Wednesday, August 13, 2014

Mendadak ke Singapore

Ini benar-benar travelling dadakan yang ga pake direncanakan.
Suatu ketika hubby bilang kalau dia mau business trip ke Sumatera. Visit beberapa kantor cabang kantornya dan mengakhirinya di Batam.

Waktu hubby bilang Batam, tau-tau dilanjutin sama kata-kata " nyebrang ke Singapore yuk ".
Walhasil gak pake persiapan apa-apa, bahkan cuti baru saya apply 3 hari sebelum berangkat.
Singapore memang dekat, cuma bagi saya gak usah ke Singapore. Ke Bogor pun saya pasti juga ribet.

Apalagi kali ini saya cuma mau bawa 1 ransel aja. Pokoknya semua baju saya gulung-gulung, lalu masukin kedalam packing cube. Bawaannya simple 3 baju plus 1 baju tidur dan 2 kerudung plus 1 pashmina buat cadangan. Sekalian nyobain backpack High Sierra ungu saya yang baru :)

Saking niatnya, sebelum semua digulung ke packing cube, baju plus kerudung saya setrika dulu lengkap dengan pewanginya. Jadi pas di Singapore nanti baju saya wangi.

Setelah seminggu ditinggal hubby, akhirnya hari Jumat saya nyusul dia juga. Tujuan utama saya Batam. Dari Bintaro naik Xtrans ke Bandara. Pesawat saya jam 10 pagi. Saya booking Xtrans jam 6.30 pagi. Sampe di Bandara masih jam 9 pagi. Saya milih nunggu manis aja sambil ngemil roti dan baca buku Memories of Midnightnya Sydney Sheldon.

Jam 10.15 saya berangkat ke Batam dengan Citilink. Jam 12-an saya udah sampai di Hang Nadim dan sambil nunggu supir kantor hubby jemput saya (karena pak supir harus shalat jumat dulu) jadinya saya duduk aja dulu di restoran. Abis jumatan baru deh saya dijemput.

Ini pertama kalinya saya ke Batam. Kebetulan pak supir pinter kasih penjelasan. Kantor cabang perusahaan tempat hubby kerja ada di sekitar Batam Centre. Jadi dari Bandara ke Batam Centre saya dijelasin macam-macam sama pak supir.

Sambil jelasin dia juga ngomong " saya aja belum pernak ke Jakarta bu. Jakarta kayak apa ya? " Haduuuuhhh... Tapi pak supir malah lebih sering bolak balik ke Singapore looohh... lebih murah katanya. Sampai-sampai dia nunjukin passportnya yang penuh sama cap imigrasi Singapore hihihi...

Sampai di kantor cabang, saya langsung diajak makan siang dulu. Menunya soto medan. Enaaaakkk..... abis makan, hubby lanjut presentasi lagi dan saya... main Candy Crush!!!

Persis jam 3 sore baru semuanya selesai. Kita pamit sama semua staff kantor cabang Batam dan pak supir antar saya ke pelabuhan Batam Centre.

Di pelabuhan, seperti biasa kita check in dulu, lalu bayar tax baru deh masuk Ferry Star Queen. Saat itu ferrynya agak kosong. Dari Harborfront kita naik MRT ke Novena.

Naaahhh.... masalah baru terjadi disini. Kita bingung sama pintu keluarnya stasiun MRT Novena. Pokoknya tau-tau ada di lobby hotel gitu. Harusnya kita pilih pintu keluar di Novena Shopping Centre. Alhasil hubby terpaksa ngangkut koper ukuran medium turun naik tangga penyeberangan. Padahal kalo keluarnya dari shopping centre, tinggal nyebrang di zebra cross trus ketemu halte bus deh. Karena hotel yang saya booking terletak di Balestier Road (kurang lebih 7 halte dari Novena station).

Naaahh udah naik bis nomor 21 (yang lewat Balestier Road) ada masalah lagi. Kepada pak supir saya bilang " Fragrance hotel ". Nah... didepan Fragrance hotel, pak supir berhenti dan nunjukkin " itu hote;nya " saya dan hubby turun dong yaaa... ternyata bukan Fragrance yang itu!!! Di Balestier Road ini ada beberapa Fragrance Hotel. Untungnya front desk hotel fragrance yang pertama baik banget. Dia bilang, hotel saya masih sekitar setengah kilo lagi. Dia menjelaskan dengan detail banget semua patokan hotel tersebut.

