Saturday, March 12, 2011

Berita duka cita

Seorang teman sekantor saya resign.
Sebelum resign dia sering main keruangan saya. Ya, sebagai sekertaris Presdir memang saya mendapatkan ruangan sendiri, terpisah dengan teman-teman yang lain diluar yang hanya dibatasi cubicle seukuran dada. " Jadi beneran lu mau resign? " tanya saya padanya waktu itu. Dia bilang iya dan memberikan sedikit clue tentang kantor barunya.
Kata teman saya prosesnya diterima masuk ke perusahaan tersebut relatif mudah. Interviewnya banyak dilakukan lewat telpon dan email karena perusahaan tersebut ada di Batam dan Singapura.
Di hari-hari terakhirnya dia ada dikantor kami, dia makin sering main keruangan saya. Waktu itu dia baru aja membeli sebuah blackberry yang setipe dengan BB saya. Seperti biasa dia minta pin BB saya. Lalu saya juga minta di add di FBnya dia (terakhir baru ketahuan cuma saya satu-satunya yang memilikin account FBnya dikantor). Lalu dia makin sering bercerita soal perusahaan barunya yang ternyata sebuah perusahaan minyak asing. Selepas dari perusahaan kami, dia langsung pergi ke Batam dan menetap disana.
" Trus istri dan anaklu gimana dong? " tanya saya karena saya tau istrinya masih tercatat sebagai karyawan sebuah bank swasta dan mereka baru saja memiliki seorang putra yang baru berusia 8 bulan. Lalu teman saya mulai bercerita tentang masa depannya. Kalau udah udah selesai masa probation dan udah stabil disana dia akan membawa anak dan istrinya ke Batam. Untuk sementara dia akan bolak-balik Jakarta - Batam tiap bulan. Pokoknya udah ada rencana masa depan yang cerah dari ceritanya. " Memang ya, Allah SWT selalu kasih rezeki dari sudut yang ga pernah kita tau ". Itu salah satu kata terakhir saya yang kemudian di-amin-kan olehnya.
Lalu hari Jumat 18 Februari 2011 dia pun resmi meninggalkan perusahaan ini.

Tanggal 27 Februari saya menaruh status di FB saya soal Pilkada Tangsel. Ternyata dia ikut memberi komen di status saya, dan saya baru tahu kalau dia ternyata sedang sakit.

Tanggal 28 Fabruari saya chatting via BBM dengan dia. " sakit apa? " tanya saya. Dia bilang sakit Demam Berdarah dan sedang dirawat di RS Carolus. Lalu saya bertanya tentang kantor barunya di Batam, dan dia bilang, Alhamdulillah perusahaan barunya bisa menerima.
Kemarin, hari Jumat tanggal 11 Maret saat saya sedang asyik-asyiknya mengetik, seorang teman saya berteriak-teriak memanggil nama saya. Ia bertanya " Intan, beneran ya Bambang Triyono meninggal? ". Lalu kami semua mencari kabar soal dia. Seorang teman berteriak " siapa yang punya FBnya Bambang?? ". Langsung saya teringat dan mencarinya di BB saya. Dan ternyata, teman saya itu benar meninggal dunia. Terbukti dari banyaknya tulisan bela sungkawa teman-temannya kepadanya.
Sorenya saya dan 2 orang teman mengunjungi orang tuanya. Dari mereka kami mendengar cerita lengkapnya.
Semenjak meninggalkan kantor hari Jumat 19 Februari, Minggu subuh tanggal 21 Februari dia dilarikan kerumah sakit oleh istrinya karena suhu badannya tinggi. 9 hari dirawat di RS lalu ia keluar tapi tanpa kesembuhan 100%. Ia memilih beristirahat seminggu dirumah sebelum berangkat ke Batam. Tanggal 6 Maret dia pulang kerumah orang tuanya. Tanggal 8 Maret kesehatannya makin memburuk dan meninggal dunia tanggal 10 Maret.
Pada akhirnya dia tidak pernah bergabung ke perusahaannya yang baru dan mimpi indahnya tentang tinggal bersama istri dan anaknya di Batam pun pudar sudah. Kita hanya bisa berencana dan Tuhan yang memutuskannya. Selamat jalan sahabat, semoga engkau diterima disisi-Nya....

