Saturday, June 16, 2012

Pasar Cipulir

Suatu ketika saya lagi asik ngetik sendirian dirumah, BBM saya bunyi dan masuk sebuah pesan " besok kalau ga ada acara, kita kepasar Cipulir yuk. Ada si A, B, C dan D ikutan juga ".
Berhubung besok saya tidak punya acara apa-apa. Saya jawab aja " Oke ". Setelah itu obrolan berlanjut soal rencana besok. Kemudian saya lanjut ngetik lagi.

Besok pagi beberapa teman mulai berdatangan kerumah saya. Kita sarapan bubur ayam dan teh panas. Sebelum pergi kekantor paginya, hubby sempat pesan " coba di cek dulu, kayaknya acara TV Inbox bikin acara di Pasar Cipulir ". OK lah, teman-teman saya setuju. Kita liat situasi dulu.

Sempat telat menyalakan TV karena keasyikan ngobrol. Sebelum Inbox berakhir pukul 9 saya baru menyalakan TV. Ternyata benar, acara tersebut ada di Pasar Cipulir. Jadilah kita memilih bersantai dan melanjutkan ngobrol. Baru jam 10-an kita berangkat.
Rame-rame naik angkot D-18 dari rumah saya, melintasi Bintaro-Bintaro Permai-Ulujami. Lalu kita turun di pertigaan Perdatam dan lanjut jalan kaki. Cuma 45 menit dari rumah saya ke Cipulir.

Buat saya Cipulir tidak seperti Tanah Abang yang barang-barangnya melimpah. Beberapa barang yang saya liat di Tanah Abang, juga dijual di Cipulir tapi dengan harga yang sedikit agak mahal. Saya memilih tidak berbelanja, hanya membeli 2 buah kerudung. Sisanya saya sibuk membantu teman yang sibuk memilih kerudung yang sesuai dengan contoh kebaya yang ia bawa. " Adik gue mau nikah minggu depan, engga rame-rame sih. Gue udah males ke Tanah Abang jadinya beli disini aja deh ". Selain kerudung kami tidak membeli apa-apa lagi. Cipulir tidak secihuy Tanah Abang pokoknya.

Jam 3 kita pulang. Kembali menumpang angkot dengan nomor yang sama. Kami berpisah di Bintaro. Walaupun saya sedikit kecewa, tapi minimal ada pengalaman menginjak Pasar Cipulir ini deh.

Memasak Kue

Beberapa waktu sebelum hubby ultah saya sempet bilang sama hubby, " ntar kalau kamu ultah gak usah pesan kue apa-apa. Aku aja yang masak ".
Semenjak dibeliin oven tahun lalu saya selalu menantang diri saya untuk bikin sesuatu dengan oven tersebut. Kali ini saya mau bikin kue untuk ultahnya hubby.
Sesuai tradisi dikantor, kalau ada yang ultah pasti akan bawa kue. Biasanya tiap tahun saya udah ribet kalau hubby nanya " ultahku besok, bawa apa ya? " Mulai dari donat Jco, berbagai kue basah pernah saya order untuk dibawa kekantor hubby. Tahun ini saya kan udah ga kerja dan ga ribet lagi. Jadi apa salahnya kalau saya bikin aja?

Tadinya mau bikin pie susu Bali, tapi detik terakhir malah berganti sama apple pie. Satu lagi bikin macaroni schotel.

Persiapannya udah dari beberapa hari sebelumnya. Beli cup aluminium foil buat macaroni schotelnya di toko plastik deket rumah.

Yang keluar dari skenario mendadak satu hari sebelum hari H, hubby ngajak saya memperbaharui SIM. Aduuhhh..... Padahal saya udah niat mau mulai masak dari siang. Akibatnya, saya baru bisa mulai membuat adonan mulai jam 5 sore.
Masalah lain adalah, kecilnya kapasitas oven saya. Jadi cup-cup apple pie hanya bisa masuk per-12 cup saja. Sementara saya harus membuat 30-an. Jam 11 malam Apple pie selesai dan selanjutnya tugas hubby yang menata dikotak kue. Biar cantik, apple pienya saya taruh disebuah cup kertas sebelum ditaruh didalam kotak.

Keesokan subuh saya mulai membuat macaroni schotel. Alamaaakkk.... masalah kembali terulang. Kapasitas oven!!!!. Hubby mau engga mau rada telat berangkat ke kantor berhubung saya baru selesai memasak pukul 7 pagi. Supaya pas saya sediakan sendok plastik kecil dan sambal sachet.

