awalnya jam 19.30 para karyawan Spinelli bilang " maaf ya pak, bu kita udah last order. Ada yang mau dipesan lagi? ". Ga nyalahin mereka juga sih, waktu itu kita kan menyangka udah malam takbiran. Wajar kalau mereka mau cepat pulang.
Selama di Spinelli, saya dan ipar-ipar was-was nunggu hasil sidang isbat soal penetapan lebaran. Akhirnya pemerintah menetapkan, bahwa lebaran mundur 1 hari lagi. Dan besok hari yang semestinya lebaran, kita masih puasa lagi. Langsung kita pada ribet beli lauk buat sahur lagi. Twitter dan BBM langsung rame sahut-sahutan soal lebaran yang di delay. Para karyawan Spinelli Cafe yang tadinya udah beres-beres dan nutup kasir, langsung menyambut tamu lagi begitu keluar keputusan pemerintah.
Makanya waktu itu sempat ada pribahasa yang populer " karena hilal setitik, rusak opor sepanci "
Lebaran 2011
Lebaran saya standar seperti tahun-tahun sebelumnya. Shalat Ied, numpang makan ketupat dirumah ortu saya trus puter-puter silaturahmi kesana-kesini.
Hari pertama Lebaran (saya ikut pemerintah ya alias mundur 1 hari dari tanggal merah versi kalender), udah siap-siap dari jam 6 pagi mau kerumah ortu saya. Udah terbirit-birit berangkat pagi-pagi karena papa saya selalu pengen dapat posisi shalat Ied yang enak baru sadar : OMG... tas mukena saya ketinggalan!!! Dan baru nyadarnya pas mobil udah parkir didepan rumah mereka. Trus saya bilang " ya ampuuuunn... tas mukenaku ketinggalan ed dikamar ". Tau dong mendadak si hubby sayang berubah jadi ibu tiri hihihihi.... ngoceh deh sepanjang perjalanan pulang ke rumah sampe balik lagi ke rumah ortuku (untung rumah kita deket). Walopun ternyata begitu sampe dirumah ortu saya, ga langsung berangkat juga karena masih tunggu adik saya yang tinggal di BSD datang. Tuh kaaaannn.........
Abis shalat Ied, udah sungkeman ke ortu, seperti biasa saya menuju ke rumah kakaknya mama di Bali View Cirendeu atau ke mertua dulu. Tahun ini hubby milih ke Cirendeu dulu baru kerumah ortunya. Asumsi kita, berangkat dari rumah jam 11, sampe cirendeu jam 11.30 trus cabut jam 13.00-an ke Cilandak. Ternyata strateginya salah banget. Jarak tempuh antara rumah saya dan Bali View yang biasanya cuma setengah jam, hari itu kita tempuh dalam waktu 2 jam. Jadi kita baru sampe disana jam 13.00. Hadeeeehh....
Macetnya bener-bener ga gerak. Pokoknya mampet!!! Saya udah teriak-teriak di twitter, BBM-an sama grup temen-temen SMA saya di BBM. Dan semuanya melaporkan kalo wilayah pinggiran Jakarta hari itu emang beneran macet total. Kalo saat itu saya ga pake kaftan, mungkin saya juga ikutan ngatur lalu lintas deh :((
Akhirnya silaturahmi pun terhenti sampe Cirendeu saja. Biasanya rute silaturahmi hari pertama saya selain ke Cirendeu, juga ke rumah mertua di Cilandak, Tanah Kusir dan Cilangkap. Gara-gara macet gila-gilaan. Bye bye deeeh... bakso di tanah kusir dan ketupat pake tauco medan di Cilangkap huhuhuhu....
Saya pun baru bisa ketemu mamah dan papap mertua justru di hari Lebaran ke-3. Haduuhh... untung mertua saya baek, bisa minta maaf pake telpon dulu sebelum sungkem.
Yang jelas seperti biasa, Lebaran selalu ada peningkatan gizinya, bagi-bagi angpaunya buat para anak kecil, ketawa-ketawa sama para sepupu dan foto-fotoan. Lebaran emang menyenangkan ya :))
Hari pertama Lebaran (saya ikut pemerintah ya alias mundur 1 hari dari tanggal merah versi kalender), udah siap-siap dari jam 6 pagi mau kerumah ortu saya. Udah terbirit-birit berangkat pagi-pagi karena papa saya selalu pengen dapat posisi shalat Ied yang enak baru sadar : OMG... tas mukena saya ketinggalan!!! Dan baru nyadarnya pas mobil udah parkir didepan rumah mereka. Trus saya bilang " ya ampuuuunn... tas mukenaku ketinggalan ed dikamar ". Tau dong mendadak si hubby sayang berubah jadi ibu tiri hihihihi.... ngoceh deh sepanjang perjalanan pulang ke rumah sampe balik lagi ke rumah ortuku (untung rumah kita deket). Walopun ternyata begitu sampe dirumah ortu saya, ga langsung berangkat juga karena masih tunggu adik saya yang tinggal di BSD datang. Tuh kaaaannn.........