Thursday, February 17, 2011

Adopsi

Saya mulai berpikir untuk adopsi. Entah kenapa, mendadak terlintas saja dibenak saya. Mungkin rumah kami mulai rindu kehadiran sosok mungil. Beberapa waktu lalu, diam-diam saya sempat mempelajari dokumen adopsi ini. Mamah mertua saya siap membantu. Papap mertua saya juga siap turun tangan membantu urusan paperworksnya. Lalu saya mulai mencari-cari di google, apa saja yang harus disiapkan untuk mengadopsi seorang bayi.
Secara hukum, saya dan hubby udah bisa melakukan proses adopsi. Kami berdua sudah menikah lebih dari 5 tahun tanpa anak, punya penghasilan dan dari keluarga yang mampu. Saya kembali semangat hendak melakukan adopsi. Apalagi di keluarga saya, adopsi bukan hal yang baru pertama kali dilakukan. Om dan tante saya, ipar saya pernah melakukan adopsi. Dan Alhamdulillah, semua berjalan lancar hingga hari ini.
Didalam lubuk hatinya, sebenarnya hubby belum siap melakukan hal ini. Adopsi bukan seperti kehamilan yang kami tunggu datang dari rahim saya sendiri. Adopsi sepertinya berlangsung cepat. Hari ini kami masih berdua, besok kami sudah bertiga. Berbeda dengan kehamilan yang datang dari rahim saya, dimana kami benar-benar menunggu kedatangannya selama 9 bulan. Tapi saya tetap semangat, hingga suatu ketika hubby bilang " yuk bismillah, Insya Allah aku siap ".

Teman-teman saya pun banyak mendukung dan menyemangati saya. Ada yang ga pernah berhenti mengirimkan twitter atau memberikan link soal adopsi ini ke Blackberry saya.

Tapi ternyata tidak semuanya mendukung. Ada yang menentang. Dan memberikan contoh-contoh yang super mengerikan soal adopsi ini. " Bayangin aja, ga ada petir ga ada angin. Eh, tiba-tiba si tetangga ngomong ke si anak. Eh kamu kan bukan anaknya mama itu, kamu cuma anak pungut!! ". Astagfirullah... Padahal kalo dipikir, apa urusannya si tetangga ngomong seperti itu?? Walaupun dalam nada becanda, tapi itu adalah sebuah becandaan tolol menurut saya.
Atau contoh seperti ini " Eh, lu adopsi anak Cina ya? matanya sipit banget. Beda banget matanya sama mata kalian berdua. Kok yang diambil anak Cina sih?? ". Rasanya saya mau menonjok orang ini!

Mental saya langsung drop seketika.

Saya ga mau kalau anak saya harus tahu asal-usulnya dari mulut orang lain. Karena saya hanya mau anak saya hanya tahu bahwa saya dan hubby adalah orang tuanya. Orang tua yang menyayanginya sepenuh hati.
Ada yang menyarankan, kalau saya mau adopsi lebih baik saya pindah ke lingkungan baru yang tidak mengenal saya sama sekali. Sehingga 'rahasia' adopsi saya bisa terjaga. Lagi-lagi mental saya kembali drop saat itu juga.

