Friday, November 30, 2012

Belanja Bulanan

Duluuuu.... jamannya masih numpang tinggal sama mertua pas baru-baru nikah. Kalau mampir ke hypermart trus liat troli pasangan suami istri yang lagi belanja bulanan rasanya iri deh. Soalnya kalo liat troli mereka, ada sabun cuci, ada minyak goreng, ada sayur, daging-dagingan. Sementara troli saya? Palingan sabun, shampoo, odol doang. Walaupun gaya, biar belanja dikit, tetap pake troli ga mau keranjang hehehehe...

Pas punya rumah. Mulai deh saya ngerasain suka dukanya belanja bulanan. Sabun cuci, pelembut pakaian, minyak goreng, bawang merah, cabe giling sampe daging-dagingan. Belum lagi kalau suami saya sibuk juga 'belanja' cemilan kesukaannya. Dimulai dari minuman soda, jagung turbo, crackers keju, kacang-kacangan atau coklat. Pokoknya kalau troli ditinggal melipir sebentar, tau-tau.... mendadak ada coklat, biskuit yang ga saya ambil dari raknya. Sementara diujung sebelah sana, ada suami saya yang lagi asyik pilih-pilih permen atau kacang.

Jadi kalau saya hanya berputar disekitaran daging, bumbu dapur, buah-buahan, sabun-sabunan ( keperluan ibu rumah tangga) sementara suami akan sibuk muter-muter dibagian cemilan.

Duluuuuuu.... jamannya baru punya rumah (tahun 2005) belanja bulanan kita selalu stabil diangka 300 ribu. Kalau melesat hingga 500 ribu artinya ada hal lain yang kita beli, misalnya panci, gelas, ember atau cemilan suami yang over dosis. Tapi kalau kisarannya hanya 300 - 400 ribu, artinya yang kita beli cuma sayur, daging-dagingan plus keperluan buat cuci mencuci.

Sekarang ini saya dan juga ibu-ibu rumah tangga lainnya seringkali ngeluh dengan naiknya bahan kebutuhan pokok.
Perasaan belanjanya segitu-segitu aja kok angkanya nyaris menginjak angka 1 juta rupiah. Padahal barang-barang yang dibeli kurang lebih sama. Malah kadangkala kalau suami ribet nyari cemilan, saya suka pelototin. Maksudnya biar cemilan yang diambil ga banyak-banyak alias secukupnya aja.

Nah sekarang belanjaan utama saya adalah bahan makanan. Maklum, saya harus masak setiap hari untuk bekalnya suami ngantor. Minimal dikulkas ada ayam dan daging. Setelah itu yang ga boleh gak ada adalah berbagai bumbu dapur sebagai senjata masak saya. Abis itu telor juga mesti tersedia di kulkas sebagai makanan kala terjepit.

Setelah itu sabun cuci dan teman-temannya. Malah saya selalu managed supaya pembantu bisa belajar berhemat dalam penggunaan sabun (walopun susahnya setengah mati).

Nah segini aja pasti udah nembus angka 300 ribuan. Makanya saya suka jutek sama suami kalau dia berlama-lama di rak cemilan. Pokoknya harus dipilih, mau crackers coklat atau keju? Mau kacang kulit atau kacang pedas? Tidak boleh ambil semuanya.

Yang paling berasa, selain suami adalah adik saya. Kalau mereka datang kerumah, tinggal buka kulkas, semuanya ada didalam. Atau mereka udah tau rak tempat saya menyimpan aneka cemilan. Semenjak harga naik dan saya sedang melakukan penghematan, mereka sering bilang " Yaaah.... kok ga ada keripik lagi? Kok ga ada biskuit coklat lagi? Kok ga ada minuman soda lagi? "

Maaf ya, untuk sementara semuanya ditiadakan dulu. Semua demi diet dompet dan diet badan :))

Friday, October 12, 2012

Dapur Baru

Semenjak jadi fullttime housewife, salah satu kesenangan saya adalah memasak. Semua resep saya coba. Masakan hingga membuat kue. Memasak itu menyenangkan.

Suatu ketika saya mikir, dapur saya sangat sederhana. Enak banget kali ya kalau memasak didapur yang modern dengan alat-alat lengkap. Akhirnya saya sempat hunting liat-liat majalah rumah untuk melihat model dapur.
Dapur favorit saya adalah dapur yang tidak terlalu besar, ada islandnya, tempat penyimpanan yang banyak serta praktis. Impian saya adalah punya dapur yang ada lemari penyimpanannya kayak Chef Michael Smith atau Nigella Lawson. Satu lemari besar yang mirip seperti sebuah kamar kecil yang hanya berisi rak-rak berisi berbagai botol bumbu.