Akhirnya sampailah saya di Fragrance Rose hotel tersebut :(:(:(

Hal pertama adalah mandi dan makan popmie serta bikin the panas. Capek banget sodara-sodara!!!

Sebelum tidur kita menjelajah Balestier Road sambil jalan kaki. Balik ke hotel sambil bawa McDonald burger dan French fries....
 

Monday, August 11, 2014

Bekerja disekolah

Saya ga pernah ngebayangin suatu hari nanti akan bekerja disekolah seperti sekarang ini.
Biasanya saya berkutat dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya mencari pekerjaan. Tau-tau sekarang udah kerja disekolahan.

Saya ga pernah bilang kalau bekerja disekolahan itu lebih santai atau lebih ribet. Buat saya pekerjaan itu sama aja. kadang santai kadang ribet. Standar.

Yang menyenangkan adalah, pekerjaan saya tidak jauh dari rumah. Mungkin beda ceritanya kalau sekolah tempat saya bekerja letaknya jauh dari rumah.
Hal lainnya adalah, banyak suasana. Beda ceritanya kalau kita bekerja di lingkungan gedung tinggi di pusat Jakarta.
Bekerja disekolah banyak cerita dan suasananya. Apalagi sekolahan tempat saya bekerja sering membuat acara-acara seru. Jadi awalnya saya suka bingung kalau ada guru atau anak murid yang mondar-mandir dengan kostum. Ternyata karena ada acara disekolah.

Murid-murid yang bikin semangat. Nanti duluuuu.... jangan anggap macam-macam maksud yang ini. Tetapi yang saya rasain adalah, karena banyaknya murid yang sering mondar-mandir didepan saya, mulai dari anak TK hingga SMA membuat kehidupan pekerjaan saya menjadi lebih seru.
Kalau lagi stress dan males-malesan, bertemu dengan anak-anak dengan tingkah dan polahnya masing-masing membuat semangat timbul lagi.

Jadi memang ternyata bekerja disekolah menyenangkan!! 

Tuesday, July 8, 2014

lagi-lagi capres

Emang ya masalah pemilihan capres ini udah hits banget beberapa minggu terakhir ini.
Kayanya semua orang pada sibuk menjagokan pilihannya. Mau Prabowo atau Jokowi?

Saya sebagai satu dari masyarakat Indonesia yang lahir dan besar di Jakarta cuma berharap pengennya presiden nanti jauh lebih baik dari presiden-presiden sebelumnya.
Bersih, ga memperkaya diri sendiri dan keluarga, gak kejam dan menjadi dictator, bikin Indonesia maju, hebat, aman dan setumpuk keinginan-keinginan lainnya.

Itu kan idealnya.

Seperti percakapan yang saya dengar siang tadi. Membandingkan Indonesia dengan Cina. Negara Cina yang berani memberi hukuman mati pada koruptor. Atau obrolan macam " bodo amat dengan system pemerintahannya mau komunis kek, mau kerajaan kek yang penting ga ada lagi orang miskin di Indonesia, ga ada lagi anak-anak kecil yang mengemis di jalanan, gak ada lagi orang miskin ga ga diterima di rumah sakit, ga ada lagi anak-anak yang ga bisa sekolah karena mahal. Padahal gue ga pernah golput. Selalu milih tiap kali Pemilu atau Pilkada!!! "

Kita udah capek denger janji-janji palsu. Kita pun cukup sabar menunggu sebuah proses perkembangan Indonesia. Tapi kalau pada kenyataannya, udah sabar menunggu tapi ujung-ujungnya  yang kita dapatkan cuma berita anggota dewan yang tersangkut masalah korupsi... haduuuuhhh.... cape deeehh....

Jadi mungkin kata-kata diatas adalah ungkapan seorang yang udah cape melihat Indonesia yang makin terpuruk. Jadi udah ga peduli lagi sama system pemerintahan. Asal Indonesia maju dan berubah.

Monday, July 7, 2014

Pilih siapa?