Beberapa waktu lalu saya menonton Discovery Home & Health yang membahas soal adopsi ini. Saya iri dengan kehidupan di America yang membicarakan adopsi tanpa harus ditutup-tutupi. Saya iri melihat sepasang keluarga America berkulit putih yang dengan kasih sayang mengurus bayi perempuan adopsi mereka yang berkulit hitam. Saya iri dengan Angelina Jolie, Sandra Bullock atau Madonna yang dengan santainya mengurus anak-anak adopsi mereka dan memanggil mereka dengan " my boy, my daughter ". Tanpa takut ada orang yang bilang " itu anak pungut ya? ".
Saya iri dengan mereka di America yang bisa bilang " This is my adopted son/daughter. And I am so proud of him/her ". Demikian juga sebaliknya. Pasti pada tahu soal asal usul Nicole Richie yang juga adalah anak adopsi dari Lionel Richie?

Tapi itu di America dan bukan di Indonesia. Kehidupan disana berbeda kulturnya.
Sekarang saya kembali mengumpulkan kepingan menrak saya yang sudah pecah berkeping-keping menjadi satu kembali. Insya Allah saya siap. Bismillah... saya percaya Allah akan memberikan saya kekuatan. Amin!

Wednesday, February 9, 2011

BB ohhh BB

Setelah setahun lebih menggunakan BB, saya merasa BB mempermudah hidup saya. Istilah dunia ada ditangan memanghampir jadi kenyataan. Mau ngobrol, browsing, cek email semua bisa dilakukan lewat BB.

Waktu pertama kali punya BB, saya ga sempat menjadi autis. Dirumah saya ga sampe kayak yang duduk di pojok ruangan sambil sibuk dengan BB saya. Kata hubby, saya masih normal. Sampe dirumah, BB langsung saya letakkan dimeja disamping tempat tidur. Persis seperti jamannya masih pake HP dulu. Biar pun bunyi tring... tring... tring... ga selalu saya perdulikan. Akibatnya bisa dibilang saya hampir ga pernah ribut sama suami gara soal BB ini.

Tapi ada satu hal yang mengganggu hidup saya. Apalagi dengan yang namanya bunyi tring... tring... tring... BB yang kadang suka ga kenal waktu. Pagi-siang-malam-tengah malam-subuh sudah bunyi.
Memang, saya mengikuti 9 grup di BB saya. Ada grup teman-teman SD, teman SMP, teman SMA, kuliah, dan grup keluarga. Ada grup yang sepi, ada yang kelewat ramai.
Grup keluarga biasanya untuk saling memberitahukan apabila ada sesuatu hal yang berhubungan dengan keluarga misalnya " om X masuk RS, dirawat di paviliun A kamar nomor sekian-sekian ". Atau misalnya " ada undangan makan siang dirumah tante Y dalam rangka ulang tahunnya ".

Grup sekolah juga begitu. Biasanya BB saya akan mendadak berisik apabila ada event yang diadakan grup kami. Misalnya Arisan, karaokean bareng, ketemuan, dll. dll.

Tapi ada juga yang diluar batas. Kadangkala teman-teman saya seperti lupa bahwa apabila mereka hanya ngobrol berdua dan dilakukan didalam grup, akan membuat BB semua orang yang ada didalam grup tersebut ikutan bunyi. Urusan seperti ini sempat membuat seorang teman mengundurkan diri dari grup karena ga tahan. Saya juga mengerti perasaan teman saya ini.
Kadang kala urusan pembantu yang hanya diomongin 2 orang teman saya yang kebetulan ibu rumah tangga dan ga ada kewajiban pergi kekantor esok harinya diomongin didalam grup sampe tengah malam. Selama mereka masih asyik bercakap-cakap, BB saya tetap bunyi tring tring tring tring :((

sampe ada yang menjerit " kenapa ga japri aja sih????? "

BB suami saya juga gitu. Pernah suatu ketika saya terbangun tengah malam karena mendengar BBnya berbunyi. Waktu saya cek ternyata salah seorang teman di salah satu grup BBnya menulis " udah pada tidur ya?? ". Dan dia menulisnya jam 1 malam!!!!!!