Renovasi dapur pasti butuh dana besar. Tapi boleh dong kalau iseng nyari-nyari dari sekarang?? Siapa tahu kalau nanti ada rezekinya saya bisa bikin dapur impian saya.

Waktu Membaca

Beberapa hari lalu saya sengaja menurunkan beberapa tumpuk novel dari rak buku di lantai atas rumah saya. Niatnya cuma 1, pengen membaca.

Akhir-akhir ini saya agak susah punya waktu membaca. Rasanya gangguannya semakin banyak. Mulai dari TV, BB, hingga ngobrol ngalur ngidul sana sini dengan orang-orang. Susah banget rasanya menghabiskan waktu sebentar aja buat membaca.
Dulu saya bisa menghabiskan novel-novel tebal hanya dalam hitungan 2-3 hari maksimal. Apalagi kalau novelnya seru dan bikin bacanya ga mau berhenti macam Harry Potter atau novel-novelnya James Patterson.
Saya bisa membaca dimana aja. Dirumah, nyolong-nyolong waktu istirahat kantor hingga membaca di kereta. yup membaca di kereta memang paling enak. Ga terasa tau-tau udah dekat rumah aja.
Membaca paling cepat yang pernah saya lakukan adalah waktu membaca novel Harry Potter : Order of Phoenix. Selain karena waktu itu novelnya pinjeman, ceritanya seru bikin susah berhenti. Saya ingat suami saya ngamuk nyuruh berhenti membaca hanya karena saya sampai lupa makan hingga tidur. Membaca teruss....

Saya pengen kayak dulu lagi. Tanpa sebentar-sebentar di distract sama BB yang bunyi tang-ting-tung dan bikin tangan gatel buat mencet-mencet. Cek BBM, Twitter dll dll. Saya pengen tenang aja saat membaca kaya dulu yang saya lakukan. Bikin kopi susu, nyalain AC kamar, atur bantal buat duduk. Lalu membaca dengan tenang.

Beberapa hari lalu saya bisa membuat diri saya tenang membaca. Saya silent BB, matiin TV trus mulai membaca. Sebagai pemanasan, saya mulai dengan novel-novel yang tidak terlalu tebal dahulu. Enak juga yaaa... dalam waktu 2-3 jam saya bisa menyelesaikan novel tersebut.
Tapi repotnya adalah sewaktu ngecek BB setelah disilent elama 3 jam adalah beberapa menerima PING dari  orang plus diteriakin " Intaaaaaaaaaannnnnnn.... lagi tidur yaaaaaaaaaaaaaaaaaaa????

Haduuuuhhhhh :(( 

Korea

Sekarang ini orang-orang lagi kecanduan hal-hal yang berbau Korea. Demikian juga saya.
Tapi saya bukan kecanduan serial-serialnya, bukan pula kecanduan grup musiknya, bahkan bukan kecanduan cowo-cowonya yang dimata saya terlihat 'cantik'. Bukaaaannn.....

Saya kecanduan makanannya.

Sebenarnya saya belum terlalu banyak merasakan masakan Korea ini. Baru beberapa kali saja. Dibandingkan masakan Cina atau Thailand yang udah berkali-kali saya akan. Saya udah bisa menyebut masakan-masakan Cina atau Thailand mana saja yang merupakan favorit saya.

Saya baru mengenal masakan Korea ini beberapa bulan lalu. Awalnya dari TV. Entah kenapa masakan-masakan Korea yang ditayangkan di TV membuat liur saya menetes. Kayaknya enaaaakk banget. Awalnya saya menonton acara yang disiarkan di Natgeo Adventure berjudul Kimchi Chronicle. Acara ini mengisahkan tentang seorang wanita bernama Marja yang merupakan keturunan Amerika - Korea yang mudik ke kampung halamannya di Korea Selatan dan melakukan wisata kuliner keliling Korea Selatan. Tiap masakan yang dia makan rasanya gimanaaa gitu. Mulai dari Kimchi, segala macam sup-sup hingga aneka barbekyu.
Lalu cerita dari teman saya menambah rasa penasaran saya pada masakan Korea ini.