Abis shalat Ied, udah sungkeman ke ortu, seperti biasa saya menuju ke rumah kakaknya mama di Bali View Cirendeu atau ke mertua dulu. Tahun ini hubby milih ke Cirendeu dulu baru kerumah ortunya. Asumsi kita, berangkat dari rumah jam 11, sampe cirendeu jam 11.30 trus cabut jam 13.00-an ke Cilandak. Ternyata strateginya salah banget. Jarak tempuh antara rumah saya dan Bali View yang biasanya cuma setengah jam, hari itu kita tempuh dalam waktu 2 jam. Jadi kita baru sampe disana jam 13.00. Hadeeeehh....
Macetnya bener-bener ga gerak. Pokoknya mampet!!! Saya udah teriak-teriak di twitter, BBM-an sama grup temen-temen SMA saya di BBM. Dan semuanya melaporkan kalo wilayah pinggiran Jakarta hari itu emang beneran macet total. Kalo saat itu saya ga pake kaftan, mungkin saya juga ikutan ngatur lalu lintas deh :((
Akhirnya silaturahmi pun terhenti sampe Cirendeu saja. Biasanya rute silaturahmi hari pertama saya selain ke Cirendeu, juga ke rumah mertua di Cilandak, Tanah Kusir dan Cilangkap. Gara-gara macet gila-gilaan. Bye bye deeeh... bakso di tanah kusir dan ketupat pake tauco medan di Cilangkap huhuhuhu....
Saya pun baru bisa ketemu mamah dan papap mertua justru di hari Lebaran ke-3. Haduuhh... untung mertua saya baek, bisa minta maaf pake telpon dulu sebelum sungkem.
Yang jelas seperti biasa, Lebaran selalu ada peningkatan gizinya, bagi-bagi angpaunya buat para anak kecil, ketawa-ketawa sama para sepupu dan foto-fotoan. Lebaran emang menyenangkan ya :))
Friday, September 9, 2011
Menjadi dokter itu mahal ya??
Beberapa tahun lalu, seorang ibu teman arisan saya disini memberi tahu saya sewaktu kami bertemu saat arisan soal cucunya (IYA CUCU!!!), karena teman-teman arisan saya di komplek arisan saya adalah orang-orang seusia mama saya.
Si cucu akan menempuh kuliah kedokteran disebuah universitas swasta di Jakarta. Biaya kuliahnya saat itu mencapai angka 140 juta. Itu baru biaya masuk, belum biaya praktikum, buku, dll, dll.
Sewaktu lebaran kemarin, seorang sepupu saya curhat karena anaknya yang sekarang duduk di bangku SMA sudah memilih akan berkuliah di Fakultas Kedokteran Gigi. Biaya kuliahnya sekitar 200 juta. Lagi-lagi belum termasuk biaya lain-lain. " Gue harus kerja mati-matian nih ". curhatnya.
Tapi belum selesai sampai disitu, setelah dia selesai kuliah nanti, sepupu saya harus menyediakan peralatan dokter gigi. Tahu kan? perangkat yang ada diruang praktek dokter gigi? yang ada kursi yang bisa diturun-naikkan, lampu, mesin bor, dll, dll? kata sepupu saya yang sudah melakukan pengecekan, harga perangkat tersebut lebih dari 500 juta. Wheeewww.......
Buat yang memilih menjadi dokter umum, dan kelak memilih jalur spesialis berarti ada sejumlah dana lagi yang harus disiapkan. Secara statistik, kuliah di fakultas kedokteran adalah jurusan kuliah yang paling banyak memakan biaya dibandingkan jurusan-jurusan lain.
Menjadi dokter memang profesi yang membanggakan dan menjanjikan. Ada yang bilang jadi dokter bisa membuat kita cepat kaya. Apalagi dokter yang pasiennya seabrek-abrek. Saya pernah tinggal dirumah dokter tahun 1999-2000. Waktu itu saya numpang tinggal dirumah seorang om (adiknya mama) yang berprofesi sebagai seorang dokter anak. Om saya ini termasuk dokter anak yang laris. Sepertinya waktu 24 jam tidak cukup untuknya. Pasiennya sudah antri sejak jam 5 pagi hingga larut malam. Dalam seminggu om saya sudah praktek di 4 tempat tiap sore hari, sementara paginya om saya sibuk di FKUI dan RSCM.
Saya ingat pernah membukakan pintu untuk pasien jam 5 pagi, bahkan mengunci pagar setelah pasien terakhir pulang sekitar jam 12 malam. Para orang tua akan berusaha mati-matian mengejar sang dokter apabila anak mereka sakit. Merekapun akan sabar menunggu dirumah om saya apabila om saya belum pulang dari tempat prakteknya.