Semalam, BB saya ribut berbunyi. Isinya percakapan beberapa teman saya. Kalo kata teman yang lain, teman-teman saya ini baru merasakan punya BB semua, jadi masih getol2nya ngobrol :D
Masalahnya semalam sudah hampir jam 11 dan mereka masih asyik ngobrol. Hubby tidur duluan. Kalau hubby belum tidur, biasanya dia akan meletakkan BB saya jauh-jauh dari tempat tidur. Entah dimeja tempat kami menaruh sajadah shalat atau diatas lemari. Tapi semalam berhubung hubby sudah tidur dan saya sudah terlalu malas untuk beranjak dari tempat tidur, saya memilih menu SILENT di BB saya dan melanjutkan tidur.

Lalu paginya saya lupa kalau BB saya masih dalam kondisi SILENT. Hingga sampai dikantor.... terakhir boss saya yang sedang berada di Singapura menelpon teman sekantor saya untuk berbicara dengan saya. Kemudian " why you didn't pick up my phone? I tried to call you many times!!! " OMG :((



Wednesday, February 2, 2011

Duka Cita

Hari Senin kemarin sekitar pukul 3 sore saya menelpon Plant Manager saya, Bp. Agus Priyadi. Mengingatkan beliau soal Management Meeting yang saya atur hari Selasa, 1 Februari 2011.
" Jangan lupa ya Pak, jam 10 seperti biasa ". Beliau menjawab " Iyaaaa.... " jawaban khas ala pak Agus. Tapi siapa yang mengira, justru jawaban standar itu adalah suara beliau terakhir yang saya dengar??
Sepulang dari kantor, saya mandi lalu makan malam. Setelah itu sama minum obat batuk saya yang mengandung obat tidur. Jam 8 saya sudah nyaris pulas, walaupun terbangun sesekali akibat batuk. Saya melihat BB saya ada dimeja disamping tempat tidur saya, tapi saya malas memegangnya. Saya biarkan tergeletak disana.
Keesokan harinya (1 Februari 2011) saya diantar kekantor oleh hubby seperti biasa dan minta diturunkan didepan ATM Mandiri didekat kantor. Saya baru menyadari BB saya ternyata mati, lalu saya masukkan pin saya dan kemudian... tring..tring...tring...tring... puluhan BBM masuk seketika. Selesai urusan dengan ATM saya mulai membaca BBM yang masuk. Salah satunya " Agus Priyadi passed away last night due to heart failure.... " Astagfirullah.... saya langsung lemas rasanya. Tiga teman saya mengabarkan seperti itu.
Saya berlari dari ATM ke gedung kantor kami. Boss saya megirimkan SMS bahwa dia akan berada di pabrik untuk mengurus pabrik yang mendadak ditinggal pimpinannya. Teman saya mengirim BBM semalam mengajak saya ke airport bagian cargo untuk mengurus jenazah yang akan diterbangkan ke Surabaya. Satu lagi BBM bertanya apakah saya mau turut serta ke Cikampek (lokasi pabrik kami dan rumah duka) untuk melayat kesana (BBM dikirmkan pukul 10 malam). Teman saya dikantor malah menangis karena ga percaya. " Masya Allah, gue masih ngobrol becanda-canda sama Pak Agus soal PGN (Perusahaan Gas Negara) kok " isaknya.
Saya sedih sekali karena bablas tidur akibat obat batuk dan tidak bisa membantu apa-apa untuk Pak Agus untuk terakhir kalinya.
Selasa pagi suasana duka begitu terasa dikantor kami. Semua membicarakan sosok pak Agus yang tidak pernah marah, suka berguyon dan santun. Untuk seorang Plant Manager yang mengepalai sekitar 150 orang karyawan, pak Agus termasuk jauh dari dari kesan galak. Disini saya bicara secara personal karena saya tidak begitu tahu bagaimana keseharian beliau memimpin pabrik. Tapi dimata saya, beliau sangat menyenangkan dan senang bercanda. Banyak yang tidak percaya beliau sudah pergi karena banyak dari kami di kantor Jakarta yang masih bicara lewat telpon dengannya kemarin.
Asistennya bercerita kepada saya bahwa dia sudah menganggap pak Agus seperti bapaknya sendiri. Makanya dia sedih bukan kepalang. Office girl pabrik malah belum berhenti menangis karena sedih akibat dia adalah orang yang terakhir diberitahu bahwa pak Agus meninggal dunia. Kata asisten pak Agus, si OG ini sayang banget sama pak Agus. Kalau ada kue atau makanan lain, pasti si OG langsung menyisihkan duluan makanan tersebut untuk pak Agus. Malah kalau ada yang nakal dan nekad mengambil kue/makanan, si OG akan marah-marah. Urusan kopi atau teh untuk pak Agus dia selalu siapkan nomor satu.
" Makanya si Titik (OG) belum berhenti nangis mbak, dia marah sama kita karena dia baru diberi tahu terakhir ".
Receptionist kantor saya juga menangis karena ia menganggap Pak Agus seperti bapaknya sendiri, apalagi Pak Agus salah satu orang yang cukup berjasa mencomblangkan si receptionist dengan salah satu orang di pabrik.
Hingga hari ini kami masih sedih. Ini terlihat dari status Yahoo Messenger dan Facebook para karyawan kantor. Ya, kami sangat kehilangan beliau. Tidak ada lagi yang menelpon atau menyapa saya (kalau beliau berkunjung ke kantor Jakarta dengan suara khasnya " Bu Intan, bapakmu ada? "
Selamat Jalan Pak Agus Priyadi, Insya Allah bapak Khusnul Khotimah dan ditempatkan ditempat yang terbaik disisi Allah SWT. Innalillahi wa Innailaihi rojiun.........