Sampai di kantor, kata hubby banyak yang udah kasih selamat. Tapi berhubung hubby harus meeting, dia langsung teriak " silahkan ambil kuenya ya " trus langsung meeting.

Saat makan siang kue ludes. Kata hubby ada yang udah makan 2-3-4 buah. Teman-teman dari departemen lain juga ikutan ngambil dan meninggalkan ucapan selamat dan terimakasih via SMS atau BBM.

Lucunya ada yang udah pake nanya harga aja kalau misalnya saya mau jualan. Trus ada juga yang walaupun udah makan dua buah, saat melihat hubby masih menyimpan 1 macaroni schotel di mejanya, si teman ini bertanya " maaf pak, itu macaroni schotelnya masih mau ga? kalau engga buat saya aja ". Waktu hubby tanya apa tadi dia belum kebagian, dia bilang udah makan 2. Tapi berhubung enak dia masih mau lagi. Hahahaha.....

Dulu saya pengen banget punya usaha kue. Kayaknya lucu juga ya?? Belajar lagi aaaahhh....

Saat Sabar lagi dicoba

Sebagai orang yang punya tingkat kesabaran sangat tipis.... beberapa waktu yang lalu Tuhan menguji tingkat kesabaran saya. Sebenarnya engga heboh-heboh amat mengingat kalau dibandingkan orang lain, ujian saya kemaren gak ada apa-apanya. Tapi buat saya si Miss Heboh ini??

Saya sampe senewen. Pokoknya antara mau ngamuk sama berusaha sabar rasanya gonta-ganti. Berulang kali BBM sampe nelpon hubby, jawabnya cuma " sabar... istigfar ". Haduuuhh...

Trus saya diam dan bolak balik tarik nafas panjang. Menyemangati diri sendiri yang nyaris pecah amarahnya. " Yuk, kamu pasti bisa. Bismillah... " sambil inhale-exhale diselingi zikir berulangkali. Akhirnya saya bisa sabar juga.

Waktu saya cerita ke beberapa orang, mereka bilang ini adalah ujian dari Allah kepada saya. Apalagi saya masih newbie dalam berhijab. Sesekali pasti ada aja gangguannya. " Banyakin zikir aja.... " demikian nasehat seorang teman. Saya lakukan apa yang ia nasehatkan kepada saya dan ampuh!!!

Pelan-pelan tingkat kesabaran saya kembali mulai menebal. Kalau mulai drop lagi, buru-buru zikir sambil tarik nafas panjang.
Ada yang bilang mau naik kelas tuh. Insya Allah.... Tapi tiap kali shalat dan berdoa, salah satu permintaan yang sering saya panjatkan kepada Allah adalah " tolong jangan berikan saya cobaan yang melebihi batas kemampuan saya ". Tapi Allah mungkin sesekali mengujinya sedikit. Kalau saya beneran bertaqwa kepada-Nya, pada saat cobaan datang, saya akan lebih dekat lagi pada-Nya bukannya malah menjauhi-Nya.

Ya Allah.... berikan kesabaran pada hamba.....

Sunday, May 27, 2012

Tanah Abang

Kapan terakhir ke Tanah Abang?
Kalo lewat aja sih sering waktu masih ngantor di Sudirman. Kan kereta Sudirman Express yang saya naikin pasti transit di Tanah Abang. Tapi, kapan terakhir shopping di Tanah Abang? Kalau ga salah sih beberapa tahun lalu, rame-rame perginya sama mama dan adik serta suami. Ceritanya nyari baju lebaran. Tapi abis itu tradisi ke Tanah Abang hilang dan saya praktis ga pernah nginjek-injek pasar Tanah Abang lagi.


Ceritanya seorang teman ngajakin saya ke Tanah Abang. Dia nyari bahan kebaya trus ngerayu saya " kan elu mau nyari-nyari kerudung? " Yuk ke Tanah Abang aja " katanya sambil ngedip-ngedip.
Ya udah saya mau. Langsung minta izin suami dan janjian deh sama si temen.


Kebetulan kita sama-sama anak Bintaro, jadi kita bisa berangkatnya naik kereta. Sengaja naik jam 08.30 dengan harapan keretanya udah ga penuh-penuh amat. Tetapi semenjak Sudirman Express ditiadakan dan berganti dengan Commuter Line. Jadilah kereta berAC tersebut tetap terasa sauna. Tapi gak apa, dibandingin harus naik bis? Belum macetnya, belum harus turun naik gonta ganti bis. Biar sumpek, kereta lebih cepat dan jam 9 lewat saya sudah sampai di Stasiun Tanah Abang.


