Saya bukan penggemar fanatik sepak bola. Apalagi sepak bola lokal yang lebih banyak tinjunya. Sebut aja, wasit ditonjok, antar pemain saling memukul. Buuuuhh....... saya sebal sepak bola. Kalau saat weekend, ada stasiun televisi yang menayangkan sepak bola, buru-buru saya ganti channelnya.
Kata hubby, saya penggemar bola musiman. Lagi piala dunia, saya nonton sepotong-sepotong. Timnas main, malah ga pernah sekalipun saya tonton.
Lalu ada piala AFF ini. Jujur aja, saya ga pernah tau tentang piala AFF ini. Gara-garanya waktu itu saya sedang dirumah ipar dan menemani keponakan saya main dikamarnya, sementara yang lain sedang nonton bola diruang tengah. Tiba-tiba tiap beberapa menit selalu ada teriakan " Goooooollll....... ". Lalu beberapa menit kemudian " Gooooolll.... ". Saya sampai mengutus keponakan saya yang sedang asyik main internet untuk keluar kamar dan menyelidiki, ada apakah gerangan?? Oh ternyata Indonesia sedang melawan Laos.
" Gilaaaa.... tante Intan, kita menang udah 4 kosong loh " demikian lapor keponakan saya.
Saya bergegas keluar kamar. Suami saya sedang nonton bersama kakaknya, iparnya, saudara kembarnya dengan muka sumringah. " Hebat Indonesiaaaaaa.... " Dan kita semua tahu kisahnya. Indonesia membabat Laos dengan 6-0. Hebat!!!
Setelah itu saya jadi ketagihan menonton timnas Indonesia ini. Suami saya yang memang gibol (gila bola) tulen sampai bilang " Enak nih nonton Timnas yang sekarang, mainnya bagus, oper-operannya keren. Kemampuannya merata semua ". Saya juga mengakuinya. Malah saya ngerasa, dengan timnas yang sebagus ini, waktu 90 menit permainan bola rasanya ga cukup buat saya. Belum apa-apa sudah habis.
Lawan Thailand juga begitu. Kata hubby dari jaman dulu, kita selalu kalah dari Thailand. Tahun ini kita bisa menang 2-1. Lalu Filipina kena getahnya. Dua kali melawan Indonesia, selalu kalah. Saya jadi penasaran, ada apa sih dengan timnas sekarang??
Weekend kemarin saya mencari tahu apa yang terjadi dengan timnas kita. Baru saya tahu, ada sosok hebat dibalik timnas kita sekarang. Sang kepala pelatih Alfred Riedl (AR).
Sosok ini memang luar biasa. Kalau disorot kamera saat pertandingan mukanya tanpa ekspresi, persis boss saya yang British dulu. Anak asuhnya memasukkan gol, dia biasa aja. Tidak heboh lompat-lompat seperti pelatih lainnya. Kalau anak buahnya kebobolan gol dari lawan, dia juga ga menunjukkan ekspressi sebal atau marah. Sama aja, tanpa ekspresi. Hobbynya mencatat. Mungkin kesalahan yang dilakukan anak asuhnya untuk diperbaiki dikemudian hari.
Yang bikin saya makin penasaran, sosok AR ini nyaris dipecat PSSI karena tabiatnya yang kaku. Pihak yang tidak ada kepentingannya dengan timnas dia usir untuk menjauh, pemain yang tidak disiplin, dicoret dari skuadnya. Makanya PSSI sampai sebal dengan si AR ini.
Tapi semakin saya membaca tentang AR ini saya banyak mendapatkan cerita bahwa sosok ARlah yang dibutuhkan timnas kita. Ada cerita yang bilang bahwa timnas kita sering ga disiplin sampai kemampuan fisik dan skillnya yang dibawah rata-rata. Makanya waktu pertamakali dilatih AR ini para pemain sempat muntah-muntah hebat akibat terlalu lelah.
Semoga pak AR ini benar-benar merubah wajah timnas kita yang sudah coreng moreng karena sering buruk permainannya. Saya juga setuju pak AR ini sering memasang muka jutek dan tanpa ekspresinya agar dia tidak diganggu-ganggu oleh internal PSSI yang banyak banyak masalah dan korupsi.
Sekarang saya tinggal menunggu dan berdoa, supaya timnas dengan hasil racikan pak AR ini bisa mengalahkan Malaysia di partai final dan mengangkat piala AFF.