Wednesday, January 12, 2011

Alhamdulillah 2011

Alhamdulillah saya masih bisa menikmati pagi 2011. Setelah terbangun siaaaaannng banget akibat bergadang. Saya ga pernah ngerayain NYE kemana-mana. Biasanya cuma mentok dirumah sodara, sepupu, ipar. Gitu aja. Malah sering juga dirumah (dan justru saya enjoy banget malahan).

Tahun 2010 saya lewati dengan berbagai macam hal. Akhirnya saya bisa punya clothing line baju anak sendiri, punya tulisan yang dimuat di sebuah buku, ketahuan mengidap asma. Pokoknya beragam deh. Tapi intinya saya selalu berusaha bersyukur aja.

Tahun 2011 yang baru lewat beberapa hari ini saya cuma punya sedikit resolusi. Saya juga ga berani pasang target muluk-muluk yang kelewat tinggi. Tahun 2008 resolusi saya sederhana, pengen bisa minum air putih lebih banyak lagi. Dan kesampaian!!!! Intinya saya bisa mengurangi konsumsi minuman bersoda dan teh botol hingga 90%!! Sederhana tapi susah, apalagi buat saya yang penggemar kedua minuman tersebut.
Tahun ini saya pengen lebih banyak berolah raga. Intinya setelah ketahuan mengidap asma, saya disarankan berolah raga oleh dokter. Karena saya baru pengidap asma jenis 'beginner'. Jadi daripada dikasih obat, dokter meminta saya berolah raga saja. Lalu saya mendaftar kesebuah klub kebugaran. Alhamdulillah 2 minggu join, batuk saya agak berkurang. Hubby juga kecanduan, kalo dia pengen mengurangi lingkar perutnya dan latihan beban. Insya Allah juga tahun ini saya bisa serius berolah raga. Kurus mah jadi bonus aja, yang penting saya sehat.