Berhubung santai, saya dan teman ga ikutan berdesak-desakan ditangga peron. Saat semua orang sibuk dorong-dorongan, saya milih nunggu dulu. Baru pas tangga keluar udah sepi, saya dan teman keluar dari stasiun.


Dari stasiun ada gang senggol untuk tembus ke arah pasar. Di gang senggol ini udah ada banyak lapak yang jualan. Baju, sepatu, kerudung sampai pakaian dalam. Kita jalan terus sampai ujung gang senggol.
Berhubung teman saya mau beli bahan kebaya kita menuju Blok A Pasar Tanah Abang. Sama seperti di gang senggol tadi, jalan menuju arah Blok A penuh dengan lapak-lapak. Bandana kerudung yang biasa dijual di bazaar seharga 20ribuan/buah, disini bisa dapat 2. Ada yang 5ribuan, 10 ribuan/2 buah. Saya langsung gatel buat beli. Buat bandana dan ciput, total kerusakan saya sekitar 50 ribu rupiah. Tapi dapatnya sampai 7 buah.
Abis itu giliran kerudung. Di Tanah Abang mau cari kerudung apa aja ada. Yang ada hiasan koin-koin, bola-bola, kerudung paris, pashmina berbagai corak tersedia. Saya beli 3 kerudung paris polos dengan harga 7000/buah warna yang saya ambil orange, ungu tua dan coklat muda. Abis itu kerudung segitiga motif ada yang pakai hiasan bola, ada yang pakai hiasan koin. Harganya 12 ribuan (di bazaar dibandrol harga 20-25ribuan). Saya beli beberapa dari beberapa lapak. Ada juga yang belinya grosiran bareng temen saya (kebetulan dia juga pakai hijab) sehingga lebih murah lagi. Trus beli pashmina blink-blink buat pesta, dapat murah cuma 20ribu, saya ambil warna hitam dan abu-abu silver.
Abis itu saya beli manset. Manset ini dalaman baju. Berhubung saya cuma punya 3 manset (hitam, coklat kulit dan abu-abu tua). Saya pilih manset warna putih, abu-abu muda dan coklat tua.
Setelah itu perjalanan kami lanjutkan didalam gedung pasar Blok A buat mencari bahan kebaya teman saya. Sempat liat-liat beberapa toko akhirnya ditoko terakhir dia mutusin beli kebaya yang udah jadi aja daripada ribet mesti jahit lagi. Dua kebaya dia pilih berikut manset yang sudah dimodifikasi dengan total kerusakan 470ribuan. Saya baru ngeh, ternyata banyak juga toko yang menawarkan kebaya yang sudah jadi dengan berbagai model. Bahkan menurut penjaga toko banyak langganannya adalah salon yang menyewakan kebaya untuk pengantin. Pokoknya lengkap deh. Mau yang bagian belakang kebayanya menjuntai panjang ada. Mau yang lehernya ada kayak kerah sayapnya juga ada. Mau warna apa aja komplit tersedia. Jangan takut, mereka juga menyediakan beskap dengan warna senada untuk pengantin prianya lengkap dengan selop hingga topinya.


Jam 12 kita makan siang dulu di food court Blok A lantai 8. Setelah makan dan istirahat, lanjut lagi wisata belanjanya. Tujuan selanjutnya ke toko perlengkapan haji buat beli celana serut buat hubby. Dapat dengan harga 50ribu. Trus kita nyari baju. Saya sih ga niat beli baju kemarin cuma mau beli kerudung aja. Tapi berhubung ada sale baju-baju murah saya ikutan beli. Baju dengan lengan batwing @ 50ribuan. Saya juga beli dress panjang dengan harga yang sama. Teman saya juga ikut-ikutan.Saya bilang buat nambah-nambahin baju saya berhubung hijabers pemula, banyak baju-baju saya yang belum pas. Apalagi kemarin pas mutusin berhijab, saya sempat ngosongin lemari. Ngeluarin baju-baju lama yang dirasa ga pas lagi (tank top dan sejenisnya). Jadi boleh dong diisi lagi hehehehe....