Saya pernah 'bertugas' menjawab telpon yang ada dirumah. Sehingga saya sampai hafal schedul kerja om saya dulu. Pagi-pagi terima pasien jam 5-7 pagi. Jam 7 berangkat ke RSCM/FKUI, jam 15.00 sampe rumah dan terima pasien sampe jam 16.30. Jam 17.00 berangkat lagi untuk praktek sampe jam 20.00. Lalu kalau malam, om saya hanya mau terima 2-3 pasien saja. Saya sampai hafal tempat praktek om saya. Hari Senin dan Rabu di Hermina A, hari Selasa dan Jumat di Hermina B, hari Rabu di Hermina C. Sabtu sesuai perjanjian, om saya ada di RS bersalin D.
Om saya masuk kuliah kedokteran tahun 74 (kalau tidak salah) di FKUI, mengambil spesialis anak. Melanjutkan studi ke Belanda tahun 90-an (lupa untuk gelar apa). Lalu tahun 2006 mendapat gelar Doktor juga dari Belanda. Dan besok beliau akan dikukuhkan sebagai Professor di FKUI. Kalau dipikir-pikir, sudah 30 tahun lebih dia sekolah??
Anyway, congrats ya Om.
Buat yang mau berobat, nama om saya Dr. Jose RL Batubara (spesialis anak) <-- PROMOSI....
Buat yang memilih untuk kuliah di Fakultas Kedokteran atau Fakultas Kedokteran Gigi, tetap semangat ya dan jangan lupa kalau biaya kuliah kalian itu mahal banget!!!!
Si cucu akan menempuh kuliah kedokteran disebuah universitas swasta di Jakarta. Biaya kuliahnya saat itu mencapai angka 140 juta. Itu baru biaya masuk, belum biaya praktikum, buku, dll, dll.
Sewaktu lebaran kemarin, seorang sepupu saya curhat karena anaknya yang sekarang duduk di bangku SMA sudah memilih akan berkuliah di Fakultas Kedokteran Gigi. Biaya kuliahnya sekitar 200 juta. Lagi-lagi belum termasuk biaya lain-lain. " Gue harus kerja mati-matian nih ". curhatnya.
Tapi belum selesai sampai disitu, setelah dia selesai kuliah nanti, sepupu saya harus menyediakan peralatan dokter gigi. Tahu kan? perangkat yang ada diruang praktek dokter gigi? yang ada kursi yang bisa diturun-naikkan, lampu, mesin bor, dll, dll? kata sepupu saya yang sudah melakukan pengecekan, harga perangkat tersebut lebih dari 500 juta. Wheeewww.......
Buat yang memilih menjadi dokter umum, dan kelak memilih jalur spesialis berarti ada sejumlah dana lagi yang harus disiapkan. Secara statistik, kuliah di fakultas kedokteran adalah jurusan kuliah yang paling banyak memakan biaya dibandingkan jurusan-jurusan lain.
Menjadi dokter memang profesi yang membanggakan dan menjanjikan. Ada yang bilang jadi dokter bisa membuat kita cepat kaya. Apalagi dokter yang pasiennya seabrek-abrek. Saya pernah tinggal dirumah dokter tahun 1999-2000. Waktu itu saya numpang tinggal dirumah seorang om (adiknya mama) yang berprofesi sebagai seorang dokter anak. Om saya ini termasuk dokter anak yang laris. Sepertinya waktu 24 jam tidak cukup untuknya. Pasiennya sudah antri sejak jam 5 pagi hingga larut malam. Dalam seminggu om saya sudah praktek di 4 tempat tiap sore hari, sementara paginya om saya sibuk di FKUI dan RSCM.
Saya ingat pernah membukakan pintu untuk pasien jam 5 pagi, bahkan mengunci pagar setelah pasien terakhir pulang sekitar jam 12 malam. Para orang tua akan berusaha mati-matian mengejar sang dokter apabila anak mereka sakit. Merekapun akan sabar menunggu dirumah om saya apabila om saya belum pulang dari tempat prakteknya.
Saya pernah 'bertugas' menjawab telpon yang ada dirumah. Sehingga saya sampai hafal schedul kerja om saya dulu. Pagi-pagi terima pasien jam 5-7 pagi. Jam 7 berangkat ke RSCM/FKUI, jam 15.00 sampe rumah dan terima pasien sampe jam 16.30. Jam 17.00 berangkat lagi untuk praktek sampe jam 20.00. Lalu kalau malam, om saya hanya mau terima 2-3 pasien saja. Saya sampai hafal tempat praktek om saya. Hari Senin dan Rabu di Hermina A, hari Selasa dan Jumat di Hermina B, hari Rabu di Hermina C. Sabtu sesuai perjanjian, om saya ada di RS bersalin D.
Om saya masuk kuliah kedokteran tahun 74 (kalau tidak salah) di FKUI, mengambil spesialis anak. Melanjutkan studi ke Belanda tahun 90-an (lupa untuk gelar apa). Lalu tahun 2006 mendapat gelar Doktor juga dari Belanda. Dan besok beliau akan dikukuhkan sebagai Professor di FKUI. Kalau dipikir-pikir, sudah 30 tahun lebih dia sekolah??
Anyway, congrats ya Om.