Saya juga pengen serius menekuni kelas yoga dan pilates. Lupakan dulu aerobik, saya memilih yoga dulu untuk saat ini disamping treadmil atau sepeda statis.
Minum air putih juga tetap masuk dalam agenda penting saya. Banyak makan sayur pun perlu saya catat didalam resolusi saya. Terakhir saya ingin bahagia lahir maupun batin. Sampai detik ini hidup saya sudah bahagia, tapi saya tidak menolak kalau Allah memberikan saya kebahagiaan lebih banyak lagi misalnya dimulai dari seorang anak :)
Selamat datang tahun 2011, semoga tahun ini banyak kebahagiaan untuk saya dan hubby. AMIIINN

Thursday, December 23, 2010

Timnas Indonesia

Saya bukan penggemar fanatik sepak bola. Apalagi sepak bola lokal yang lebih banyak tinjunya. Sebut aja, wasit ditonjok, antar pemain saling memukul. Buuuuhh....... saya sebal sepak bola. Kalau saat weekend, ada stasiun televisi yang menayangkan sepak bola, buru-buru saya ganti channelnya.
Kata hubby, saya penggemar bola musiman. Lagi piala dunia, saya nonton sepotong-sepotong. Timnas main, malah ga pernah sekalipun saya tonton.
Lalu ada piala AFF ini. Jujur aja, saya ga pernah tau tentang piala AFF ini. Gara-garanya waktu itu saya sedang dirumah ipar dan menemani keponakan saya main dikamarnya, sementara yang lain sedang nonton bola diruang tengah. Tiba-tiba tiap beberapa menit selalu ada teriakan " Goooooollll....... ". Lalu beberapa menit kemudian " Gooooolll.... ". Saya sampai mengutus keponakan saya yang sedang asyik main internet untuk keluar kamar dan menyelidiki, ada apakah gerangan?? Oh ternyata Indonesia sedang melawan Laos.

" Gilaaaa.... tante Intan, kita menang udah 4 kosong loh " demikian lapor keponakan saya.
Saya bergegas keluar kamar. Suami saya sedang nonton bersama kakaknya, iparnya, saudara kembarnya dengan muka sumringah. " Hebat Indonesiaaaaaa.... " Dan kita semua tahu kisahnya. Indonesia membabat Laos dengan 6-0. Hebat!!!
Setelah itu saya jadi ketagihan menonton timnas Indonesia ini. Suami saya yang memang gibol (gila bola) tulen sampai bilang " Enak nih nonton Timnas yang sekarang, mainnya bagus, oper-operannya keren. Kemampuannya merata semua ". Saya juga mengakuinya. Malah saya ngerasa, dengan timnas yang sebagus ini, waktu 90 menit permainan bola rasanya ga cukup buat saya. Belum apa-apa sudah habis.