Teman saya cerita dia pernah hampir 2 bulan tinggal di Korea Selatan untuk mengerjakan sebuah project. Awalnya, rekan Koreanya yang datang ke Jakarta. Dia bilang, si orang Korea ini wajahnya liciiiinnn banget tanpa polesan make up. Pokoknya bersih. Karena penasaran dia tanya ke rekannya itu : jawabannya adalah makanan Korea yang bikin mereka sehat. Waktu akhirnya dia berkesempatan di kirim ke Korea dia bilang ke temannya itu. Pokoknya bikin saya sehat yaaaa.... tentu dengan catatan bahwa teman saya tidak makan babi dan makanan haram lainnya dan tidak minum minuman keras.

Sampai d Korea dia dikasih makan Kimchi. Pagi-Siang-Sore-Malam makan Kimchi. Selain itu ada juga Kimchi yang di taruh didalam rebusan sup. Lalu ada juga makanan yang memakai sistem fengshui. Pokoknya selama ga pakai bahan yang diharamkan, teman saya makan. Sepulang dari Korea banyak perubahan. Biasanya kalau pergi keluar negeri makanan tidak terkontrol, tapi tidak terjadi selama ia di Korea. Dia merasa sehat, berat badan stabil dan kulit terasa sehat. Sayangnya begitu pulang makanannya sembarangan lagi. Agak susah menemukan makanan Korea di Jakarta karena belum begitu popular dan biasanya harganya agak mahal.

Suatu ketika saya berkesempatan makan makanan Korea bareng hubby. Kimchi yang kalau diliat di TV rasanya segar dan menggugah selera ternyata rasanya anyep aja. Apa beda ya rasa Kimchi Korea dengan Kimchi yang dibuat di Indonesia?

Intinya walaupun belum menemukan restaurant Korea yang paling pas. Sekarang saya lagi kecanduan nonton acara yang membahas tentang makanan Korea. Salah satunya juga adalah di channel LI (Live Inspired) judulnya Korea, Country of Great Tastes. Rasanya masakan yang ditampilkan diacara tersebut benar-benar membuat liur menetes....




Tuesday, September 25, 2012

Difoto dong

Salah satu hobby saya adalah memasak. Memasaknya juga untuk kebutuhan pribadi. Hobby terakhir yang saya tekuni setahun terakhir adalah baking. Saya suka ngebaking. Secara dulu banget udah kebelet pengen ngebaking tapi selalu gagal hanya karena ga punya oven. Akhirnya tahun lalu saya dibeliin oven dan dengan senang hati saya meng ' abuse ' oven kecil saya dengan bermacam-macam resep.

Bicara soal masakan yang paling saya sering liat adalah orang-orang seneng banget memfoto hasil masakannya kemudian diposting diblog mereka. Ada yang postingnya standar dan sederhana, ada juga yang niaaaatttt banget. Misalnya kaya salah satu sahabat saya Mindy Jordan yang niat banget memfoto hasil masakannya. Apa aja. Masakan lokal Indonesia, masakan Amerika Latin, masakan Eropa sampai kue-kue yang dia baking.
Saking niatnya Mindy ini sampe punya koleksi barang-barang untuk mempercantik fotonya. Peralatan makan khusus yang dipakai sebagai bagian dari property fotonya. Kalau liat foto-foto masakan begini bisa ngiler pastinya walaupun belum tahu rasanya. Foto itu kan bisa membuat sesuatu jadi menarik banget, apalagi kalau yang memfoto juga pintar kaya sahabat saya ini. Gara-gara urusan foto, Mindy dan beberapa teman-temannya pernah punya kasus saat foto-foto pribadi masakan mereka dicatut seseorang dan diterbitkan menjadi buku masakan dan dijual bebas.

Awalnya saya niaaaaattttt banget pengen kaya sahabat saya ini. Tapi apa daya. Walopun udah sering masak tapi rasanya maleeesss untuk mempostingnya. Boro-boro posting. Buat memfotonya aja malesnya setengah mati. Apalagi kalau udah kecapean masak, udah ga kepikiran lagi mau difoto atau diposting.

Makanya banyak orang yang ga percaya kalau saya bisa masak. Soalnya ga pernah ada buktinya. Kecuali buat keluarga dan teman-teman yang suka datang kerumah saya dan menikmati hasil masakan saya. Sisanya cuma bisa bilang " ga ada foto ga percaya " Haduuuuhhh.....
Apalagi kalau saya bilang bahwa saya udah nyoba satu resep dan rasanya enak. Pasti ga langsung dipercaya kalau tidak ada fotonya.
Yang paling simple adalah mempostingnya via Instagram. Tapi apa daya.... seringnya udah lupa atau males. Jadinya pas baru pengen memfoto kalau masakanya udah hampir abis. Huhuhuhu :(
Di Blackberry saya pun juga ga banyak foto hasil masakan saya. Itu lagi gara-gara si capek dan si males yang sering mengganggu. Jadi kalau misalnya ada temen saya yang bilang " gue ga percaya kalau ga ada fotonya ". Dalam hati saya palingan mengucap " yaaahh... paling engga Tuhan tahu gue ga bohong " Hehehehe...