Berhubung udah sama-sama cape kita mutusin pulang. Sambil jalan balik ke stasiun Tanah Abang, kita masih beli bros peniti buat hijab dengan harga 10ribu / 4buah. Saya ambil 2, teman saya 2.
Sampe distasiun udah ada kereta ekonomi jurusan serpong. Buru-buru beli karcis dan naik kereta. Alhamdulillah dapat tempat duduk. Jam 14.30 saya udah sampe dirumah lagi. Hubby aja sampe kaget, dia kira saya bakalan sampe rumah sekitar jam 5 sore.


Total kerusakan? sekitar 350 ribu rupiah.
Resultnya? 1 buah dress, 1 buah baju lengan batwing, 6 bandana (sudah termasuk ciput juga), 3 jilbab paris polos, 3 manset, 1 celana haji buah hubby, 2 pashmina blink-blink, 2 kerudung segitiga, 6 kerudung segi empat motif, seporsi mie yamin Bandung + Teh Botol, tiket kereta PP (Commuter Line dan Ekonomi), Ojek.


Sampe rumah saya langsung mencuci hasil belanjaan saya supaya weekend bisa dipakai. Trus telpon-telponan sama teman yang juga melakukan hal yang sama (kecuali kebaya yang akan dia masukkan ke laundry). Terakhir dia ngomong " bulan depan wisata belanja lagi yuk ". Dalam hati saya jawab " liat nanti ya, Insya Allah kalau ada rejeki kita wisata belanja lagi "


Yang bikin saya senang sih koleksi kerudung saya jadi makin banyak. Hmmm.... kayaknya udah cukup deh saat ini belanja kerudungnya.

Monday, May 21, 2012

Hubungan Tanpa Status

HTS atau Hubungan Tanpa Status lagi beredar di Facebook saya. Salah seorang teman di Facebook saya yang masih ABG dan kebetulan adalah keponakan dari seorang teman saya sedang menjalani hubungan tanpa statusnya. Hampir tiap hari dia mengupdate kelanjutan hubungannya tersebut. Memang dia tidak mengungkapkannya dengan terbuka, tapi sejak awal karena kebetulan saya membaca status-statusnya. Saya jadi bisa menangkap makna yang ia tulis pada tiap status Facebooknya.

Jauh sebelum saya menikah dulu, saya pernah duduk, ngobrol sambil menikmati makan malam bersama seorang teman disebuah restaurant di sebuah mall di Jakarta. Waktu itu status saya sedang jomblo sementara teman saya sedang membina hubungan barunya.
Sebagai orang yang sedang menderita akibat jomblo (lebay....) dia pun mau menghibur saya. Lalu kita ngobrol ngalor-ngidul. Sebagai sama-sama orang yang sudah memasuki usia "wajib menikah" otomatis pertanyaan berikut terlontar dari mulut saya.
" Jadi sama yang ini serius ya? Kalau gitu sebentar lagi elu nikah ya sama dia? ". Trus teman saya diam. Loh??
" Gue sih lagi HTS-an sama dia. Gak tau deh lanjut apa engga " jawabnya pendek.

Sekarang giliran saya yang bingung. HTS? Apa sih? Lalu dengan sabar teman saya menjelaskan singkatan aneh tersebut.
" Gue lagi HTS-an sama dia. HTS itu Hubungan Tanpa Status. Kita engga pernah declare kalau kita jadian tapi kita dekat aja kayak pacaran. Makanya gue engga tahu apakah hubungan ini bakal berlanjut lebih serius atau engga. Namanya juga HTS " jelasnya.
Yang saya bingung. Udah tahu begitu kok masih dilanjutin sih? Sebagai orang yang sudah didesak-desak oleh orang tua untuk menikah, jenis hubungan seperti ini pasti akan saya jauhi. Ngapain juga nyusah-nyusahin diri? Ngabis-abisin waktu buat menjalani hubungan yang engga jelas juntrungannya?
" Soalnya gue dan dia ngerasa nyaman aja dengan hubungan ini "
Semakin dikasih jawaban menggantung begitu, saya juga semakin menjadi-jadi bertanya pada teman saya ini. Intinya, dia dan pasangannya merasa nyaman. Mereka pun sama-sama single. Jadi kalau pun berlanjut ya syukur, kalau tidak ya sudah. Simple.

Singkat cerita saya menikah duluan. Maklum udah kebelet nikah. Sementara teman saya ini masih santai dengan Hubungan Tanpa Statusnya. Waktu datang ke pernikahan saya, dia datang dengan si HTS.
Beberapa bulan setelah menikah, saya bertemu lagi dengan teman saya itu direstaurant yang sama. Saya memancingnya untuk menceritakan soal Hubungan Tanpa Statusnya, apakah sudah naik status menjadi HDS (Hubungan Dengan Status). Dia menggelengkan kepala. " Masih begini aja " jawabnya lagi.