Kalo kemarin saya misuh-misuh soal 'kotor'nya halaman path dan facebook saya oleh para jurkam kagetan. Kalau sekarang saya pengen nulis yang serius. Mengenai siapa yang akan saya pilih sebagai orang nomor 1 di negara ini.

Didalam hati masih ada pergolakan. Mau pilih A dengan alasan ini-itu. Atau pilih B juga dengan alasan berbeda. Ada hal dari dua capres ini yang bikin saya harus banyak baca, nonton berita dan membaca banyak artikel tentang 2 capres ini.

Jujur aja, sekarang saya sekarang lagi banyak belajar. Agar supaya pilihan saya tepat sasaran. Minimal saya gak main asal coblos aja sembarangan atau karena ngikut suami atau orang tua atau karena dengar pendapat orang. Saya maunya pilihan saya benar-benar datang dari lubuk hati yang paling dalam dan saya pun akan mendoakan orang yang saya pilih agar supaya beliau bias menjadi pemimpin yang benar-benar membawa Indonesia kepada kebaikan.

Saya suka bagaimana sebuah berita mengupas karakter seseorang tanpa menjatuhkan orang tersebut dengan berita-berita picisan.

Contoh Jokowi :
Sebagai mantan pengusaha mebel, suka music rock. Menjabat sebagai walikota Solo hingga duduk sebagai Gubernur Jakarta. Sepak terjangnya. Saya suka bagaimana sebuah artikel bisa membuat saya mikir kenapa saya harus pilih Jokowi?
Tapi bukan cuma menyerang soal agamanyalah, status Cinanya, soal kerjanya yang ga pernah beres dalam menduduki jabatan tertentulah. Bukan itu. Pasti ada alasan positif dari seorang Jokowi sampai ia bisa dipercayakan rakyat untuk nyapres.

Lalu Prabowo :
Selama ini saya hanya mendengar berita buruknya saja tentang beliau. Kasus penculikan hingga sosoknya yang katanya temperamental. Tapi membaca beberapa artikel dimajalah atau koran ternyata masih banyak sisi positif dari beliau. Simplenya gini, kalau memang beliau ini sedemikian buruknya, pasti beliau ga akan ada yang mendukung. Tapi buktinya masih ada juga yang percaya pada beliau.

Nah, sebagai orang yang sangat buta politik. Udah barang tentu saya butuh pengetahuan. Saya butuh banyak artikel di koran atau majalah, berita TV untuk memberikan ilmu pada saya. Saya gak mau hanya mendengar pendapat dari si A yang abis-abisan mendukung Prabowo tapi kerjaannya cuma posting kejelekan Jokowi atau sebaliknya.
Atau si B yang cinta mati saya Jokowi tapi cuma bisanya posting artikel 'gak penting' kayak misalnya cuma pengen ngebuktiin Jokowi merakyat, berita soal Jokowi makan nasi bungkus aja dijadiin headlines.

Masih ada 2 hari lagi. Dan sekarang sedang masa tenang. Waktu yang paling baik bagi kita untuk banyak belajar dan berdoa sebelum menentukan pilihan. Mungkin aja kemaren udah ngebet pilih capres tertentu trs tau-tau dapet 'wangsit' atau mimpi setelah menunaikan shalat Istikharah dan memilih capres satunya. Semua bisa terjadi kan?

Saya gimana? Yang jelas saya lagi banyak 'belajar' dan berdoa (kayak mau ujian aja). Bagi saya semua capres sama baiknya. Tapi mungkin ada yang lebih baik dari yang lain sehingga rakyat percaya pada beliau.

Yang jelas sebelum nyoblos saya mau bilang " Bismillah " dulu dan ngebatin Insya Allah orang yang saya pilih benar-benar bisa membawa Indonesia pada kebaikan. Amin....