Halal

Moment pertama saya berhijab adalah pada tanggal 14 April 2012 saat saya ikutan seminar Halal is My Way di kantor pusat Wardah kosmetik. Saat itu saya mendapat banyak pencerahan soal masalah halal ini. Apalagi banyak sekali wilayah abu-abu yang sering kita temui kalau membicarakan soal halal.
Setelah saya ikutan seminar tersebut, hal pertama yang saya lakukan adalah mendownload produk-produk yang sudah diakui halal oleh MUI. Ini sangat penting dan berpengaruh pada kebiasaan belanja bulanan saya.
Beberapa produk yang saya beli sudah ada sertifikasi Halalnya. Ada juga yang belum. Ada produk yang sudah saya ganti dengan produk lain yang sudah bersertifikasi. Alasannya, biar tenang aja.

Masalah abu-abu di urusan halal ini emang ga abis diomongin. Banyak produk yang kita tahu tidak memakai produk yang haram tapi belum ada sertifikasinya. Banyak restaurant yang tidak memakai bahan-bahan haram atau masakan babi tapi belum ada sertifikasinya. Urusan ini saya masih banyak belajar. Sesekali saya suka nanya ke twitternya Halal Corner (@halalcorner) kalau misalnya pengen tanya-tanya apakah produk A atau restaurant B udah ada sertifikasi halalnya.

Setelah menyesuaikan produk-produk yang sering saya beli saat belanja bulanan. Pelan-pelan saya beralih ke kosmetik. Ada beberapa kosmetik yang sudah mendapat sertifikasi halal. Salah satunya Wardah tadi.
Saya beruntung punya kulit yang sangat tahan banting dan ga nyusahin. Saat saya mulai beralih ke produk-produk kosmetik halal, kulit saya menerimanya dengan baik. Tidak ada acara perih, merah, jerawat. Semuanya berjalan dengan mulus dan lancar. Jerawat sesekali ada, tapi kondisinya sama seperti saat dulu sebelum memakai produk halal. Jadi ga masalah banget buat saya.
Satu kosmetik yang juga sudah mendapat sertifikasi halal adalah Sariayu. Saya mendapat kesempatan ikutan acara Sariayu saat bulan Ramadhan lalu di FX. Jadi satu demi saya makin banyak produk kosmetik yang berlabel halal.

Saya masih belajar soal halal ini. Jadi kalau mau tahu detilnya bisa download di websitenya MUI. Tapi intinya memakai sesuatu yang sudah jelas halal memang bikin hati tenang. Kalau hati tenang, Insya Allah ibadah juga makin lancar kan?

Ada yang bilang saya 'terlalu keras' pada diri saya sendiri dalam urusan halal ini. Sementara area abu-abunya masih terlalu banyak. Saya merasa tidak terlalu keras, tapi kapasitas saya disini pun masih dalam tahap belajar. Yang saya tekankan pada diri saya sendiri adalah : Halal itu Penting! Jadi saya sih tidak merasa keras terhadap diri saya. Justru saya menjalaninya dengan santai. Melakukan perpindahan produknya juga tidak frontal dan ekstrem. Tapi melakukan masa transisi secara perlahan. Karena banyak yang harus disesuaikan. Bukan hanya masalah panca indra, tapi juga urusan kantong (uang). Setelah melewati masa transisi akhirnya saya mulai tahu produk apa saja yang harus saya beli yang ada sertifikasi halalnya.

Hampir 6 bulan saya berhijab, satu demi satu produk yang saya dan suami pakai juga bersertifikasi halal. Selain hati tenang, yang paling menyenangkan adalah beberapa produk halal (terutama kosmetik) memiliki harga yang sangat terjangkau dibandingkan make up saya dulu. Makin senang dong saya jadinya. Suami juga makin senang, soalnya ga pernah ada lagi argumentasi ga penting macam " HAH?? lipstick aja harganya 200 ribu??? " Hehehehe....

Pembantu..... oh Pembantu....