Ini berita yang enak dilihat dan dibaca.... daripada cuma nonton berita korupsi yang tidak pernah jelas ujung pangkalnya :)
Thursday, December 23, 2010
Wednesday, December 8, 2010
Kemajuan jaman
Saya ga pernah bosan membahas soal kemajuan jaman. Ada internetnya, ada pembangunan dimana-mana (mall lagi... mall lagi). Saya pun ikut dalam perkembangan jaman sekarang ini. Sebut saja saya punya BB. Saya bukan orang yang mengikuti teknologi atau orang yang gagap teknologi amat. 50% : 50% deh. BB saya juga bukan BB yang paling canggih di typenya. Masuk di barisan paling bawah malah hehehe... cuma saya memakai fungsinya. Minimal bisa BBM-an, check FB, Twitter, 4Sq, bisa browsing pada saat saya perlu, buka email, cukup buat saya.
Soalnya ada teman saya yang memakai BB canggih dikelasnya tapi cuma buat BBM-an dan FB-an doang.
Kemajuan jaman membuat jarak yang jauh jadi dekat. Seperti saya dan teman saya di Venezuela jam terpisah oleh jarak ribuan kilometer dan perbedaan waktu hampir 12 jam. Tapi kami tetap bisa bercakap-cakap melalui Yahoo Messenger (saya pagi hari, dia malam hari atau sebaliknya).
Lucunya kemajuan jaman bisa membuat teman saya yang ada di nun jauh di belahan dunia sana bisa tau apa yang saya lakukan kemarin. " Tan, enak ya soto kudus itu? pengen deh nyoba kalo gue mudik " kata teman saya di Milan. Heee....??? kok dia tahu saya makan soto kudus. Oh ternyata dia melihat dari check-in saya (4Sq) di warung soto kudus tersebut. Pantas aja....
Tapi kemajuan jaman sering kali membuat orang jadi 'celamitan' (apa ya bahasanya???). Maksudnya gini, saya ga pernah urusan liat status teman saya, check in2nya dia di 4Sq atau isi UberTwitternya. Maksudnya, itu hidupnya, suka-suka dia aja yang ngejalaninnya. Silahkan aja....
Makanya ada aja yang kesal kalau tiba-tiba ada yg bilang " bete deh, kenapa sih ada orang yang ngurusin gue kesana-sini, status-status gue atau check in-an gue? " Hmmm......
Kemajuan jaman mungkin membuat kita harus lebih hati-hati dalam bertindak. Menaruh status, memberitahukan lokasi (lewat 4Sq) harus lebih bijaksana lagi. Kalau orang lain banyak yang celamitan sama status/check-in-an kita. Bukankah sebaiknya kita juga harus lebih hati-hati menaruh status dan memberitahukan posisi kita???
Soalnya ada teman saya yang memakai BB canggih dikelasnya tapi cuma buat BBM-an dan FB-an doang.
Kemajuan jaman membuat jarak yang jauh jadi dekat. Seperti saya dan teman saya di Venezuela jam terpisah oleh jarak ribuan kilometer dan perbedaan waktu hampir 12 jam. Tapi kami tetap bisa bercakap-cakap melalui Yahoo Messenger (saya pagi hari, dia malam hari atau sebaliknya).
Lucunya kemajuan jaman bisa membuat teman saya yang ada di nun jauh di belahan dunia sana bisa tau apa yang saya lakukan kemarin. " Tan, enak ya soto kudus itu? pengen deh nyoba kalo gue mudik " kata teman saya di Milan. Heee....??? kok dia tahu saya makan soto kudus. Oh ternyata dia melihat dari check-in saya (4Sq) di warung soto kudus tersebut. Pantas aja....
Tapi kemajuan jaman sering kali membuat orang jadi 'celamitan' (apa ya bahasanya???). Maksudnya gini, saya ga pernah urusan liat status teman saya, check in2nya dia di 4Sq atau isi UberTwitternya. Maksudnya, itu hidupnya, suka-suka dia aja yang ngejalaninnya. Silahkan aja....
Makanya ada aja yang kesal kalau tiba-tiba ada yg bilang " bete deh, kenapa sih ada orang yang ngurusin gue kesana-sini, status-status gue atau check in-an gue? " Hmmm......
Kemajuan jaman mungkin membuat kita harus lebih hati-hati dalam bertindak. Menaruh status, memberitahukan lokasi (lewat 4Sq) harus lebih bijaksana lagi. Kalau orang lain banyak yang celamitan sama status/check-in-an kita. Bukankah sebaiknya kita juga harus lebih hati-hati menaruh status dan memberitahukan posisi kita???