Wednesday, July 2, 2014

Kisah sepatu lari

Sekitar bulan September - Oktober 2013 lalu, teman saya dengan semangat mengajak saya ikutan lari.
Yup, lari sekarang lagi jadi hits dan semua orang lagi kecanduan lari.
Rencana besarnya pengen ikutan marathon yang lagi sering diadain di Jakarta. Jadi sebelum marathon, kita latihan dulu.
Seperti biasa, saya yang orangnya punya masalah ikut-ikutan jadi kepengen juga.
Yang pertamakali saya beli? sepatunya dong.
Padahal sepatu gym saya masih bagus banget. Tapi ini harus beda. Sepatu lari, bukan sepatu gym.
Akhirnya saya beli juga sepatu lari. Biar gampang dimatchingin sama bajunya, sepatunya saya pilih warna gelap.
Trus yang saya inget saya batal lari karena sakit. Selanjutnya lari hanya tinggal rencana.
Boro-boro mau ikutan marathon secara latihannya aja gak pernah.

Bukan April saya mau berangkat ke HK. Saya butuh sepatu yang enak diajak jalan seharian disana. Kepikiran beli sepatu jalan lagi. Tapi tiba-tiba saya menemukan kotak sepatu yang masih bersih.
Isinya? sepatu lari sayaaaaa......
Jadi walaupun sepatu itu belum pernah diajak lari. Tapi sepatu ini udah diajak keliling HK. Jalan ke Disneyland HK, ke Macau. Terakhir udah saya pake jalan disekitar Marina Bay. Rencananya, bulan Oktober sepatu ini malah mau diajak jalan ke Dieng dan motret sunrise disana.

Jadi kapan ya ini sepatu diajak lari beneran?

Wednesday, June 25, 2014

Pilpres

Hanya dalam hitungan jari, kita akan Pemilu lagi. Kali ini yang dipilih presiden.

Udah beberapa minggu ini di halaman Facebook mulai hadir para 'jurkam-jurkam kagetan' yang dengan semangat mempromosikan capres jagoan masing-masing.
Saya sih awalnya gak keberatan. Tapi lama-lama gatel sendiri. Ini kok yaaaa... jadi ngerasa kayak yang paling tahu dan paling kenal capres tersebut. Pokoknya 'perkenalan' dengan capres ini jadi mengalahkan hubungan keluarga saking 'akrab'nya. Dan tidak malu-malu juga ikutan menjelek-jelekkan capres lawan. Mungkin saking 'kenalnya' dengan capres jagoannya, mereka bisa tahu, tiap pagi si capres kesayangan sarapan apa? Sabun mandinya mereknya apa? Sukanya ngemil cemilan apa?

Si A : paling pintar, paling top, paling kerakyatan, paling sederhana, paling hebat blablabla...blablabla...
Si B : gak bisa apa-apa, orangnya kampungan, penjahat, calon koruptor blablabla... blablabla....

Beberapa waktu lalu, saya mau posting foto keponakan saya saja sampe males jadinya baca komentar-komentar jurkam kagetan ini.

Udah beberapa minggu polanya turun naik. Ada yang musiman aja jadi jurkamnya dan saat ini sudah mengalami masa surut. Tapi ada yang konstan. Pokoknya tiap hari harus posting status atau link yang berhubungan dengan capres andalannya.

Trus saya mikir, kalooooo... nanti capresnya kepilih, kira-kira mereka dapet jabatan apa ya? Manager Social Media? Humas? Saking rajinnya membombardir social media dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan capres kesayangannya.

Saya lebih senang sama orang yang walopun dia memuji seorang capres tapi tidak bikin orang lain sakit kepala dengan postingannya. Kalaupun mau posting, netral aja. Gak usah kayak kebakaran jenggot mati-matian ngebelain. Bagi saya, posting sih wajar-wajar aja. Cuma kalau bisa, postingannya yang bisa bikin orang yang bacanya ikutan mikir, ikutan belajar dan memahami sosok si capres ini.

Lagipula, saat ini kan lagi masa kampanye. Namanya juga masa kampanye, mirip kaya masa pesta diskon. Semua berita baik pasti lagi dijual sama tim sukses capres tertentu. Nah ada juga tim yang mati-matian ngejelek-jelekin capres lawan. Itu mah wajar.
Berita baiknya pun abis-abisan dijual, rumah sakit gratis, sekolah gratis, orang miskin pasti terjamin, wilayah tertinggal akan dikembangkan, utang negara akan dihilangkan. Pokoknya janji-janjinya surga banget. Kayak membalikkan telapak tangan untuk bikin Indonesia jadi semaju Jepang. Entah para capres ini punya tongkat Harry Potter trus langsung bikin semua yang berantakan jadi rapih.