Lawan Thailand juga begitu. Kata hubby dari jaman dulu, kita selalu kalah dari Thailand. Tahun ini kita bisa menang 2-1. Lalu Filipina kena getahnya. Dua kali melawan Indonesia, selalu kalah. Saya jadi penasaran, ada apa sih dengan timnas sekarang??
Weekend kemarin saya mencari tahu apa yang terjadi dengan timnas kita. Baru saya tahu, ada sosok hebat dibalik timnas kita sekarang. Sang kepala pelatih Alfred Riedl (AR).
Sosok ini memang luar biasa. Kalau disorot kamera saat pertandingan mukanya tanpa ekspresi, persis boss saya yang British dulu. Anak asuhnya memasukkan gol, dia biasa aja. Tidak heboh lompat-lompat seperti pelatih lainnya. Kalau anak buahnya kebobolan gol dari lawan, dia juga ga menunjukkan ekspressi sebal atau marah. Sama aja, tanpa ekspresi. Hobbynya mencatat. Mungkin kesalahan yang dilakukan anak asuhnya untuk diperbaiki dikemudian hari.
Yang bikin saya makin penasaran, sosok AR ini nyaris dipecat PSSI karena tabiatnya yang kaku. Pihak yang tidak ada kepentingannya dengan timnas dia usir untuk menjauh, pemain yang tidak disiplin, dicoret dari skuadnya. Makanya PSSI sampai sebal dengan si AR ini.
Tapi semakin saya membaca tentang AR ini saya banyak mendapatkan cerita bahwa sosok ARlah yang dibutuhkan timnas kita. Ada cerita yang bilang bahwa timnas kita sering ga disiplin sampai kemampuan fisik dan skillnya yang dibawah rata-rata. Makanya waktu pertamakali dilatih AR ini para pemain sempat muntah-muntah hebat akibat terlalu lelah.
Semoga pak AR ini benar-benar merubah wajah timnas kita yang sudah coreng moreng karena sering buruk permainannya. Saya juga setuju pak AR ini sering memasang muka jutek dan tanpa ekspresinya agar dia tidak diganggu-ganggu oleh internal PSSI yang banyak banyak masalah dan korupsi.
Sekarang saya tinggal menunggu dan berdoa, supaya timnas dengan hasil racikan pak AR ini bisa mengalahkan Malaysia di partai final dan mengangkat piala AFF.
Ini berita yang enak dilihat dan dibaca.... daripada cuma nonton berita korupsi yang tidak pernah jelas ujung pangkalnya :)

Wednesday, December 8, 2010

Kemajuan jaman

Saya ga pernah bosan membahas soal kemajuan jaman. Ada internetnya, ada pembangunan dimana-mana (mall lagi... mall lagi). Saya pun ikut dalam perkembangan jaman sekarang ini. Sebut saja saya punya BB. Saya bukan orang yang mengikuti teknologi atau orang yang gagap teknologi amat. 50% : 50% deh. BB saya juga bukan BB yang paling canggih di typenya. Masuk di barisan paling bawah malah hehehe... cuma saya memakai fungsinya. Minimal bisa BBM-an, check FB, Twitter, 4Sq, bisa browsing pada saat saya perlu, buka email, cukup buat saya.
Soalnya ada teman saya yang memakai BB canggih dikelasnya tapi cuma buat BBM-an dan FB-an doang.

Kemajuan jaman membuat jarak yang jauh jadi dekat. Seperti saya dan teman saya di Venezuela jam terpisah oleh jarak ribuan kilometer dan perbedaan waktu hampir 12 jam. Tapi kami tetap bisa bercakap-cakap melalui Yahoo Messenger (saya pagi hari, dia malam hari atau sebaliknya).

Lucunya kemajuan jaman bisa membuat teman saya yang ada di nun jauh di belahan dunia sana bisa tau apa yang saya lakukan kemarin. " Tan, enak ya soto kudus itu? pengen deh nyoba kalo gue mudik " kata teman saya di Milan. Heee....??? kok dia tahu saya makan soto kudus. Oh ternyata dia melihat dari check-in saya (4Sq) di warung soto kudus tersebut. Pantas aja....

Tapi kemajuan jaman sering kali membuat orang jadi 'celamitan' (apa ya bahasanya???). Maksudnya gini, saya ga pernah urusan liat status teman saya, check in2nya dia di 4Sq atau isi UberTwitternya. Maksudnya, itu hidupnya, suka-suka dia aja yang ngejalaninnya. Silahkan aja....
Makanya ada aja yang kesal kalau tiba-tiba ada yg bilang " bete deh, kenapa sih ada orang yang ngurusin gue kesana-sini, status-status gue atau check in-an gue? " Hmmm......

Kemajuan jaman mungkin membuat kita harus lebih hati-hati dalam bertindak. Menaruh status, memberitahukan lokasi (lewat 4Sq) harus lebih bijaksana lagi. Kalau orang lain banyak yang celamitan sama status/check-in-an kita. Bukankah sebaiknya kita juga harus lebih hati-hati menaruh status dan memberitahukan posisi kita???