Thursday, November 25, 2010
si Mungil
Sehubungan dengan hubby yang lagi tugas ke Solo, dua hari ini saya akan kekantor berduaan dengan si Mungil aja. Btw, buat yang belum tau, Mungil ini nama mobil saya Daihatsu Classy keluaran tahun 1995. Dinamain Mungil sama hubby, karena bentuknya yang mungil seperti saya :))
Udah lama banget saya ga pergi berduaan sama si Mungil. Duluuu banget circa 2004 - 2005 saya masih hilir mudik sama si Mungil berduaan kemana-mana. Pulang malem, tengah malam sampai pulang menjelang pagi berdua. Hilir mudiknya kemana-mana dari mulai Thamrin-Sudirman-Gatot Subroto sampai daerah Senen. Semuanya berdua sama si Mungil. Kalo mau pergi berduaan sama si Mungil, saya selalu bilang " Mungil sayang, kita mau pergi berdua nih. Kamu jagain saya ya... jangan sakit ya ". Alhamdulillah si Mungil selalu jagain saya.
Semenjak pindah rumah ke Bintaro, si Mungil lebih sering dibawa sama hubby ke kantor karena saya memilih mengganti transportasi saya dengan kereta yang lebih cepat. Semenjak itu makin jarang aja saya pergi berdua sama si Mungil. Paling-paling kalo pergi berdua hanya seputaran Bintaro aja (salon-ATM-supermarket).
Lalu lintas yang makin parah membuat saya juga makin dilarang oleh hubby nyetir jauh-jauh lagi. Kalo keinginan pengen nyetirnya keluar trus bilang hubby, pasti jawabannya "ga usah deh, aku aja yang nyetir. Kamu duduk aja tenang-tenang "
Sekarang kantor saya udah pindah, trus hubby harus tugas kantor ke luar kota. Jadi saya berkesempatan lagi berkencan dengan si Mungil. Tadi pagi aja saking takutnya kena macet, saya memilih berangkat kantor jam 6 pagi dan alhasil saya bisa sampai dikantor jam 06.45 aja :))
Tinggal nanti sore, besok pagi, besok sore lalu weekend dimana saya memilih ga pergi kemana-mana selama hubby keluar kota.
Mungil sayang, jagain aku yaaa....
Udah lama banget saya ga pergi berduaan sama si Mungil. Duluuu banget circa 2004 - 2005 saya masih hilir mudik sama si Mungil berduaan kemana-mana. Pulang malem, tengah malam sampai pulang menjelang pagi berdua. Hilir mudiknya kemana-mana dari mulai Thamrin-Sudirman-Gatot Subroto sampai daerah Senen. Semuanya berdua sama si Mungil. Kalo mau pergi berduaan sama si Mungil, saya selalu bilang " Mungil sayang, kita mau pergi berdua nih. Kamu jagain saya ya... jangan sakit ya ". Alhamdulillah si Mungil selalu jagain saya.
Semenjak pindah rumah ke Bintaro, si Mungil lebih sering dibawa sama hubby ke kantor karena saya memilih mengganti transportasi saya dengan kereta yang lebih cepat. Semenjak itu makin jarang aja saya pergi berdua sama si Mungil. Paling-paling kalo pergi berdua hanya seputaran Bintaro aja (salon-ATM-supermarket).
Lalu lintas yang makin parah membuat saya juga makin dilarang oleh hubby nyetir jauh-jauh lagi. Kalo keinginan pengen nyetirnya keluar trus bilang hubby, pasti jawabannya "ga usah deh, aku aja yang nyetir. Kamu duduk aja tenang-tenang "
Sekarang kantor saya udah pindah, trus hubby harus tugas kantor ke luar kota. Jadi saya berkesempatan lagi berkencan dengan si Mungil. Tadi pagi aja saking takutnya kena macet, saya memilih berangkat kantor jam 6 pagi dan alhasil saya bisa sampai dikantor jam 06.45 aja :))
Tinggal nanti sore, besok pagi, besok sore lalu weekend dimana saya memilih ga pergi kemana-mana selama hubby keluar kota.
Mungil sayang, jagain aku yaaa....
Friday, November 19, 2010
Kenapa ya?? -part 2-
Setelah tadi pagi saya ngomongin soal cerita sedih pembagian daging hewan qurban. Sampe mewek deh nonton berita di TV sambil sesekali ngomong " Masya Allah Ed, Masya Allah Ed... " ngeliat ibu-ibu gendong bayi, nenek-nenek atau kakek-kakek tua rebutan daging.
Saya paling ga tahan sama anak-anak kecil dan pengemis yang udah nenek/kakek. Duh ngebayangin anak2 kecil usia 3-4 tahun udah harus nyari nafkah dijalanan. Naik turun angkot buat ngamen atau mengemis diantara mobil-mobil di lampu merah tanpa takut tubuh kecil mereka bisa celaka karena tersambar kendaraan. *Sambil elus-elus perut* saya selalu berdoa semoga anak kami nanti bisa kami penuhi segala kebutuhannya sehingga dia bisa hidup cukup kelak. Kalau nenek/kakek pengemis, saya selalu sedih ngeliatnya. Maksudnya, kebayang ga sih? seharusnya diusia tua seperti itu mereka harusnya udah duduk dirumah aja, main sama cucu, dan ga usah nyari nafkah lagi??