Buat yang mau berobat, nama om saya Dr. Jose RL Batubara (spesialis anak) <-- PROMOSI....
Buat yang memilih untuk kuliah di Fakultas Kedokteran atau Fakultas Kedokteran Gigi, tetap semangat ya dan jangan lupa kalau biaya kuliah kalian itu mahal banget!!!!
Menjadi Atlet
Seorang teman yang kebetulan seorang ibu rumah tangga sedang uring-uringan waktu ketemu saya saat bulan puasa lalu. Apa sebab??
Ceritanya ngomongin soal Victoria Beckham yang baru saja dikaruniai bayi perempuan. Tiba-tiba temen saya cerita soal anak ABGnya yang doyan main bola. Sebagai orang tua yang memiliki anak ABG adalah wajar kalau si anak punya hobby terhadap oleh raga tertentu. Dalam hal ini, si anak memilih sepak bola. Bukan cuma doyan main aja, tapi si anak juga mengoleksi poster dan beberapa merchandise (walaupun bukan yang asli) dari beberapa klub kesayangannya. Ada yang dari liga Inggris ada yang dari Italy. Sebagai orang tua, temen saya juga membelikan kaos-kaos club bola favorit anaknya.
" Pokoknya tembok kamarnya penuh deh sama poster-poster klub bola kesayangannya " cerita teman saya.
Belum lagi karena di TV sering ditayangkan pertandingan di dua liga tersebut, si anak pun hafal nama-nama pemain kesayangannya, lengkap dengan nomor punggungnya.
" Gue sama suami pokoknya diajarin deh, si anu nomor sekian, posisinya striker, si itu nomor sekian, posisinya gelandang. Sampe pelatih, sampe pemain ini dijual ke klub ini seharga sekian, atau si pemain ini mau dipecat. Heran deh bisa ngerti sampe segitu-gitunya " tambahnya lagi.
Saya sih seneng aja dengernya. Soalnya kalo nanti saya punya anak, saya juga pengen anak saya punya hobby tertentu. Misalnya ke musik (piano) karena hubby saya bisa main piano. Atau ke olahraga seperti anaknya temen saya ini.
Tapi mendadak temen saya jadi uring-uringan. Soalnya beberapa hari sebelumnya sewaktu teman saya dan suaminya bertanya pada si anak soal sekolah SMAnya nanti (saat ini si anak masih di bangku SMP) tau-tau si anak menjawab dengan enteng bahwa dia ga mau sekolah lagi tapi mau konsentrasi berlatih sepak bola dan menjadi atlet bola dikemudian hari.
" Langsung gue lemes deh, gila apa anak itu?? Dia pikir jadi atlet di Indonesia bisa kaya di luar negeri kali ya? " kata teman saya sambil uring-uringan.
Saya mikir, iya juga sih. Saya juga pasti akan uring-uringan kalau mendadak anak saya mogok sekolah dengan alasan untuk mencapai keinginannya menjadi seorang atlet. Apalagi seorang atlet di Indonesia belum bisa dijadikan pegangan seorang untuk hari tua.
Obrolan kami menjadi lebih serius. Saya sih hanya berusaha menenangkan teman saya aja dan mengatakan mudah-mudahan itu hanya obsesi sesaat aja. Mungkin beberapa bulan lagi keinginan main bolanya akan surut. Tapi teman saya bilang, dia mengenal si anak, semakin hari obsesinya akan sepak bola malah makin menjadi. Sekarang kalau ada siaran sepak bola yang akan ditayangkan di TV dia memilih untuk tidak memberitahukan si anak. Kalau si anak mulai membicarakan sepak bola, dia juga akan berusaha mengganti topik pembicaraan.
" Gimana kalau elu cerita sama dia dengan jujur bahwa menjadi atlet di Indonesia belum bisa dijadikan pegangan hidup? "
Jujur aja beberapa saat sebelum saya bertemu dengan teman saya ini, di twitter sedang beredar berita mengenai seorang mantan atlit sepeda peraih medali emas yang saat ini menjadi seorang penarik becak. Atau banyak cerita tentang mantan atlit yang justru hidup miskin dimasa tuanya.
Hubby saya pernah cerita soal temannya. Temannya hubby dulu adalah mantan atlet sepeda. Spesialisasinya adalah pertandingan sepeda di velodrome. Dia cerita bahwa semasa sekolah dulu, dia sempat diberikan pilihan, mau konsentrasi menjadi atlet sepeda tapi mengorbankan sekolah atau kembali ke bangku sekolah dan meninggalkan cita-citanya sebagai atlet sepeda. Teman hubby memilih kembali ke bangku sekolah. Kini ia berkarir sebagai seorang programmer komputer, jauh berbeda dengan atlet sepeda dulu.
Menjadi atlet di Indonesia jangan disamakan dengan di Amerika. Atlet basket yang bermain di NBA sana disamakan derajatnya seperti artis-artos Hollywood. Liat saja dulu Dennis Rodman atau Michael Jordan yang bahkan bisa main film. Atau yang paling baru, ada Lamar Odom yang menikahi Khloe Kardashian, atau Tonny Parker yang menikahi Eva Longoria (walopun akhirnya bercerai). Sementara di Indonesia, seumur-umur saya baru sekali nonton pertandingan basket antar klub.