Saya yang makin gregetan dan menghujaninya dengan cerita-cerita indah soal pernikahan. Tapi tampaknya dia tidak bergeming. Dengan dalih 'masih nyaman' dia masih tetap menjalankan HTSnya.

Beberapa tahun kemudian, sepucuk undangan saya terima. Teman saya akhirnya menikah. Dengan siapa dia menikah? Dengan si HTSnya ituuuu..... Aaahhh.... akhirnya naik pangkat juga si Status ini.
Dengan wajah berseri-seri dia mengucapkan terima kasih sewaktu saya menyalaminya diatas pelaminan. Setelah tiga tahun dijalani, akhirnya hubungan yang awalnya dia jalani tanpa status kini menjadi jelas. Statusnya mereka menjadi suami-istri yang syah secara agama dan negara.

Jadi nampaknya hubungan apapun namanya. Selama kita menjalankannya dengan yakin untuk mencapai satu tujuan yang baik pasti akan berakhir dengan baik pula. Selamat ya temanku sayang.

Buat teman ABG saya. Selagi masih muda, gak usahlah menjalani hubungan tanpa status ini. Jalani aja hubungan yang normal aja. Nikmati masa remaja. Nanti kalau kalian sudah mulai memasuki usia 'rawan' seperti saya dan teman saya dulu. Mulailah mencari hubungan yang jelas dan serius. Kalau masih mau menjalankan hubungan tanpa status seperti teman saya dulu? Silahkan aja. Yang penting kalian merasa nyaman, tahu baik-buruknya. Tapi kalau kalian udah sama-sama yakin, kenapa juga masih pasang status HTS? Mendingan buru-buru dinaikkan statusnya. Kalau udah begini enak, selain status udah jelas. udah resmi pula!

Friday, April 27, 2012

Berhijab

Bulan April ini ada satu hal baru yang terjadi pada saya, yaitu berhijab. Ya, sejak tanggal 14 April kemarin saya akhirnya memutuskan menggunakan hijab untuk menutup helai rambut saya.

Berhijab seringkali terlintas dikepala saya sejak tahun 1999 lalu, itulah saat pertama kalinya saya terlintas untuk berhijab. Awalnya karena saya memiliki seorang teman yang terlihat sangat cantik saat menggunakan hijab. Saya pun kepengen juga berhijab jadinya.
Tapi seiring berjalannya waktu, niat berhijab turun naik. Kadang pengen, tapi seringkali malah engga. Mungkin karena pekerjaan dan pergaulan.

Saya sempat ingin lagi berhijab tahun 2007. Tapi niat dimulut aja walaupun saat itu saya sempat beberapa kali membeli kerudung. Tapi berhubung tidak pernah dipakai akhirnya kerudungnya saya hibahkan ke teman/saudara yang memakai hijab.

Semenjak saya memutuskan berhenti bekerja, niat berhijab malah hilang sama sekali. Dan niat tersebut baru timbul mungkin sekitar 1-2 bulan sebelum akhirnya saya memutuskan berhijab.

Awalnya saya berkenalan dengan seorang teman baru dari komunitas hijabers. Kami bertemu disebuah mall. Lucunya saat itu kami bertemu berlima dan hanya saya seorang yang tidak memakai hijab. Teman-teman baru saya ini datang dengan pakaian muslim yang modis dan keren. Kami duduk dan ngobrol berjam-jam membicarakan banyak hal tapi malah tidak membicarakan soal hijab sama sekali.
Lalu kami saling bertukar account twitter dan saya mulai memfollow teman-teman baru ini. Lalu mereka seringkali memberikan account-account twitter Islami untuk saya follow.

Mungkin inilah hikmahnya saya berhenti bekerja. Saya bisa menikmati membaca twitter tentang Islam dengan tenang. Banyak hal yang akhirnya membuka mata saya. Sebelum saya memutuskan berhijab saya sempat ngobrol dengan ibu saya dan meminta izin pada suami. Lalu saya juga banyak berdiskusi dengan teman-teman baru saya. Niat saya semakin bulat. Mau berhijab.