Satu hal yang pernah saya dengar adalah. Kalau aja pajak yang kita bayarin berada dijalan yang benarm Indonesia bisa mengurangi kemiskinannya. Atau, kalau aja semua zakat dijalankan dengan benar, pasti deh banyak orang miskin yang terbantu.
Kalau bicara soal pajak, haduuuuhh..... saya suka gemas sama negeri ini. Plis deh, semenjak kasus Gayus terbongkar, banyak suara yang ngomong " gaji kita ga seberapa, dipotong pajak. Mending pajaknya masuk kas negara untuk membiayai pembangunan, eh malah dibawa kabur mafia pajak ". Kesel kan??
Waktu masih naik kereta kemarin, saya suka sedih kalo di st Tanah Abang liat anak2 kecil yang ngerokok dan ngomong dengan kata2 kasar dan jorok. Mestinya di jam saat kereta saya masuk st Tanah Abang, mereka harus udah ada di sekolah dan belajar. Gak punya duit buat sekolah?? Hmmm..... bukannya kalo ga salah ada tuh undang-undangnya bahwa mereka ditanggung negara??
Trus belum lagi pengemis kakek-kakek dan nenek-nenek yang sering mengemis di sekitar stasiun Pd. Ranji. Sediiiihh banget. Apalagi kalau saat itu lagi gerimis, kasian. Takutnya abis mengemis mereka malah sakit.
Nah kalau sakit pasti butuh biaya besar buat berobat.
Tapi disatu sisi saya juga gemas denger ada istilah ' Kampung Pengemis' dimana mayoritas penduduk kampung itu adalah pengemis. Padahal dikampung itu mereka sudah tinggal dirumah bagus, punya sawah, punya kambing, dll tetapi tetap aja ga mau usaha mencari nafkah dibidang lain. Tetap aja maunya mengemis. Kasian deh buat pengemis benerannya.
Kenapa ya ada yang begitu? emang segitu gampangnya mengemis dengan mengharapkan simpati dari orang lain? Kasian dong mereka yang pengemis betulan, apalagi kalau mereka sudah berusia senja.
Trus apa benar sekarang negara udah ga menanggung anak-anak terlantar lagi? Apa petinggi negara kita ga pernah bertemu dengan pengemis dijalanan? apa mereka ga pernah nonton TV yang mengangkat berita atau reality show tentang kemiskinan?
Semoga mereka (petinggi negara kita) bisa dibukakan hatinya. Amin
Saya paling ga tahan sama anak-anak kecil dan pengemis yang udah nenek/kakek. Duh ngebayangin anak2 kecil usia 3-4 tahun udah harus nyari nafkah dijalanan. Naik turun angkot buat ngamen atau mengemis diantara mobil-mobil di lampu merah tanpa takut tubuh kecil mereka bisa celaka karena tersambar kendaraan. *Sambil elus-elus perut* saya selalu berdoa semoga anak kami nanti bisa kami penuhi segala kebutuhannya sehingga dia bisa hidup cukup kelak. Kalau nenek/kakek pengemis, saya selalu sedih ngeliatnya. Maksudnya, kebayang ga sih? seharusnya diusia tua seperti itu mereka harusnya udah duduk dirumah aja, main sama cucu, dan ga usah nyari nafkah lagi??
Satu hal yang pernah saya dengar adalah. Kalau aja pajak yang kita bayarin berada dijalan yang benarm Indonesia bisa mengurangi kemiskinannya. Atau, kalau aja semua zakat dijalankan dengan benar, pasti deh banyak orang miskin yang terbantu.
Kalau bicara soal pajak, haduuuuhh..... saya suka gemas sama negeri ini. Plis deh, semenjak kasus Gayus terbongkar, banyak suara yang ngomong " gaji kita ga seberapa, dipotong pajak. Mending pajaknya masuk kas negara untuk membiayai pembangunan, eh malah dibawa kabur mafia pajak ". Kesel kan??
Waktu masih naik kereta kemarin, saya suka sedih kalo di st Tanah Abang liat anak2 kecil yang ngerokok dan ngomong dengan kata2 kasar dan jorok. Mestinya di jam saat kereta saya masuk st Tanah Abang, mereka harus udah ada di sekolah dan belajar. Gak punya duit buat sekolah?? Hmmm..... bukannya kalo ga salah ada tuh undang-undangnya bahwa mereka ditanggung negara??