Ceritanya beberapa waktu lalu saya dan 2 orang teman ketemuan. Seperti biasa kalau tiga orang ibu rumah tangga ketemuan salah satu bahan obrolannya adalah pembantu. Kita bertiga nampaknya secara engga sengaja punya sedikit kesamaan : punya pembantu yang udah lama kerja sama kita.

Kisah kita pun kurang lebih juga sama. Masing-masing dari kita punya pembantu atau asisten rumah tangga yang udah kerja sama kita lebih dari 5 tahun. Mereka juga sama-sama perusak....
Teman saya cerita kalau pembantunya kerjanya kasar sekasar-kasarnya. " Ampuuuun deh, piring makan, cangkir, mug pasti ada sompel-sompelnya " keluhnya. Udah dikasih tahu berulangkali seperti masuk telinga kanan trus mental lagi keluar. Ga nempel. Inget cuma sebentar trus diulang lagi. Masalahnya si asisten udah sangat terpercaya dan sebenernya kerjaannya juga rapih. Cuma kasarnya itu yang ga tahan. Nyuci piring suaranya heboh. Brang-breng-brong.... sampe temen saya pernah secara khusus nongkrongin pembantunya yang yang lagi cuci piring. Kalau ditongkrongin kerjanya halus. Begitu temen saya meleng lagi, kerjanya kembali ribut. Haduuuuhhh.....

Teman kedua punya kisah lain. Si pembantu ini apa temenan sama Agung Hercules atau mungkin Superman ga tau deh. Tenaganya kuaaaaattt banget.... tapi seringkali dia ga ngukur kekuatannya sendiri. Ceritanya pernah suatu ketika teman lagi ngatur ulang dekorasi rumahnya. Trus dia punya meja kayu jati (ukuran sedang) yang dilapisi kaca bagian atasnya. Teman saya bilang ke pembantunya mau pindahin meja itu ke sudut lain dirumahnya, tapi temen saya mau panggil supirnya dulu untuk membantu karena dia tahu mejanya agak berat. Baru aja dia berjalan beberapa langkah ninggalin si pembantu yang ada dirunag keluarga untuk manggil si supir tau-tau terdengar suara GUBRAAAAKKKK... disusul dengan bunyi PRAAAANNGGG...
Buru-buru teman saya balik keruang tengah dan menemukan si meja sudah terguling. Apa pasal??? ternyata si pembantu mencoba mengangkat meja tersebut sendirian!!! Alamaaakkk...
Temen saya marah besar. Selain karena meja antiknya boncel-boncel dan kacanya pecah, satu hal lagi adalah bagaimana kalau meja tersebut menindih si pembantu?? Minimal si pembantu bisa mengalami patah tulang akibat tertindih. Begitu ditanya kenapa si pembantu ga mau sabar menunggunya memanggil si supir, jawabannya adalah "  saya pikir saya kuat bu ". Oalaaaahhh....
Jawaban saya pikir saya kuat atau saya bisa kok bu ngerjain sendiri adalah jawaban yang paling sering keluar dari mulut pembantunya. Tanpa mikir atau nyoba dulu apakah dia benar-benar kuat. Selain meja beberapa barang lain juga rusak oleh 'kekuatan' si pembantu atau kecerobohan si pembantu ini. Olalaaaaa...

Lain cerita teman, lain cerita saya. Pembantu saya mungkin kombinasi dari keduanya. Urusan mecahin piring mah seriiiiing banget. Papan setrika saya aja bisa bolong sama dia. Terakhir dia merusak mesin cuci milik saya 2x dalam waktu 1 bulan!!! Sama dengan 2 teman saya diatas, pembantu saya juga sudah lama bekerja dengan saya. Tepatnya sejak saya membeli rumah ini 7 tahun yang lalu.

Memang sih kata ibu saya, punya pembantu kadangkala serba salah. Punya yang terlalu pintar suka ngelunjak. Yang rada kurang pintar, bikin kita makan ati. Pusing deeehh....
Kata ibu saya " kalau mereka pinter, mereka ga akan jadi pembantu dong ". Waktu saya ngomel-ngomel saat pembantu saya merusak dryer mesin cuci. Ampuuuunn...
Padahal udah seringkali saya bilangin untuk mengatur cucian yang akan dimasukkan kedalam dryer supaya ga terlalu tergoncang-goncang mesinnya. Tapi apa daya... semakin sering dikasih tahu semakin lupa. Maunya cepet-cepet aja. Mungkin juga karena ga ikutan ngeluarin uang untuk beli mesin cucinya makanya pembantu saya menggunakannya asal-asalan. Yang penting kerjaannya selesai.

Aduuuhh.... pembantuuuuuu.....