Atau lihat saja pemain-pemain sepak bola macam David Beckham, Wayne Rooney bahkan Cristiano Ronaldo yang selain dibayar oleh klub tapi banyak produk iklan yang mereka bintangi. Tapi mana ada atlit Indonesia yang seperti itu. Bintang-bintang sepakbola macam Irfan Bachdim, Christian Gonzales atau Bambang Pamungkas baru-baru saja menjadi bintang iklan hanya karena sukses membawa Indonesia menjadi runner up Piala AFF. Padahal PSSInya sendiri berantakan karena kebanyakan masalah. Hubby malah dengan santai bilang " si Irfan Bachdim atau Gonzales bisa jadi bintang sinetron tuh, soalnya mereka punya modal tampang dibanding pemain yang lain ".
Susi Susanti dan Alan Budikusuma yang pernah meraih medali emas Olimpiade aja sekarang malah berbisnis dibidang garmen baju-baju olahraga. Padahal saya percaya dulu mereka pasti menerima banyak uang bonus.
Duluuuuuu.... waktu saya masih duduk di bangku SD, papa saya rajin mengajak kami anak-anaknya untuk nonton pertandingan olahraga di Senayan kalau ada PON atau bahkan Asian Games. Tapi orang tua saya tidak mengarahkan saya untuk berkonsentrasi menjadi seorang atlet. Mereka tetap meminta saya konsentrasi untuk belajar.
Jadi kesimpulannya, saya, teman saya dan mungkin beberapa orang tua lainnya akan melarang anak-anak kami menjadi atlet. Mungkin kalau duia olahraga Indonesia sudah membaik nanti, barulah hati kami melunak.
Ceritanya ngomongin soal Victoria Beckham yang baru saja dikaruniai bayi perempuan. Tiba-tiba temen saya cerita soal anak ABGnya yang doyan main bola. Sebagai orang tua yang memiliki anak ABG adalah wajar kalau si anak punya hobby terhadap oleh raga tertentu. Dalam hal ini, si anak memilih sepak bola. Bukan cuma doyan main aja, tapi si anak juga mengoleksi poster dan beberapa merchandise (walaupun bukan yang asli) dari beberapa klub kesayangannya. Ada yang dari liga Inggris ada yang dari Italy. Sebagai orang tua, temen saya juga membelikan kaos-kaos club bola favorit anaknya.
" Pokoknya tembok kamarnya penuh deh sama poster-poster klub bola kesayangannya " cerita teman saya.
Belum lagi karena di TV sering ditayangkan pertandingan di dua liga tersebut, si anak pun hafal nama-nama pemain kesayangannya, lengkap dengan nomor punggungnya.
" Gue sama suami pokoknya diajarin deh, si anu nomor sekian, posisinya striker, si itu nomor sekian, posisinya gelandang. Sampe pelatih, sampe pemain ini dijual ke klub ini seharga sekian, atau si pemain ini mau dipecat. Heran deh bisa ngerti sampe segitu-gitunya " tambahnya lagi.
Saya sih seneng aja dengernya. Soalnya kalo nanti saya punya anak, saya juga pengen anak saya punya hobby tertentu. Misalnya ke musik (piano) karena hubby saya bisa main piano. Atau ke olahraga seperti anaknya temen saya ini.
Tapi mendadak temen saya jadi uring-uringan. Soalnya beberapa hari sebelumnya sewaktu teman saya dan suaminya bertanya pada si anak soal sekolah SMAnya nanti (saat ini si anak masih di bangku SMP) tau-tau si anak menjawab dengan enteng bahwa dia ga mau sekolah lagi tapi mau konsentrasi berlatih sepak bola dan menjadi atlet bola dikemudian hari.
" Langsung gue lemes deh, gila apa anak itu?? Dia pikir jadi atlet di Indonesia bisa kaya di luar negeri kali ya? " kata teman saya sambil uring-uringan.
Saya mikir, iya juga sih. Saya juga pasti akan uring-uringan kalau mendadak anak saya mogok sekolah dengan alasan untuk mencapai keinginannya menjadi seorang atlet. Apalagi seorang atlet di Indonesia belum bisa dijadikan pegangan seorang untuk hari tua.
Obrolan kami menjadi lebih serius. Saya sih hanya berusaha menenangkan teman saya aja dan mengatakan mudah-mudahan itu hanya obsesi sesaat aja. Mungkin beberapa bulan lagi keinginan main bolanya akan surut. Tapi teman saya bilang, dia mengenal si anak, semakin hari obsesinya akan sepak bola malah makin menjadi. Sekarang kalau ada siaran sepak bola yang akan ditayangkan di TV dia memilih untuk tidak memberitahukan si anak. Kalau si anak mulai membicarakan sepak bola, dia juga akan berusaha mengganti topik pembicaraan.