Trus belum lagi pengemis kakek-kakek dan nenek-nenek yang sering mengemis di sekitar stasiun Pd. Ranji. Sediiiihh banget. Apalagi kalau saat itu lagi gerimis, kasian. Takutnya abis mengemis mereka malah sakit.
Nah kalau sakit pasti butuh biaya besar buat berobat.
Tapi disatu sisi saya juga gemas denger ada istilah ' Kampung Pengemis' dimana mayoritas penduduk kampung itu adalah pengemis. Padahal dikampung itu mereka sudah tinggal dirumah bagus, punya sawah, punya kambing, dll tetapi tetap aja ga mau usaha mencari nafkah dibidang lain. Tetap aja maunya mengemis. Kasian deh buat pengemis benerannya.
Kenapa ya ada yang begitu? emang segitu gampangnya mengemis dengan mengharapkan simpati dari orang lain? Kasian dong mereka yang pengemis betulan, apalagi kalau mereka sudah berusia senja.
Trus apa benar sekarang negara udah ga menanggung anak-anak terlantar lagi? Apa petinggi negara kita ga pernah bertemu dengan pengemis dijalanan? apa mereka ga pernah nonton TV yang mengangkat berita atau reality show tentang kemiskinan?
Semoga mereka (petinggi negara kita) bisa dibukakan hatinya. Amin
Kenapa ya??
Tadi pagi waktu sarapan sekitar jam 6 kurang, saya nonton TV sama hubby. Saya kan paling tahan/tega liat yang namanya kemiskinan. Nah tadi pagi tuh beritanya soal pembagian daging kurban. Yang bikin saya makin mewek, adalah ada nenek-nenek tua yang kejepit di pagar atau kakek-kakek tua yang nyembul lewat kaki / selangkangan seorang. Udah gitu headlinenya berita itu adalah " bertaruh nyawa demi sedikit daging dan tulang ". Haduuuhh... sedih ga sih??
Alhamdulillah saya dan hubby bisa berqurban Tahun ini, dan seperti tahun-tahun sebelumnya saya dan hubby memilih 'mengirimkan' qurban kita ke wilayah miskin atau wilayah bencana. Insya Allah disana lebih banyak yang memerlukannya ketimbang disini.
Saya pengen cerita ya, sejak beberapa tahun lalu papa saya selalu sibuk dalam urusan qurban ini. Maklum deh, papa kan aktivis (halaaah...) mushalla. Yup papa saya selalu ikutan mengurus mushalla dekat rumahnya bersama para bapak-bapak pensiunan lainnya. Udah ga kehitung deh yang namanya kupon daging qurban selalu dipool dirumah kita. Pernah nih dulu, mama nyuruh saya dan adik ke lapangan utk ngecek apakah kambing mama udah disemblih atau belum. Baru aja buka pagar rumah, tau-taunya udah ada segerombolan orang yang antri didepan pagar rumah kita dan teriak-teriak "minta kuponnya mbak... minta kuponnya mbak ". Keruan aja saya sama adik milih masuk lagi kedalam rumah dan mama yang keluar dan bilang "kupon akan diberikan nanti setelah panitya memberi izin...blablablabla.... " baru deh massa tenang. Pheeww...
Pernah juga nih, saya ikutan nemenin hubby yang diajak papa ikut jadi tukang bagi-bagi daging. Hehehe... seharian itu hubby jadi tukang daging deh pokoknya dari mulai motong2in daging kambing yang udah bersih dikuliti dan dikeluarin isi perutnya menjadi potongan2 kecil yang kemudian dimasukkan kedalam plastik. Nah saya merhatiin ada aja orang yang curang mengharap jatah lebih. Saya sampe bisik-bisik ke hubby dan papa " ibu-ibu itu kok udah ngantri lagi? tadi kan udah? ". Udah gitu yang bikin saya gemes adalah, mereka mengharapkan daging qurban dan ngantri ke mesjid/mushalla/lokasi pemotongan hewan qurban tapi naik motor baru, atau dengan pakaian yang keren bahkan ada yang pake gelang emas bertumpuk-tumpuk. Kenapa sih 'memiskinkan' diri sendiri demi seplastik daging qurban yang padahal masih banyak yang lebih membutuhkannya dibandingkan mereka??
Kemarin waktu hari Raya Idul Adha kebetulan mama saya ikut qurban 1/7 sapi dan adik ipar ber qurban kambing di mushalla dekat rumah. Karena ikut berqurban, makanya mama dapat jatah sekitar 8 kupon daging dari panitya. Tapi mama memilih membagikan kupon-kupon jatahnya kepada pembantu kami beserta keluarganya. Alasannya " kita udah sering makan daging kan? si Rum itu hidupnya susah, boro-boro mau makan daging ". Saya sih salut sama mama saya yang memilih ga menikmati sedikit dari sapi/kambingnya dengan alasan tersebut. Dan kenapa ya, ga semua orang yang hidupnya sebenernya ga susah-susah amat, mau berpikir kaya mama saya. Dan memberikan jatah daging kambing/sapinya ke orang lain yang lebih membutuhkan??