Padahal kita kan tahu semua itu gak mudah. Contoh kayak kampanye gubernur Jakarta yang selalu jualan janji " mengatasi banjir dan macet ". Tapi kenyataanya? Macetnya makin menjadi, banjirnya masih tetap ada. Perubahannya memang ada tapi gak frontal seperti janjinya. " Pilih saya, semuanya jadi rapih! jadi bersih! jadi aman! ". Engga begitu kan? Ada proses yang harus dijalani.

Demikian pula dengan para capres ini. Memilih mereka bukan berarti semuanya langsung jadi berubah dalam seketika. Nah yang paling penting adalah bagaimana mereka merealisasikan janji-janji ini kepada kita rakyatnya. Jangan cuma bisanya janji-janji surga saat masa kampanye dan begitu sudah terpilih langsung amnesia. Yang tadinya pro rakyat langsung berubah hanya pro partai saja. Yang katanya mau memberantas korupsi jadi ikutan terlibat. Ini yang paling penting.

Kadi kalau sekarang saya ditanya, mau pilih yang mana??? Hmmm... kayaknya, saya masih punya waktu untuk mempelajari para capres ini kan?




Tuesday, June 17, 2014

Anak bukan halangan liburan

Entah kenapa saya sebal sama orang-orang yang suka ngebandingan hidup mereka dengan kondisi saya.
Saya belum punya anak, seneng jalan-jalan.
Udah ga bisa dihitung berapakali saya mendengar ocehan " puas-puasin aja jalan-jalan mumpung belum punya anak. nanti kalau udah punya anak, susah kemana-mana ".

Ya ampuuunn... kasian banget anak-anak mereka dijadiin alasan ga bisa jalan-jalan.

Saya lebih appreciate sama orang yang bilang " semenjak punya anak, budget liburannya kudu disiapin bener-bener " dari pada kata-kata diatas itu.
Kenapa sih anak harus jadi alasan ga bisa liburan? gak bisa travelling. Masalahnya di si anak atau di biayanya? Yang jelas dong!

Kalau anak jadi alasan ga bisa liburan, percuma dong majalah-majalah selalu bikin artikel tentang travelling dengan anak, travelling dengan si kecil, bahkan travelling sambil membawa bayi.

Kalau kita liat di google, banyak  banget para backpacker yang keliling dunia sambil bawa anak. Mereka asyik-asyik aja tuh. Anak kayaknya ga jadi halangan buat jalan-jalan.

Kalau saya punya anak, saya akan menyiapkan sedemikian mungkin buat liburan dengan anak saya. Saya akan baca artikel-artikel di majalah, nanya sama orang-orang yang bisa travelling sambil bawa anak atau belajar via google. Gimana caranya menyiapkan acara travelling sama anak. Dan yang paling penting menyiapkan budgetnya dengan sebaik-baiknya.

Dua hari lalu saya baru balik dari Singapura. Dua bulan lalu saya baru balik dari Hongkong. Bulan Oktober besok saya akan travelling ke Solo-Dieng-Jogya dan bulan April 2015 saya lagi nyiapin travelling ke Singapore - Malaysia dan Thailand.

Trus mendadak berhamburan deh kata-kata soal " mumpung belum punya anak ". Haduuuuhh....

Gini yaaaaa.... saya juga baru bisa travelling sekarang ini karena baru sekarang ini saya punya budget buat travelling. Sebelumnya budget saya alokasikan untuk beli rumah dan urusan-urusan lain. Sekarang saya ngerasa, Alhamdulillah Allah kasih saya rejeki lebih, jadinya saya bisa travelling.
Kalau nanti saya punya anak, saya akan atur budget travelling saya supaya saya bisa travelling bareng anak saya.

Jadi bagi saya, anak bukan halangan buat kita bisa travelling. Halangan utamanya adalah UANG.

Kasian dong anak kita dijadiin alasan. Bukannya kita berharap bisa nyenengin anak? Kok malah mereka dijadiin alasan ga bisa seneng-seneng?