" Gimana kalau elu cerita sama dia dengan jujur bahwa menjadi atlet di Indonesia belum bisa dijadikan pegangan hidup? "
Jujur aja beberapa saat sebelum saya bertemu dengan teman saya ini, di twitter sedang beredar berita mengenai seorang mantan atlit sepeda peraih medali emas yang saat ini menjadi seorang penarik becak. Atau banyak cerita tentang mantan atlit yang justru hidup miskin dimasa tuanya.
Hubby saya pernah cerita soal temannya. Temannya hubby dulu adalah mantan atlet sepeda. Spesialisasinya adalah pertandingan sepeda di velodrome. Dia cerita bahwa semasa sekolah dulu, dia sempat diberikan pilihan, mau konsentrasi menjadi atlet sepeda tapi mengorbankan sekolah atau kembali ke bangku sekolah dan meninggalkan cita-citanya sebagai atlet sepeda. Teman hubby memilih kembali ke bangku sekolah. Kini ia berkarir sebagai seorang programmer komputer, jauh berbeda dengan atlet sepeda dulu.
Menjadi atlet di Indonesia jangan disamakan dengan di Amerika. Atlet basket yang bermain di NBA sana disamakan derajatnya seperti artis-artos Hollywood. Liat saja dulu Dennis Rodman atau Michael Jordan yang bahkan bisa main film. Atau yang paling baru, ada Lamar Odom yang menikahi Khloe Kardashian, atau Tonny Parker yang menikahi Eva Longoria (walopun akhirnya bercerai). Sementara di Indonesia, seumur-umur saya baru sekali nonton pertandingan basket antar klub.
Atau lihat saja pemain-pemain sepak bola macam David Beckham, Wayne Rooney bahkan Cristiano Ronaldo yang selain dibayar oleh klub tapi banyak produk iklan yang mereka bintangi. Tapi mana ada atlit Indonesia yang seperti itu. Bintang-bintang sepakbola macam Irfan Bachdim, Christian Gonzales atau Bambang Pamungkas baru-baru saja menjadi bintang iklan hanya karena sukses membawa Indonesia menjadi runner up Piala AFF. Padahal PSSInya sendiri berantakan karena kebanyakan masalah. Hubby malah dengan santai bilang " si Irfan Bachdim atau Gonzales bisa jadi bintang sinetron tuh, soalnya mereka punya modal tampang dibanding pemain yang lain ".
Susi Susanti dan Alan Budikusuma yang pernah meraih medali emas Olimpiade aja sekarang malah berbisnis dibidang garmen baju-baju olahraga. Padahal saya percaya dulu mereka pasti menerima banyak uang bonus.
Duluuuuuu.... waktu saya masih duduk di bangku SD, papa saya rajin mengajak kami anak-anaknya untuk nonton pertandingan olahraga di Senayan kalau ada PON atau bahkan Asian Games. Tapi orang tua saya tidak mengarahkan saya untuk berkonsentrasi menjadi seorang atlet. Mereka tetap meminta saya konsentrasi untuk belajar.
Jadi kesimpulannya, saya, teman saya dan mungkin beberapa orang tua lainnya akan melarang anak-anak kami menjadi atlet. Mungkin kalau duia olahraga Indonesia sudah membaik nanti, barulah hati kami melunak.
Tuesday, September 6, 2011
Uwa Eha dulu dan sekarang
Uwa Eha baru saya kenal 10 tahun ini semenjak saya pacaran dan menikah dengan hubby. Uwa Eha ini sepupunya mamah mertua. Banyak yang bilang, Uwa Eha ini ibu ke-2nya hubby.
Dulu semasa SMA, hubby pernah tinggal selama 7 bulan dirumah uwa didaerah Bogor. Waktu itu hubby baru aja dikeluarin dari SMAnya karena kasus tawuran. Karena diblacklist sama semua SMA di Jakarta, akhirnya hubby hijrah ke Bogor dan tinggal bareng uwa dan menamatkan pendidikan SMAnya di Bogor.
Hubby bilang, banyak kenangan bareng uwa, salah satunya uwa yang guru agama ini mengajarkan hubby membaca Al-Quran. Alhamdulillah masih nempel sampai sekarang, hubby masih lancar membaca Al-Quran.
Salah satu anak uwa pernah cerita sama saya, saking sayangnya uwa sama hubby waktu itu. Kalau uwa masak daging cuma buat hubby saya. Makanya Jenny salah satu anak uwa bilang " yang dikasih makan daging cuma Ady, kita mah engga boleh sama Enin (panggilan Jenny ke uwa) ".
Saya akui, saya jarang banget ketemu uwa karena saya di Jakarta dan uwa di Bogor. Pertemuan kami hanya terjadi tiap lebaran. Sejak pacaran dulu, hubby bilang " nanti kalau kita nikah, tiap lebaran kita ke Bogor, silaturahmi ke uwa ".
Waktu saya menikah, uwa bikin foto khusus bersama saya dan hubby. Setelah itu foto pengantin kami terpajang secara khusus di ruang tamu rumahnya di Bogor.