Alhamdulillah saya dan hubby bisa berqurban Tahun ini, dan seperti tahun-tahun sebelumnya saya dan hubby memilih 'mengirimkan' qurban kita ke wilayah miskin atau wilayah bencana. Insya Allah disana lebih banyak yang memerlukannya ketimbang disini.
Saya pengen cerita ya, sejak beberapa tahun lalu papa saya selalu sibuk dalam urusan qurban ini. Maklum deh, papa kan aktivis (halaaah...) mushalla. Yup papa saya selalu ikutan mengurus mushalla dekat rumahnya bersama para bapak-bapak pensiunan lainnya. Udah ga kehitung deh yang namanya kupon daging qurban selalu dipool dirumah kita. Pernah nih dulu, mama nyuruh saya dan adik ke lapangan utk ngecek apakah kambing mama udah disemblih atau belum. Baru aja buka pagar rumah, tau-taunya udah ada segerombolan orang yang antri didepan pagar rumah kita dan teriak-teriak "minta kuponnya mbak... minta kuponnya mbak ". Keruan aja saya sama adik milih masuk lagi kedalam rumah dan mama yang keluar dan bilang "kupon akan diberikan nanti setelah panitya memberi izin...blablablabla.... " baru deh massa tenang. Pheeww...
Pernah juga nih, saya ikutan nemenin hubby yang diajak papa ikut jadi tukang bagi-bagi daging. Hehehe... seharian itu hubby jadi tukang daging deh pokoknya dari mulai motong2in daging kambing yang udah bersih dikuliti dan dikeluarin isi perutnya menjadi potongan2 kecil yang kemudian dimasukkan kedalam plastik. Nah saya merhatiin ada aja orang yang curang mengharap jatah lebih. Saya sampe bisik-bisik ke hubby dan papa " ibu-ibu itu kok udah ngantri lagi? tadi kan udah? ". Udah gitu yang bikin saya gemes adalah, mereka mengharapkan daging qurban dan ngantri ke mesjid/mushalla/lokasi pemotongan hewan qurban tapi naik motor baru, atau dengan pakaian yang keren bahkan ada yang pake gelang emas bertumpuk-tumpuk. Kenapa sih 'memiskinkan' diri sendiri demi seplastik daging qurban yang padahal masih banyak yang lebih membutuhkannya dibandingkan mereka??
Kemarin waktu hari Raya Idul Adha kebetulan mama saya ikut qurban 1/7 sapi dan adik ipar ber qurban kambing di mushalla dekat rumah. Karena ikut berqurban, makanya mama dapat jatah sekitar 8 kupon daging dari panitya. Tapi mama memilih membagikan kupon-kupon jatahnya kepada pembantu kami beserta keluarganya. Alasannya " kita udah sering makan daging kan? si Rum itu hidupnya susah, boro-boro mau makan daging ". Saya sih salut sama mama saya yang memilih ga menikmati sedikit dari sapi/kambingnya dengan alasan tersebut. Dan kenapa ya, ga semua orang yang hidupnya sebenernya ga susah-susah amat, mau berpikir kaya mama saya. Dan memberikan jatah daging kambing/sapinya ke orang lain yang lebih membutuhkan??
Monday, November 15, 2010
Pindah Kantor
Terhitung tanggal 8 November kemaren, saya resmi meninggalkan wilayah Sudirman dan pindah kantor ke wilayah Cilandak.
Senengnya : karena sekarang pergi dan pulang kantor bisa bareng sama hubby!!! bisa ngelayap dulu ke PIM, Citos, Poins Square.
Ga naik kereta lagi yang sering bikin hormonku ajrut ajrutan kaya fluktuasi dollar :))
Udah seminggu pulang dan pergi barengan hubby, saya jadi lebih semangat ngantor. Biasanya di drop doang di Stasiun Pd. Ranji trus didadah dadahin hubby. Saya antri karcis kereta, hubby berangkat kantor naik si Mungil (mobil kita).
Trus hubby bilang, dia ikutan stress kalo saya nelpon dia dan bilang " tau ga, kereta bermasalah! ". Apalagi kalo kejadiannya pas pulang kantor. Itu alamat saya pulang kantor jadi makin malem, trus sampe rumah udah capeee banget. Kata hubby, kalo udah kecapean gitu saya jadi jutek. Ditanya dikit, marah. Diajak diskusi langsung ngamuk.
Jadinya sekarang hidup saya (Insya Allah) lebih tenang dan hormonnya ga berantakan lagi.