Setelah izin dari suami dan support dari mama saya sudah saya dapat kembali saya bingung. Kapan memulainya?? Mungkin Allah mendengar isi hati saya dan saya membaca soal seminar mengenai halal di twitter. Seminar ini dilaksanakan pada tanggal 14 April di kantor utama Wardah Kosmetik di wilayah Jakarta Selatan. Untuk itu saya harus berhijab. Tapi saya baru menyadari, hijab saya cuma 1. Itu pun hijab yang saya dapatkan dari acara 40 hari meninggalnya om dari suami.
Lalu saya sempat membeli sebuah inner dan bandana juga sebuah kerudung berwarna pink. Setelah itu saya belajar memakai hijab dari mama. Besoknya saya memakai hijab dan menghadiri seminar tersebut. Selanjutnya Insya Allah hijabnya tidak dicopot-copot lagi alias terus terpasang dikepala saya. Amin.

Kali ini saya berhijab bukan cuma karena hijab dan baju muslim masa kini terlihat sangat cantik dan modis. Tapi mungkin 'sudah waktunya' bagi saya untuk akhirnya berhijab. Saat ini sudah tidak ada tekanan bagi saya untuk tidak menggunakan hijab. Saya tidak bekerja lagi. Jadi sebenarnya saya bisa berhijab kapan saja saya mau sekarang ini.

Sewaktu teman saya bertanya apakah saya sempat mengalami kontemplasi atau kejadian tertentu sebelum akhirnya memutuskan berhijab. Saya jawab tidak. Tidak ada kejadian apa-apa. Intinya, saya cuma pengen aja berhijab dan saya sudah berniat. Saya juga tidak mau Allah sampai harus menegur saya dengan keras supaya saya sadar. Maunya sih sebelum teguran Allah datang, saya sudah sadar hihihihi....
Hidayah bisa datang dari mana saja. Kalau saya, mungkin saya mendapat hidayah dari twitter.

Suami saya juga tidak kalah mendukung. Selain mendapat banyak kerudung dari hasil 'menguras' lemari mama saya. Suami juga membelikan beberapa kerudung baru. Dia juga sering mengingatkan kalau misalnya baju yang saya pakai terlalu ketat atau tidak sesuai.

Lalu ada juga cobaannya. Tapi saya sih berusaha menghadapi dengan tenang saja. Cobaan diawal memang banyak, kata teman saya. Kalau kita kuat dan bisa melewatinya, selanjutnya lancar. Jadilah saya sekarang Insya Allah sudah berhijab dan berniat akan berhijab terus sampai seterusnya. Doakan saya ya....

BBM Bahagia

Setelah saya menerima SMS yang menyakitkan. Beberapa hari kemudian saya menerima BBM dari seorang teman. Teman saya ini baru saja menikah untuk ke-2 kalinya beberapa bulan lalu. Pernikahan pertamanya dilakukan tahun 2003 tapi berakhir tahun 2007. Lalu ia menikah lagi tahun 2011 kemarin. Suatu ketika dia cerita ke saya bahwa sebentar lagi ia akan merayakan ulang tahun pernikahan ke-2nya yang pertama. Trus dia tanya ke saya," lu udah berapa tahun menikah? ". Saya baru menyadari, tahun ini adalah tahun ke-10 pernikahan saya dan suami.  Waktu saya bilang " 10 tahun ".Saya mendapat balasan BBM yang sangat menyejukkan hati.

Intinya teman saya memuji kehidupan saya. Bukan takabur, 10 tahun menikah banyak cobaan datang menghampiri. Tapi mungkin Allah masih sangat sayang pada saya dan tidak memberikan cobaan yang terlalu berat untuk saya dan suami hadapi.

Teman saya sering menjadikan saya sebagai acuan. Bagi teman saya, hidup saya seperti suami nampaknya asyik-asyik saja seperti orang yang masih pacaran. Sebenarnya ia pun tahu bahwa cobaan terbesar kami adalah soal anak. Tapi saya dan suami berusaha menjalankan hari-hari kami dengan gembira. Kalau kami selalu memikirkannya, bukan tidak mungkin malah bisa berimbas ke hal-hal yang lain dalam kehidupan kami.

" Gila ya Tan, 10 tahun. Semoga gue dan mas Rudi bisa mencapai 10 tahun seperti elu ya ".

Dear temanku sayang, saya akan mendoakan pernikahan kalian langgeng sampai kakek-nenek. Saya pun juga sering berdoa pada Allah SWT supaya Allah menguatkan tali pernikahan saya setiap saat. Amin