Saya sih seneng aja ke Bogor, tiap lebaran saya selalu mengatur waktu kapan kami (saya, hubby dan keluarganya) akan bersilaturahmi ke Bogor sekalian berwisata kuliner. Tak lupa, saya menyiapkan sekotak parcel buatan sendiri buat uwa dan cucu-cucunya. Nanti begitu sampai di Bogor, keluarga uwa akan menyambut kami dengan hangat, lalu mamah dan papap mertua akan ngobrol dengan uwa dan keluarganya dengan bahasa Sunda. Sementara saya? cuma senyum-senyum aja sambil sesekali berusaha menyimak isi pembicaraan.
Selesai silaturahmi, uwa akan mengantar kami sampai ujung gang rumahnya.
Tiap tahun kesehatan uwa mengalami kemunduran. Kalau dulu, beliau masih bisa mengantar kami sampai depan gang, makin ke sini uwa hanya bisa mengantar sampai teras rumahnya. Apalagi 3 tahun terakhir uwa sudah harus duduk dikursi roda. Sehingga makin terbatas saja ruang geraknya. Semenjak uwa terserang penyakit Alzhaimer, uwa mengalami kesulitan mengenali kami. Beliau akan mengingat setelah kami berkali-kali menyebutkan nama kami. Tapi uwa masih tetap mengenal hubby saya. " Ini edy uwa, anaknya uwa yang paling kecil ". Trus uwa mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tahun ini kesehatan uwa makin memburuk. Diusia 85 tahun kesehatannya makin menurun. Apalagi bulan April lalu uwa sempat koma 24 jam.
Uwa hanya bisa terbaring ditempat tidurnya. Mulutnya tidak bisa berkata-kata lagi. Yang tidak berubah, matanya tidak pernah lepas dari hubby yang selalu dianggap anak bungsunya. Tiap kali hubby berada didekatnya, matanya selalu menatap ke arah hubby.
Saya berdoa semoga uwa bisa sehat lagi. Walaupun menurut anaknya, untuk duduk di kursi roda pun sudah amat sulit. Uwa harus diganjal bantal supaya tubuh rapuhnya tidak terjatuh. Saya hanya ingin, kalau program hamil saya sukses, uwa bisa bertemu dengan cucunya (dari saya dan hubby). Karena tiap kali kami bertemu, pertanyaan yang selalu dilontarkan uwa adalah soal cucu.
Cepat sehat ya uwa, semoga uwa juga diberi umur panjang, dan doakan, lebaran tahun depan saat kami datang ke Bogor, kami sudah bawa cucu buat uwa.
Dulu semasa SMA, hubby pernah tinggal selama 7 bulan dirumah uwa didaerah Bogor. Waktu itu hubby baru aja dikeluarin dari SMAnya karena kasus tawuran. Karena diblacklist sama semua SMA di Jakarta, akhirnya hubby hijrah ke Bogor dan tinggal bareng uwa dan menamatkan pendidikan SMAnya di Bogor.
Hubby bilang, banyak kenangan bareng uwa, salah satunya uwa yang guru agama ini mengajarkan hubby membaca Al-Quran. Alhamdulillah masih nempel sampai sekarang, hubby masih lancar membaca Al-Quran.
Salah satu anak uwa pernah cerita sama saya, saking sayangnya uwa sama hubby waktu itu. Kalau uwa masak daging cuma buat hubby saya. Makanya Jenny salah satu anak uwa bilang " yang dikasih makan daging cuma Ady, kita mah engga boleh sama Enin (panggilan Jenny ke uwa) ".
Saya akui, saya jarang banget ketemu uwa karena saya di Jakarta dan uwa di Bogor. Pertemuan kami hanya terjadi tiap lebaran. Sejak pacaran dulu, hubby bilang " nanti kalau kita nikah, tiap lebaran kita ke Bogor, silaturahmi ke uwa ".
Waktu saya menikah, uwa bikin foto khusus bersama saya dan hubby. Setelah itu foto pengantin kami terpajang secara khusus di ruang tamu rumahnya di Bogor.
Saya sih seneng aja ke Bogor, tiap lebaran saya selalu mengatur waktu kapan kami (saya, hubby dan keluarganya) akan bersilaturahmi ke Bogor sekalian berwisata kuliner. Tak lupa, saya menyiapkan sekotak parcel buatan sendiri buat uwa dan cucu-cucunya. Nanti begitu sampai di Bogor, keluarga uwa akan menyambut kami dengan hangat, lalu mamah dan papap mertua akan ngobrol dengan uwa dan keluarganya dengan bahasa Sunda. Sementara saya? cuma senyum-senyum aja sambil sesekali berusaha menyimak isi pembicaraan.
Selesai silaturahmi, uwa akan mengantar kami sampai ujung gang rumahnya.