Kita pindah ke Cilandak Commercial Estate. Saya belum mengexplore wilayah ini. Tapi yang paling penting sekarang, kantor saya udah dekat dari rumah. Jadi saya ga setakut kemaren kalo ada masalah banjir atau macet total.
Senengnya : karena sekarang pergi dan pulang kantor bisa bareng sama hubby!!! bisa ngelayap dulu ke PIM, Citos, Poins Square.
Ga naik kereta lagi yang sering bikin hormonku ajrut ajrutan kaya fluktuasi dollar :))
Udah seminggu pulang dan pergi barengan hubby, saya jadi lebih semangat ngantor. Biasanya di drop doang di Stasiun Pd. Ranji trus didadah dadahin hubby. Saya antri karcis kereta, hubby berangkat kantor naik si Mungil (mobil kita).
Trus hubby bilang, dia ikutan stress kalo saya nelpon dia dan bilang " tau ga, kereta bermasalah! ". Apalagi kalo kejadiannya pas pulang kantor. Itu alamat saya pulang kantor jadi makin malem, trus sampe rumah udah capeee banget. Kata hubby, kalo udah kecapean gitu saya jadi jutek. Ditanya dikit, marah. Diajak diskusi langsung ngamuk.
Jadinya sekarang hidup saya (Insya Allah) lebih tenang dan hormonnya ga berantakan lagi.
Kita pindah ke Cilandak Commercial Estate. Saya belum mengexplore wilayah ini. Tapi yang paling penting sekarang, kantor saya udah dekat dari rumah. Jadi saya ga setakut kemaren kalo ada masalah banjir atau macet total.
Friday, October 22, 2010
Macet
Bicara macet di Jakarta tarafnya udah stadium 4. Udah berat banget.
Pertumbuhan mobil-mobil yang semakin banyak, sementara kondisi jalan yang tidak bertambah. Belum lagi kondisi jalan yang makin hari makin mengenaskan karena bolong-bolong menambah keruwetan saat macet.
Belum lagi kalau ditambah cuaca hujan, macet pun makin menjadi-jadi.
Saya ingat tahun 2008 lalu, waktu itu kantor saya kedatangan 8 orang tamu dari kantor pusat di Jerman dan China. Semuanya bule. Mereka mendarat di Jakarta pukul 17.30. Saya sudah standby di hotel Ritz Carlton menunggu boss dan tamu-tamu saya datang. Saya ingat waktu itu cuaca gerimis. Saya pikir mereka akan sampai di hotel sekitar pukul 19.00. Kenyataannya..... mereka baru sampai di hotel pukul 20.30 setelah 3 jam perjalanan dari Bandara. Saya yang menunggu sampai terkantuk-kantuk. Untung saya membawa sebuah novel dan memesan segelas coklat hangat. Setelah kejadian itu, boss-boss dari kantor pusat di Jerman agak kapok mengunjungi Indonesia :D
Teman saya bilang, dia juga mendadak jadi pengidap darah tinggi akibat keseringan menempuh macet. Iyalaaahh.... kondisi jalanan yang ga gerak, belum lagi sesekali kaca spion tersenggol motor yang menyelip diantara mobil yang parkir. " Pokoknya kalo engga klakson, kalo engga gue teriakin aja tuh motor. Soalnya abis nabrak mereka kabur, sementara gue ga bisa apa-apa ". Gak salah kan kalo dalam beberapa bulan tensinya naik dengan cepat???
Boss saya yang orang Aussie juga pernah komplain. Waktu itu tanpa sengaja dia melihat kearah jalan Sudirman menuju semanggi dari jendela kantor kami lalu mulai mengumpat-ngumpat kecil. OK, udah macet boss. Trus mau apa??? Ternyata dia punya pengalaman lucu, suatu hari dia pergi nonton bersama keluarganya di Senayan. Selesai nonton jam 9 malam, begitu keluar dari Plaza Senayan sudah dihadang macet. Yang dia bingung adalah saat itu sudah pukul 10 malam, kok masih macet juga??? Saya cuma bilang ini Jakarta, kota yang ga pernah tidur. Emang Las Vegas aja yang bisa bikin julukan begitu?? :D
Untuk para pengguna Twitter, salah satu account yang wajib follow adalah @infoll atau @lewatmana. Walaupun saya jaraaang banget bawa mobil sendiri, tapi saya juga follow dia account diatas itu. Sangat berguna banget, terutama saat weekend.
Tapi bicara mengenai 2 account yang saya sebut diatas. Saya suka stress bacanya. Istilah : Parkir Gratis selalu jadi headline utama di timeline 2 account tersebut.
Sampai sekarang, kemacetan Jakarta belum ada solusinya. Meskipun ada busway, kereta tetapi masih belum bisa meredam kedahsyatan macet di Jakarta. Perjalanan pulang kantor jadi bagaikan mimpi buruk dan lebih menyeramkan ketimbang film horor manapun. Maka beberapa minggu, sebuah televisi swasta sempat mengangkat berita soal kemacetan yang bisa melumpuhkan Jakarta dalam waktu 5 - 10 tahun yang akan datang. Trus mau gimana???
Jakarta tetap menjadi gula bagi para pendatang. Tiap selesai lebaran, para pendatang di Jakarta malah bertambah. Semua kegiatan bisnis, investasi, hiburan, apapun itu selalu dipusatkan di Jakarta. Makanya Jakarta tidak pernah gagal menarik para pendatang baru.
Sehingga Jakarta makin sempit dan sesak. Kalau sudah begini, harus bagaimana ya???
Pertumbuhan mobil-mobil yang semakin banyak, sementara kondisi jalan yang tidak bertambah. Belum lagi kondisi jalan yang makin hari makin mengenaskan karena bolong-bolong menambah keruwetan saat macet.
Belum lagi kalau ditambah cuaca hujan, macet pun makin menjadi-jadi.
Saya ingat tahun 2008 lalu, waktu itu kantor saya kedatangan 8 orang tamu dari kantor pusat di Jerman dan China. Semuanya bule. Mereka mendarat di Jakarta pukul 17.30. Saya sudah standby di hotel Ritz Carlton menunggu boss dan tamu-tamu saya datang. Saya ingat waktu itu cuaca gerimis. Saya pikir mereka akan sampai di hotel sekitar pukul 19.00. Kenyataannya..... mereka baru sampai di hotel pukul 20.30 setelah 3 jam perjalanan dari Bandara. Saya yang menunggu sampai terkantuk-kantuk. Untung saya membawa sebuah novel dan memesan segelas coklat hangat. Setelah kejadian itu, boss-boss dari kantor pusat di Jerman agak kapok mengunjungi Indonesia :D
Teman saya bilang, dia juga mendadak jadi pengidap darah tinggi akibat keseringan menempuh macet. Iyalaaahh.... kondisi jalanan yang ga gerak, belum lagi sesekali kaca spion tersenggol motor yang menyelip diantara mobil yang parkir. " Pokoknya kalo engga klakson, kalo engga gue teriakin aja tuh motor. Soalnya abis nabrak mereka kabur, sementara gue ga bisa apa-apa ". Gak salah kan kalo dalam beberapa bulan tensinya naik dengan cepat???
Boss saya yang orang Aussie juga pernah komplain. Waktu itu tanpa sengaja dia melihat kearah jalan Sudirman menuju semanggi dari jendela kantor kami lalu mulai mengumpat-ngumpat kecil. OK, udah macet boss. Trus mau apa??? Ternyata dia punya pengalaman lucu, suatu hari dia pergi nonton bersama keluarganya di Senayan. Selesai nonton jam 9 malam, begitu keluar dari Plaza Senayan sudah dihadang macet. Yang dia bingung adalah saat itu sudah pukul 10 malam, kok masih macet juga??? Saya cuma bilang ini Jakarta, kota yang ga pernah tidur. Emang Las Vegas aja yang bisa bikin julukan begitu?? :D
Untuk para pengguna Twitter, salah satu account yang wajib follow adalah @infoll atau @lewatmana. Walaupun saya jaraaang banget bawa mobil sendiri, tapi saya juga follow dia account diatas itu. Sangat berguna banget, terutama saat weekend.
Tapi bicara mengenai 2 account yang saya sebut diatas. Saya suka stress bacanya. Istilah : Parkir Gratis selalu jadi headline utama di timeline 2 account tersebut.
Sampai sekarang, kemacetan Jakarta belum ada solusinya. Meskipun ada busway, kereta tetapi masih belum bisa meredam kedahsyatan macet di Jakarta. Perjalanan pulang kantor jadi bagaikan mimpi buruk dan lebih menyeramkan ketimbang film horor manapun. Maka beberapa minggu, sebuah televisi swasta sempat mengangkat berita soal kemacetan yang bisa melumpuhkan Jakarta dalam waktu 5 - 10 tahun yang akan datang. Trus mau gimana???
Jakarta tetap menjadi gula bagi para pendatang. Tiap selesai lebaran, para pendatang di Jakarta malah bertambah. Semua kegiatan bisnis, investasi, hiburan, apapun itu selalu dipusatkan di Jakarta. Makanya Jakarta tidak pernah gagal menarik para pendatang baru.
Sehingga Jakarta makin sempit dan sesak. Kalau sudah begini, harus bagaimana ya???
Subscribe to:
Posts (Atom)