Tiap tahun kesehatan uwa mengalami kemunduran. Kalau dulu, beliau masih bisa mengantar kami sampai depan gang, makin ke sini uwa hanya bisa mengantar sampai teras rumahnya. Apalagi 3 tahun terakhir uwa sudah harus duduk dikursi roda. Sehingga makin terbatas saja ruang geraknya. Semenjak uwa terserang penyakit Alzhaimer, uwa mengalami kesulitan mengenali kami. Beliau akan mengingat setelah kami berkali-kali menyebutkan nama kami. Tapi uwa masih tetap mengenal hubby saya. " Ini edy uwa, anaknya uwa yang paling kecil ". Trus uwa mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tahun ini kesehatan uwa makin memburuk. Diusia 85 tahun kesehatannya makin menurun. Apalagi bulan April lalu uwa sempat koma 24 jam.
Uwa hanya bisa terbaring ditempat tidurnya. Mulutnya tidak bisa berkata-kata lagi. Yang tidak berubah, matanya tidak pernah lepas dari hubby yang selalu dianggap anak bungsunya. Tiap kali hubby berada didekatnya, matanya selalu menatap ke arah hubby.
Saya berdoa semoga uwa bisa sehat lagi. Walaupun menurut anaknya, untuk duduk di kursi roda pun sudah amat sulit. Uwa harus diganjal bantal supaya tubuh rapuhnya tidak terjatuh. Saya hanya ingin, kalau program hamil saya sukses, uwa bisa bertemu dengan cucunya (dari saya dan hubby). Karena tiap kali kami bertemu, pertanyaan yang selalu dilontarkan uwa adalah soal cucu.
Cepat sehat ya uwa, semoga uwa juga diberi umur panjang, dan doakan, lebaran tahun depan saat kami datang ke Bogor, kami sudah bawa cucu buat uwa.
Sunday, September 4, 2011
Ramadhan
Bulan Ramadhan baru saja kita tinggalkan beberapa hari yang lalu. Banyak hal yang membuat banyak orang selalu berdoa untuk bisa bertemu dengan Ramadhan ditahun depan. Kalau sesuai dengan agama, di bulan Ramadhan inilah pahala-pahala kita dilipat gandakan oleh Allah. Semua orang berlomba-lomba meningkatkan amal ibadahnya demi mengejar pahala.
Buat saya, selain hal tersebut yang membuat saya selalu ingin bertemu dengan Ramadhan adalah banyak hal lain yang terjadi selama satu bulan suci ini. Saya merasa, hubungan saya dan suami menjadi lebih dekat lagi selama Ramadhan. Kami sahur bersama, buka puasa bersama, beribadah bersama. Banyak pembicaraan yang kami lakukan saat sahur atau berbuka puasa. Banyak doa-doa yang kami panjatkan bersama tiap kami beribadah. Banyak juga keinginan yang kami diskusikan saat sahur atau berbuka puasa.
Saat sahur kami makan sahur bersama, ngobrol lalu nonton TV menikmati acara sahur yang disediakan oleh teve swasta. Demikian juga saat berbuka. Kami menikmati hari-hari Ramadhan kami.
Kemarin saat saya terbangun untuk bersiap-siap akan menunaikan shalat Idul Fitri, saya kembali terkenang dengan Ramadhan dan suasana sahurnya. Makan sahur sambil nonton OVJ atau Saatnya Kita Sahur. Sambil menunggu imsak datang.
Suami saya bertanya, " mana teh manisnya? " saat mendengar azan magrib berkumandang. Karena tiap kali berbuka puasa, ia selalu menikmati segelas teh manis hangat sebelum dilanjutkan dengan makanan lain.
Semoga saya kembali bisa bertemu dengan Ramadhan tahun depan. Amin.
Buat saya, selain hal tersebut yang membuat saya selalu ingin bertemu dengan Ramadhan adalah banyak hal lain yang terjadi selama satu bulan suci ini. Saya merasa, hubungan saya dan suami menjadi lebih dekat lagi selama Ramadhan. Kami sahur bersama, buka puasa bersama, beribadah bersama. Banyak pembicaraan yang kami lakukan saat sahur atau berbuka puasa. Banyak doa-doa yang kami panjatkan bersama tiap kami beribadah. Banyak juga keinginan yang kami diskusikan saat sahur atau berbuka puasa.
Saat sahur kami makan sahur bersama, ngobrol lalu nonton TV menikmati acara sahur yang disediakan oleh teve swasta. Demikian juga saat berbuka. Kami menikmati hari-hari Ramadhan kami.
Kemarin saat saya terbangun untuk bersiap-siap akan menunaikan shalat Idul Fitri, saya kembali terkenang dengan Ramadhan dan suasana sahurnya. Makan sahur sambil nonton OVJ atau Saatnya Kita Sahur. Sambil menunggu imsak datang.
Suami saya bertanya, " mana teh manisnya? " saat mendengar azan magrib berkumandang. Karena tiap kali berbuka puasa, ia selalu menikmati segelas teh manis hangat sebelum dilanjutkan dengan makanan lain.
Semoga saya kembali bisa bertemu dengan Ramadhan tahun depan. Amin.
Subscribe to:
Posts (Atom)